Artikel

Politik

Andy Syoekry Amal

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Pendiri Situs Jejaring Sosial Statusbooks - www.statusbooks.com

Faktor Geopolitik di Pilkada Sulsel 2013


OPINI | 25 January 2012 | 07:44 Dibaca: 414   Komentar: 3   Nihil

Pilgub Sulsel rencananya akan digelar pada awal tahun 2013. Walaupun belum ada yang secara resmi menyatakan akan maju dalam pesta demokrasi lokal tersebut, tetapi suguhan baliho, berita koran dan diskusi di warung-warung kopi sudah menunjukkan siapa-siapa yang bakal ikut bertarung. Dari sejumlah nama yang marak diperbincangkan, dua di antaranya sangat menonjol, yaitu SYL (Syahrul Yasin Limpo ) dan IAS (Ilham Arief Sirajuddin). Keduanya kebetulan adalah ketua partai yang memiliki suara cukup besar pada pemilu lalu, Partai Golkar dan Partai Demokrat. Selain kedua nama tersebut, ikut pula diperbincangkan adalah AQM (Aziz Qahar Muzakkar), LAM ( Luthfi A.Mutty ), ARA (Andi Rudianto Asapa). Nama lain adalah AAN (Agus Arifin Nu’mang) fan MR (Moh. Roem), tetapi dua nama terakhir nampaknya hanya berani tampil sebagai Cawagub mendampingi SYL. Paling tidak itu terlihat dari foto diri di baliho mereka  yang selalu berada di samping kiri sang “Komandan”.

Geopolitik

Studi yang mengaitkan antara letak geografis suatu kawasan dengan kekuatan dan kekuasaan, yang kemudian dikenal sebagai geopolitik mulai muncul pada abad XVII. Beberapa pemikir terkenal geopolitik di antaranya Karl Haushofer (1869-1946) dengan teori Pan Region-nya, membagi dunia atas empat kawasan, yakni Pan Amerika, Pan Asia Timur,Pan Rusia-India, dan Pan Eropa-Afrika. Sir Halford Mackiner (1861-1947) membagi dunia dalam apa yang disebutnya sebagai Daerah Jantung (Hearthland), yaitu Kawasan Timur Tengah. Pemikir Geopolitik lainnya,Nicholas J.Spykman (1860-1943) yang terkenal dengan Teori Daerah Batas (Rimland Theory). Dengan teori tersebut Spykman membagi dunia dalam empat kawasan: Daerah Jantung (Hearthland), Bulan Sabit Dalam (Inner Crescent), Daerah Bulan Sabit Luar (Outer Crescent), dan Dunia Baru (Benua Amerika). Ketiganya berpendapat bawa faktor letak wilayah sangat penting dalam menyusun kekuatan dan untuk mempertahankan kekuasaan yang kemudian melahirkan analisis geostrategis. Jika pada mulanya geopilitik digunakan hanya dalam rangka hubungan internasional/politik internasional, maka dalam perkembangannya, geopolitik domestik, terutama yang berkaitan dengan suksesi. Dalam kaitan ini,anaisis geografis terutama dikaitkan peta etnografis suatu kawasan, seperti suku, adat istiadat, budaya,dan bahasa serta agama.

Geopolitik Sulsel

Secara geopolitik, Sulawesi Selatan dapat dibagi kedalam empat Kawasan: (1) Luwu Raya, (2) Bosowasi ( Bone, Soppeng, Wajo,  Sinjai), (3) Ajatappareng (Sidrap, Pare-Pare, Pinrang, dan Barru), dan (4) Kawasan Selatan-Selatan (Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto dan Bantaeng).  Daerah-daerah yang berada dalam Kawasan Bosowasi dan Ajatappareng secara administratif sudah terpisah sejak lama (sebelum kemerdekaan), namun secara kultural memiliki identitas sebagai komunitas Bugis. Sedangkan Kawasan Selatan-Selatan disatukan oleh identitas Makassar. Adapun administratif dalam 10 tahun terakhir, yakni sejak dimekarkannya Kabupaten Luwu Menjadi empat daerah otonom (Luwu, Lutra, Lutim, dan Kota Palopo). Dengan demikian, dari segi geopolitik, seharusnya Kawasan- kawasan lainnya. Sayangnya solidaritas ini nampaknya sulit dicapai.

Penyebabnya adalah pertama, jauh sebelum pemekaran, bahkan sejak zaman kerajaan, penduduk Luwu memang sudah sangat heterogen. Penduduk “asli “  Luwu terdiri atas 12 anak suku yang menggunakan 9 bahasa ibu.Mereka yang bermukim di daerah pegunungan umumnya beragama non muslim, sedangkan yang bermukim di daerah dataran rendah dan daerah pesisir pantai beragama Islam.

Kedua, pada masa penjajahan, wilayah Luwu telah menjadi derah tujuan transmigrasi. Penempatan transmigrasi kian meningkat pada masa Orba. Bahkan beberapa kecamatan yang ada di kawasan ini sebelumnya merupakan UPT ( Unit Pemukiman Transmigrasi). Karena itu tidaklah mengherankan jika penduduk kawasan ini sangat beragam baik dari segi suku, adat istiadat, budaya , bahasa maupun agama. Jika dibandingkan dengan kawasan lain, hanya di kawasan Luwu Raya bermukim penduduk asli dengan eks Timor-Timor dalam jumlah yang cukup besar. Demikian pula dengan penduduk yang beragama Hindu, dapat dipastikan hanya di kawasan ini yang memiliki penganut dengan jumlah yang cukup signifikan. Keragaman ini kian bertambah seiring dengan hadirnya pendatang baru untuk dari luar Sulsel.

Ketiga, seperti halnya di kawasan lainnya, Kawasan Luwu Raya juga terbelah berdasarkan afiliasi politik. Sebab seperti  diketahui, kebijakan massa mengambang yang diterapkan selama Orba yang tidak memungkinkan kepengurusan parpol menjajah hingga ke desa-desa kecuali Golkar tentunya, telah ditinggalkan seiring dengan tumbangnya rezim ORBA. Proses politisasi massa di era reformasi yang begitu gencar dilakukan oleh parpol hingga ke tingkat desa, telah membuat mayarakat terfragmentasi ke dalam berbagai warna politik.

Relevansi Geopolitik di Pilkada Sulsel

Walaupun isu geopolitik sudah menjadi wacana pada pilkada sebelumnya (2008), tetapi kali ini isu tersebut semakin kencang,terutama sejak munculnya nama LAM yang dianggap sebagai representasi Kawasan Luwu Raya bersama AQM. Anehnya , wacana geopolitik hanya kental dalam kaitan dengan kedua nama tersebut, LAM dan AQM. Ketika orang berbicara tentang IAS dan MS, begitu juga dengan ARA, hampir tidak pernah dikaitkan dengan isu geopolitik, padahal ketiganya berasal dari kawasan yang sama, yakni Bosowasi. Bahkan jika dipersempit lagi, IAS dan MR berasal dari Bone.  Begitupun dengan MR yang pernah menjadi Bupati Sinjai dua periode dan ARA yang ARA yang saat ini menjabat bupati Sinjai periode kedua, isu geopolitik tidak mengemuka.

Pertanyaannya sekarang, masih relevanah menjadikan geopolitik sebagai isu penting dalam rangka memenangkan pilgub Sulsel ? Menurut saya walaupun isu ini perlu sebagai sebuah pertimbangan, tetapi sudah tidak relevan  sebagai isu untuk mendulang suara. Alasan utamanya adalah seiring dengan tingkat kemajuan yang telah dicapai, mobilitas penduduk juga kian meningkat. Hal ini kemudian berdampak pada heterogenitas penduduk yang bermukim di suatu kawasan. Heterogenitas ini justru sangat dirasakan di Luwu Raya karena faktor-faktor yang saya uraikan tadi. Alasan lain adalah penduduk di suatu kawasan telah “terbelah” berdasarkan pertimbangan kepentingan masing-masing, baik politik, ekonomi,ataupun alasan lainnya seperti agama. Hal ini dibuktikan dari hasil Pilgub yang lalu.

Pasangan SAYANG ketika itu dapat dikatakan merupakan representasi kawasan Selatan-Selatan karena SYL satu-satunya Makassar yang maju dalam pilgub tetapi di Jeneponto pasangan SAYANG takluk dari Pasangan ASMARA meskipun berhasil menang tipis di Takalar. Sementara AAN sebagai pasangan SYL yang juga satu-satunya wakil dari kawasan Ajatappereng justru dipermalukan di “kandang “ sendiri. AAN kalah di Sidrap yang nota bene pernah dipimpin ayahnya selama lebih dua periode (12 tahun) sebagai bupati Sidrap. Pada saat pilkada berlangsung, kakaknya (Musafir Kelana ) malah sedang menjabat sebagai wakil bupati Sidrap. Mungkin banyak yang tidak mengetahui bahwa SYL yang selama ini dikenal sebagai orang Makassar, ibunya sesungguhnya berasal dari Sidrap. Kecuali di Barru, pasangan SAYANG yang di dalamnya ada AAN kalah telak di kawasan Ajatapereng. A.Rum, bupati dan sekaligus menjabat sebagai ketua Partai Golkar di Barru saat itu, justru cenderung lebih memilih berpihak kepada SAYANG karena faktor persahabatannya dengan SYL yang sudah terbangun sejak lama, meskipun itu dilakukan di bawah permukaan, ketimbang berusaha memenangkan ASMARA. Padahal AS ketika itu adalah ketua partai Golkar Provinsi Sulsel. MH yang orang Barru dan jadi pasangan AQM ternyata kalah di kandang sendiri.

Nasib yang sama juga dialami oleh pasangan ASMARA. Sebagai satu-satunya pasangan yang berasal dari kawasan Bosowasi, seharusnya mereka menyapu bersih di kawasan ini, namun ternyata itu tidak terjadi . Pasangan SAYANG tetap meraih suara yang cukup bermakna di beberapa daerah di kawasan ini sehingga memuluskan jalan bagi mereka untuk memnangkan pilgub. Padahal harus diingat bahwa Mansyur Ramli yang dikenal sebagai WTL (Wija To Luwu) dan menjadi pendamping Amin Syam ketika itu, ayahnya berasal dari Bone (Kajuara), walaupun ibunya memang dari Luwu (Malangke). Pelajaran lain yang diperoleh dari kekalahan pasangan ASMARA adalah dukungan partai besar tidak cukup menjamin suatu kemenangan. Kekalahan pasangan ASMARA membuktikan hal itu.

Adapun pasangan AQM – MH yang merupakan representasi kawasan Luwu Raya juga mengalami nasib yang sama, dia tidak berjaya di kampung sendiri. Pasangan ASMARA menang di Luwu Timur, sedangkan pasangan SAYANG menang mutlak di Luwu Utara, AQM – MH hanya menang tipis di Luwu dan Kota Palopo. Ada beberapa faktor mengapa AQM-MH tidak dapat menyapu bersih suara di kawasan Tana Luwu. Kekalahan di Luwu Timur disebabkan oleh beberapa faktor:

Pertama, peristiwa bumi hangus Wotu dan Malili pada masa pemberontakan DI/TII di bawah pimpinan Kahar Muzakkar, ayah AQM. Masih tertanam kuat di ingatan warga, utamanya para orang tua. Peristiwa yang menelan banyak korban harta dan nyawa itu sangat membekas dalam pikiran dan menjadi ingatan kolektif masyarakat di sana.

Kedua, Andi Hasan selaku ketua Partai Golkar saat itu selain dikenal sangat loyal pada partai, juga tentu tidak dapat dipungkiri bahwa ia masih punya trauma atas bumi hangus Malili. Peristiwa itu menyebabkan Andi Nyiwi, kakaknya sendiri yang saat itu menjabat sebagai “Mincara”, setingkat camat menjadi korban. Andi Nyiwi rela menyerahkan diri kepada DI/TII untuk menjadi “tumbal” demi menyelamatkan  nyawa ribuan rakyatnya. Sebagai penghormatan atas tindakan patriotiknya itu, maka ruas jalan utama di kota Malili, begitu pula dengan lapangan sepak bola yang ada di tengah kota diberi nama Andi Nyiwi.

Ketiga, di Lutim terdapat banyak kantong-kantong pemukiman orang Toraja yang umumnya beragam Kristen dan penganut agama Hindu warga transmigrasi asal Bali. Di daerah ini juga banyak bermukim penduduk asli Luwu (Suku Padoe, dan Panoma) yang beragama Kristen, yang pada masa DI/TII sebagai besar dari mereka pernah mengungsi ke Sulteng. Mereka itu dapat dipastikan akan memilih pasangan lain. Adapun penyebab kekalahan AQM-MH di Luwu Utara faktor utamanya selain karena dukungan terbuka Bupati Lutra saat itu, Lutfi A.Mutty kepada pasangan SAYANG, juga terdapat 2 kecamatan di pengunungan (Seko dan Rampi) yang penduduknya mayoritas beragam Kristen. Di Kawasan Tana Luwu, AQM-MH Hanya menang tipis atas ASMARA di Luwu. Kemenangan ini tidak terlepas dari apriori masyarakat terhadap Bupati Luwu saat itu, Basmin Mattayang yang juga menjabat sebagai Ketua Partai Golkar. Artinya, ketidaksukaan mereka kepada bupati yang secara terbuka mendukung pasangan ASMARA justru memberi  peluang bagi kemenangan pasangan AQM-MH. Hal itu terbukti kemudian takkala Basmin Mattayang sebagai incumbent, kalah dalam pilkada yang berlangsung beberapa waktu setelah pilgub, meskipun ia berpasangan denga Buhari Kahar Muzakkar, Kakak kandung AQM. Faktor lain yang membuat AQM-MH menang di Luwu adalah karena daerah ini merupakan kampung halaman Kahar Muzakkar. AQM-MH juga menang tipis dari kota Palopo karena di kota ini Tim Pejuang AQM cukup solid dan sangat miliant dalam memenagkan pasangan ini.

Toraja sebagai faktor kemenangan SAYANG

Secara geopolitik wilayah Toraja dapat dimasukkan ke dalam Kawasan Luwu Raya. Sedangkan secara historis, Toraja pernah menjadi bagian dari Kerajaan Luwu dan juga menjadi bagian dari kabupaten Luwu. Toraja baru terpisah secara administratif dari Luwu ketika berdiri sendiri menjadi sebuah kabupaten pada tahun 1959. Secara kultural Toraja sangat spesifik sehingga oleh Van Vollenhoven diklasifikasikan sebagai sebuah masyarakat Hukum Adat tersendiri yang berbeda dengan Luwu. Selain itu, dari aspek religi juga berbeda dengan Luwu. Jika matoritas masyarakat Luwu beragama Islam, maka orang Toraja mayoritas beragama Nasrani di samping tetap memelihara kepercayaan nenek moyangnya yang disebut dengan Aluk Todolo.

Dari hasil perolehan suara SAYANG pada pilgub lalu diketahui bahwa terdapat empat daerah di mana pasangan ini menang mutlak, yakni Gowa, Bantaeng, Luwu Utara dan Toraja. Jika pasangan ini menang mutlak di Gowa tentu tidak mengherankan, karena selain dikenal sebagai kampung halaman SYL, dia juga pernah berkarier di sini, mulai dari camat, Sekda hingga menjadi Bupati dua periode. Selain itu, ketika pilgub berlangsung adik kandung SYL, Ichsan Yasin Limpo sedang menjabat sebagai Bupati Gowa. Sedangkan kemenangannya di Bantaeng tidak lepas dari dukungan penuh Bupati Azikin Solthan. Demikian juga dengan kemenangannya di Luwu Utara. Menurut saya, kedua bupati tersebut begitu ngotot mendukung pasangan SAYANG karena mereka nampaknya mempunyai ikatan persahabatan yang kental, bukan karena faktor geopolitik. Jika memang demikian maka faktor persahabatan cukup penting untuk diperhitungkan ketimbang faktor geopolitik dalam menganalisis peluang memenangkan pilgub.

Yang sangat fenomenal adalah kemenangan mutlak SAYANG di Toraja hingga mencapai 80% perolehan suara. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini telah menjadi penentu kemenangan pasangan SAYANG.Padahal sepanjang yang saya ketahui, SAYANG tidak terlalu intens menggarap Toraja ketika itu. Pertanyaanya kemudian adalah apa yang menyebabkan SAYANG menang mutlak di Toraja? Pertama, seperti yang saya sebutkan di atas, mayoritas masyarakat Toraja beragama non muslim. Mereka sudah pasti tidak akan memilih AQM-MH yang dikenal sebagai ketua KPSSI. Mereka tentu khawatir kemenangan AQM-MH akan membuka jalan pemberlakuan Syariat Islam di Sulsel. Kedua, masyarakat Toraja juga tidak akan memilih pasangan ASMARA Karena, ketika terjadi penggayangan gereja di Makassar yang dimotori olek Mahasiswa UMI beberapa waktu sebelumnya, Rektor UMI ketika itu adalah MR, calon wagub pasangan ASMARA. Dengan demikian maka kemenangan SAYANG di daerah ini bukan karena mereka memang menyukai dan menginginkan SAYANG menjadi gubernur, melainkan karena masyarakat Toraja dihadapkan pada tidak ada pilihan lain kecuali memilih SAYANG.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor geopolitik sudah tidak relevan lagi untuk menjadi penentu kemenangan pasangan cagub. Apa betul? Kita tunggu hasilnya tahun depan.

(artikel ini dimuat jg di Harian Fajar Makassar, 25 Januari 2012)

A. Syoekry Amal adalah pendiri situs jejaring sosial  www.statusbooks.com

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: