
pengamat tingkah laku binatang di indonesia dan pengamat lain2 | http://berita-kompas.blogspot.com
Dibaca: 3408
Komentar: 64
3 dari 6 Kompasianer menilai aktual
Ada yang menarik dari pernyataan Burhanudin Mutadi tadi sore ketika dimintai pendapat soal konfrensi pers KPK tentang penetapan angelina sondakh sebagai tersangka baru wisma atlet, yang intinya Burhanudin mengkritisi gaya bicara Abraham Samad yang di nilai tidak elegen dan melakukan ice breaking di waktu yang tidak tepat. Menariknya adalah Burhan yang selama ini saya kenal kerap mengkritisi politik pencitraan SBY yang mementingkan penampilan ketimbang substansi, kok pada kesempatan ini malah terbalik, yakni menuntut Abraham untuk lebih memerhatikan pencitraan ketimbang substansi.
Apa ada yang salah dengan penampilan Abraham Samad atau dengan gaya bicaranya? Saya menilai tidak. Walau memang mungkin penilaian saya tidak selevel dengan seorang Burhanudin Muhtadi karena Burhanudin adalah peneliti senior sementara saya sama sekali (bukan) peneliti junior. Atau dengan bahasa yang lebih membela diri, sudut pandang saya berbeda dengan sudut pandang Burhanudin Muhtadi.
Perhatikan, dengan gaya bersahaja, Abraham mengenakan kemeja lengan panjang polos warna biru, tanpa jas, tanpa dasi, menampilkan kesan “pekerja lapangan”. Di kepalanya terlihat mengenakan peci haji warna putih, kesanya religius dan santai tapi penting. Soal gaya bicara yang menurut Burhanudin banyak cengengesan, saya malah menilai sebagai sebuah ice breaker yang masih dalam batas toleransi yang tidak perlu di persoalkan. Mengingat substansi yang di sampaikan Abraham kali ini cukup membuat rakyat indonesia girang dan kembali menggantunkan sedikit asa pada lembaga KPK yang seolah hidup enggan mati tak mau ini.
Itu menarik yang pertama, yang kedua adalah, secara teori psikologi saya menyimpulkan emosi Burhanudin masih labil. Buktinya, sejak awal dia sudah on the track ngomong soal substansi konfrensi pers KPK, dengan berbagai analisa khasnya yang intinya terus mendesak dan mendukung KPK agar bekerja lebih giat. Lha di ahir-ahirnya kok dia malah mbahas masalah remeh temeh soal penampilan. Kecurigaan saya adalah Burhanudin terpengaruh total omongan Jonhson Panjaitan yang duduk bersebelahan dengannya yang memang sejak awal setengah mati ngotot ngomong soal keleletan KPK dan menyudutkan Abraham. Ini kan lucu, melihat semangat Jonhson Panjaitan tampaknya Burhanudin jadi ikut bernafsu mengkritik Abraham, berhubung bahan kritikan tidak ada ahirnya dia mengkritik ya soal itu tadi, remeh temeh.
Ngomong2 soal Johnson Panjaitan ini lebih menarik lagi. Saya tidak mengerti ada sentimen apa antara tuan Jonhson ini dengan Abraham Samad, umumnya dengan lembaga KPK. Di setiap statmentnya yang berapi2 niscaya kita temui kata-kata yang menjelekan dan mengkritisi kekurangan KPK, yang seolah tidak ada yang pantas memimpin KPK selain dirinya sendiri.
Kecurigaan saya adalah tuan Johnson ini memang sedang mengalami kecemburuan politik. Berhubung tahun lalu (2010) beliau juga sempat mendaptar sebagai calon ketua KPK yang kemudian sama sekali tidak dilirik oleh tim penyeleksi, yang kemudian “lari” ke Indonesian Police Watch (IPW). Sementara IPW sendiri kurang lebih “beraliran” sama dengan KPK cuma memang masih jauh soal level, gengsi, dan akses tentu saja. Maka tuan Jonhson jika di mintai komentar tentang kinerja KPK tidak pernah tidak jawabanya adalah, KPK lelet, brengsek semua orang KPK, KPK tidak becus dan sejenisnya.
Memang kita akui 99% fakta yang di opinikan tuan jonhson adalah benar terutama soal kebrengsekan dan ketidak becusan sebagian anggotanya. Yang saya tidak setuju adalah opininya tentang keleletan KPK. Jika di lihat dari kaca mata politik elit, Jonhson ini pantas di ketawai. Kenapa, karena seolah-2 cuma dia sendiri yang tau, bahwa fakta-fakta yang di kantongi KPK sudah lebih dari cukup untuk menetapkan Angelina Sondakh sebgai tersangka, atau fakta lainya untuk menetapkan anas urbaningrum sebagai tersangka. Kemudian seolah2 cuma dia sendiri yang tidak tau bahwa permainan politik elit bukan semata-mata soal adanya alat bukti atau tidak untuk menetapkan “orang penting” jadi tersangka, melainkan soal lobi politik, kemauan poltik, tawar menawar, dan daya tahan politik untuk tidak ikut hanyut kedalam “lingkaran setan” yang sedemikian deras itu.
Untuk menangangi kasus yang menyeret orang penting ini harus dengan slow motion. Kalau grusak grusuk seperti prinsip Jonhson Panjaitan maka kemungkinan ada dua, kalu tidak bernasip seperti Antasari Azahar maka bernasib seperti Nasrudin Zulkarnen. Nah itu yang di fahami betul oleh Abraham Samad, dia memilih langkah perlahan namun pasti. Setidakya bisa kita rasakan mulai berhembusnya angin segar, misanya dengan tertangkapnya Nunun, mulai jelas dan terarahnya nyanyian nasarudin yang berbuah penetapan Angelina sebgai tersangka. Dan menurut Abraham sendiri ini adalah “pintu” untuk membongkar kasus lebih besar. Kalau ngomong soal pintu maka kita wajib optimis. Kalau toh nanti pintunya gak terbuka2 juga, kita tinggal banting itu pintu ke wajah Abraham samad.
Namun, sejauh ini saya menilai kinerja Abraham (bukan KPK) cukup maksimal. Bahkan dulu ketika kemunculan Abraham yang terkesan tiba2 cukup memberikan wangsit bahwa sosoknya kali ini akan jadi pendobrak. Kenapa saya katakan cukup maksimal, karena perlu diketahui, bahwa seperti katakan Jonhson Panjaitan, KPK itu di huni orang2 brengsek muka lama. di tengah para brengsek2 musuh dalam selimut inilah Abraham harus berjuang.
Dengan hasil konsisten yang di tunjukan KPK minimal kita bisa kembali menggantungkan harapan. Dan terus kasih dukungan buat KPK untuk kerja lebih profesional, tidak semata menelan mentah2 kritikan Jonhson Panjaitan, terlebih kritikan Burhanudin Muhtadi soal jangan cengegesan. Kerena bagaimanapun, lebih baik nonton Abraham Samad yang ngomong santai sambil cengengesan tapi yang dia sampaikan soal penetapan Angelina sondakh sbg tersangka, ketimbang nonton Busyro Muqodas dengan gaya necis ala bos-bos,plus gaya gagah ala SBY tapi yang dia sampaikan adalah Anas Urbaningrum tidak terlibat soal wisma atlet, ini kan gawat!?