
Dibaca: 822
Komentar: 15
3 dari 3 Kompasianer menilai aktual
SBY/yayansah.wordpress.com
Sebagaimana jamak diketahui, Partai Demokrat sedang dirundung badai. Satu persatu kadernya ditetapkan sebagai tersangka korupsi, baik di daerah maupun di pusat. Ironisnya, moto yang selalu didengungkan oleh SBY selaku salah satu pendiri partai ini sekaligus Ketua Dewan Pembina kepada anak buahnya adalah politik yang bersih, cerdas, dan santun. Bukan hanya itu, beliau juga selalu mengatakan akan berada di garda atau barisan terdepan dalam memberantas korupsi.
Jika melihat perkembangan yang terjadi pada tubuh Partai Demokrat, termasuk berita Kompas pagi ini yang menyebutkan bahwa pengurus-pengurus partai di daerah mengakui adanya sejumlah uang yang mereka terima dari Anas Urbaningrum ataupun Andi Mallarangeng sebagai “fee” pemenangan dalam pemilihan Ketua Partai, maka saya pikir komitmen SBY untuk berdiri di barisan terdepan dalam upaya pemberantasan korupsi itu justru adalah kesalahan terbesar beliau.
Mengapa saya berpikir demikian? Sederhana saja. Jika saya berada di barisan terdepan, bagaimana mungkin saya bisa mengawasi anak buah saya yang sibuk korupsi di belakang saya? Dengan berada di barisan terdepan, SBY melewatkan pengawasan internal terhadap partainya sendiri. Beliau pikir, anak buahnya baik-baik saja, namun kita tahu bukan itu yang terjadi. SBY berpikir bahwa dengan citra partai yang bersih, cerdas, dan santun, beliau akan mampu memberantas korupsi. Sayangnya, partai yang dipimpinnya telah layu sebelum berkembang, bak pisau bedah yang berkarat sebelum digunakan!
Logika sederhana saya sih mengatakan, bahwa sebagai “pemilik” Partai Demokrat, SBY tentunya tahu bahwa ada kader-kadernya yang menyimpang dan ber-korupsi-ria. Ini saya asumsikan beliau benar-benar bersih dari korupsi. Seandainya SBY sebenarnya tahu borok-borok yang ada di tubuh partainya namun diam saja atau bersikap pasif dengan pernyataan-pernyataan seperti, “Kalau ada kader Demokrat yang terbukti korupsi, akan dipecat dan hukum tidak akan diintervensi.”
Seandainya benar SBY membenci korupsi dan tahu apa yang terjadi, tentulah beliau dengan sukarela akan menyerahkan kader-kadernya yang diketahuinya terindikasi melakukan korupsi kepada KPK. SBY juga semestinya membentuk tim baru (salah satu hobi beliau: membuat tim-tim baru) untuk menjadi semacam KPK bagi internal partai.
Nah, seandainya SBY membenci korupsi dan memang tidak tahu menahu mengenai tingkah polah kader-kadernya dalam menjaring uang haram, hal ini mengindikasikan bahwa beliau telah dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya sendiri. Citra positif yang hendak beliau bangun, baik lewat berbagai piagam penghargaan ataupun lagu-lagu yang beliau ciptakan, pelan tapi pasti tergerogoti oleh “kenakalan” anak buahnya sendiri.
Oleh karenanya, saran saya untuk SBY selaku pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat sederhana saja: membeli spion atau sesekali menengok ke belakang, agar tekad untuk menjadi pemimpin dalam pemberantasan korupsi dapat dicapai secara maksimal. Tentu akan menjadi hal yang ironis jika mobil pemadam kebakaran yang sedang melaju kencang menuju lokasi kebakaran justru terbakar api, bukan?