
Dibaca: 101
Komentar: 1
1 dari 1 Kompasianer menilai aktual
Anggaran negara di negeri ini ibarat makanan lezat yang mengundang banyak orang untuk menyantapnya. Sejatinya anggran ini disediakan untuk kepentingan bersama, untuk seluruh rakyat Indonesia, khususnya tentu orang-orang yang masih menderita, agar mereka bisa naik satu tingkat menjadi sejahtera. Kalau banyak orang miskin dan menderita di negeri ini tentu adalah tugas pemerintah untuk membantu mereka mendapatkan hidup yang lebih layak dan alat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat itu melalui anggaran negara baik itu yang ada di APBN maupun yang ada di APBD.
Angaran yang di kelola negara sejatinya adalah milik rakyat Indonesia karena ia dikumpulkan dari kekayaan alam yang ada di bumi Indonesia juga dari pajak-pajak yang dikumpulkan dari rakyat Indonesia. Dinegara-negara maju anggran negara terserap untuk rakyatnya, sehingga mereka bisa merasakan jalanan yang aman dengan pedisiran yang membuat pejalan kaki nyaman,mereka bisa merasakan sistem transportasi yang memanusiakan manusia, sistem kesehatan yang mencegah orang bangkrut bila sakit,sistem pendidikan yang bisa membuat semua orang mampu untuk bersekolah, yah semua hal yang membuat rakyatnya ngak terlalu sakit hati dengan pemerintahnya.
Di kita lain hal, anggaran yang semakin besar yang jumlahnya sudah ribuan trilyun, tidak mengatrol perbaikan fasilitas publik dan kesejahteraan rakyatnya. Nyatanya angaran yang ada bukan hanya banyak yang tidak tepat sasaran tapi juga dijadikan bancakan, sehingga rakyatnya hanya mendapatkan ampas-ampasnya.
Bancakan yah bancakan, karena angaran negara diangap makanan lezat, yang mengundang nafsu khususnya politikus dan birokrat yang tidak mampu menahan hawa nafsunya untuk tidak menyantapnya. Mereka, politisi dan birokrat yang seharusnya menjadi malaikat ternyata malah menjadi setan yang dengan rakusnya menyantap hidangan yang disediakan untuk banyak oarang,untuk rakyat Indonesia. Rakusnya mereka sudah tidak ketulungan, segala cara dilakukan untuk menggrogoti uang negaran demi diri, keluarga dan kelompoknya.Banyak cara,modus dilakukan oleh kalangan birokrat dan politisi yang kebetulan mempunyai power untuk mengumpulkan, membagi dan menggunakan angaran tersebut mulai dari cara yang biasa sampai sangat canggih demi mendapatkan keuntungan. Luar biasa cara birokrat dan politisisi ini, sampai-sampai kita pun kebingungan bagaimana mungkin mereka bisa melakukan itu. Kemana larinya akal sehat dan nurani mereka?. Tidak ingatkah meraka mempunyai anak dan cucu yang suatu saat terkena dampak dari tindakan mereka.
Kita bisa melihat sekarang, perlahan-lahan kita bisa rasakan, coba lihat soal transportasi saja, begitu banyak nyawa yang berterbangan di jalan karana ketidakpedulian penguasa membangun sistem transoptasi dijalan ataupun mengkorup proyek-preyek transportasi dari yang seharusnya. Maaf yah, bukan mendoakan yakinlah suatu saat Tuhan akan menghukum, kalau selama ini yang menjadi korban yah rakyat kecil, bisa saja suatu saat hal itu terjadi pada anak atau cucu presiden, menteri,gubernur, walikota ataupun pejabat lainya. Mungkin kalau ini terjadi mereka baru merasakan.
Sekarang banyak orang khawatir, menjelang pemilu 2014 nanti, banyak politikus yang sudah bersiap mengumpulkan uang dan ini dimulai ditahun ini, tahun 2012, hal ini dilakukan oleh mereka demi persiapan untuk menjadi calon legislatif maupun bertarung di dalam pemilihan presiden. Nah satu-satunya cara yang mudah dan hasilnya besar yah dengan mengakali anggran negara. Di dalam kasus lokal sudah terlihat, dimana menjelang pemilihan bupati/walikota dan gubernur ternyata angaran untuk dana bansos meningkat tajam,ini terjadi karena pejabat yang akan mencalonkan kembali membagi-bagikan dana bansos untuk lembaga-lembaga sosial yang ada di daerahnya, yang tenyata lembaga-lembaga itu milik temannya, anaknya ataupun saudaranya yang akhirnya dikembalikan kecalon untuk dana kampanye.
Soal rakusnya penyelengara negara menyantap sendiri angaran untuk rakyatnya, banyak orang yang sudah mengeluh, berteriak, agar ini tidak terus terjadi. Semua, apakah itu tokoh agamawan,akademisi,LSM, media maupun rakyat kecil sudah menyuarakannya. Coba baca itu opini dikompas, hampir setiap hari isinya kritikan tentang betapa korupnya penyelengara negara yang mengabaikan rakyatnya, yang menzalimi rakyatnya sampai-sampai anak-anak kecil harus bersekolah dengan mempertaruhkan nyawa karena harus menyebrangi jembatan yang sudah hancur. Untung media memberitakan, sehingga malu pejabatnya. Tapi niat pejabat itu untuk memperbaiki jembatan itu sudah tidak tulus, tapi karena terpaksa. Coba hal ini di bawah ke nafsu para politisi dan birokrat di DPR, soal pembanguna gedung banggar, gila kan membangun ruangan kecil dengan angaran lebih dari 20 milyar, dengan kursi untuk anggota bangar yang persatuannya 24 juta.Dengan harga kursi yang diimpor dari jerman itu, memang uang rakyat pantas untuk nyamanin pantat anggota dewan itu, pasti ada korupsi di dalam proyek ini. Karena sudah ketahuan sibuk mereka lempar tanggung jawab. Politisi nyalahin birokrat, birokrat nayalahin politisi.
Kritikan orang terhadap pemerintah sangat wajar, karena pemerintah keasyikan dengan dirinya sendiri, yang seolah-olah berhasil,padahal rakyatnya menderita. Kalau rakyat tidak menderita tidak akan ada demo dimana-mana,marah dimana-mana. Ngapain sih demo buang-buang waktu saja.
Kemarin Yudi Latif menulis di kompas cetak.Tulisannya tentang Pemimpin.Ditulisannya, ia memuat kata-kata Agus salim salah satu pahlawan nasional yaitu Leiden is lijden yang artinya memimpin adalah menderita. Ditulis oleh Yudi, bahwa pemimpin dulu rela menderita demi melayani rakyatnya dimasa perjuangan. Berbeda dengan sekarang dimana para pejabat yang mengaku-ngaku pemimpin,ternyata takut menderita. Agar mereka tidak menderita mereka tidak malu menyantap makanan yang seharusnya buat rakyatnya. Bagi pemimpin sableng seperti ini harga diri mereka dinilai dari harta yang mereka miliki, dari rumah yang ditempati, mobil yang dinaiki dan dinegara mana anaknya disekolahkan. Perduli setan dengan penderitaan rakyatnya.
Tampaknya para pejabat publik di Indonesia apakah itu dari kalangan birokrat maupun politisi harus diajarkan tentang pengorbanan dan penderitaan, mereka seharusnya digilir untuk mengikuti pelatihan, bukan sekedar pelatihan kepemimpinan tapi juga pelatihan pengorbanan dan penderitaan. Mereka harus dimasukan ke sebuah hutan dengan dikasih jatah makanan hanya sekali sehari, bukan seperti sekarang yang pelatihan dan pertemuannya dihotel-hotel mewah.
Memang benar apa yang dikatakan Yudi Latif, tidak ada kemajuan bangsa tanpa pengorbanan kepemimpinan. Dan sebuah bangsa akan terus terpuruk bila pemimpinya terus -menerus mengorbanan rakyatnya.