
Dibaca: 88
Komentar: 0
Nihil
Apa yang kita harapkan dari seorang pemimpin publik di Indonesia? tentu jawabannya bisa berbeda-beda tergantung apa kepentingan kita berada di bawah kepemimpinanan seseorang. Namun walaupun berbeda harapan, semua perbedaan itu jelas mengarah kepada keinginan adanya sebuah perubahan. Dari miskin menjadi kaya, dari susah makan menjadi mudah makan, dari tidak aman menjadi aman, dari tidak nyaman menjadi nyaman, dari banyak korupsi menjadi sedikit korupsi dari dibodohin bangsa lain menjadi dihargain bangsa lain. Yah semua bergerak dari keadaan yang tidak diinginkan menjadi keadaan yang diinginkan, dari situasi buruk disaat ini menjadi situasi yang lebih baik dimasa depan. Melakukan perubahan memang tugas utama seorang pemimpin.Jadi kalau seseorang mengaku-ngaku seorang pemimpin, tetapi tidak mampu melakukan perubahan ia tidak bisa dikatakan seorang pemimpin.
Melakukan perubahan tidaklah mudah, seorang pemimpin harus siap menghadapi berbagai kendala teknis dan berbagai tentangan terhadap perubahan yang ia cita-citakan. Didalam sebuah perubahan para pemimpin harus mendisain ulang organisasinya (strategi, struktur, teknologi, produk/jasa) , membangun manusianya ( kapasitas dan mentalnya) dan juga berstrategi terhadap penentangan yang dilakukan kelompok status qua yang selama ini diuntungkan dengan carut marut dengan keadaan yang terjadi. Karena tidak mudah, maka tidak semua orang mampu melakukan perubahan. Oleh karena itu, seharusnya tidak begitu mudah bagi seseorang untuk unjuk tangan mengaku-ngaku seorang pemimpin yang bisa melakukan perubahan.
Dalam konteks kepemimpinan di Indonesia, khususnya kepemimpinan publik di era demokrasi ini,kondisi yang terjadi adalah yang sebaliknya kita di buat terkaget-kaget dengan begitu banyaknya orang yang mengacungkan tangan berteriak sebagai seorang pemimpin dan siap melakukan perubahan. Mereka berserak di Jakarta maupun didaerah-daerah yang begitu bernafsu memegang jabatan-jabatan publik yang dipertaruhkan dalam sebuah kompetisi terbuka. Satu atau puluhan atau ratusan dari mereka akhirnya terpilih, baik dengan cara jujur, manipulatif ataupun juga dengan cara memanfaatkan keluguan dan kebodohan masyarakat.
Sekedar Mengelola
Apa yang terjadi sekarang?. Apakah kepuasaan dirasakan masyarakat yang memilih mereka?. Jelas secara umum baik di daerah maupun di pusat masyarakat kecewa dengan kondisi yang terjadi saat ini. Karena niat mereka untuk menjadi pemimpin publik tidak semuanya tulus. Keinginan sebagian besar mereka menjadi pejabat publik hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya semata. Sehingga yang menyakitkan di Indonesia ini, perubahan tidak terjadi dimasyarakatnya tetapi dielit-elitnya.
Elit-elit itu, mungkin sebagian besarnya adalah orang-orang yang terpinggirkan dan tidak merasakan nikmatnya kekuasaan diera rezim suharto, sebagian lagi adalah orang-orang instan yang kebetulan memperoleh manfaat dari momentum reformasi, yang sekarang terus berteriak dan mengacung-ngacungkan dirinya sebagai seorang pemimpin, mereka inilah orang-orang yang sering membicarakan kepemimpinan tapi sedikit yang mengerti, orang-orang yang menginginkan kepemimpinan tetapi sedikit yang mendapatkan. Itulah kepemimpinan publik di Indonesia saat ini.
Mereka, hanya menjadi pejabat publik, bukan pemimpin publik. Apa yang mereka lakukan hanya mengelola keadaan bukan melakukan perubahan. Mereka cuma berperan sebagai manajer bukan pemimpin. Kondisinya kalau mereka hanya sekedar mengelola yang terjadi adalah yang buruk tetap buruk, tidak menjadi baik , yang baik tetap menjadi baik, tidak menjadi sangat baik, parahnya adalah kalau kondisi yang baik malah menjadi buruk. Orang yang terakhir ini, bukan pemimpin, bukan pula manajer yang baik. Orang seperti ini, jangankan melakukan perubahan,mempertahankan apa yang telah ada pun gagal. Mereka ini sekarang ada, didalam lapisan-lapisan kekuasaan publik di Indonesia. Jadi, jangan terperdaya oleh mereka, oleh orang-orang yang mengacung-acungkan tangan sebagai pemimpin. Hati-hati memilih , karena akan lelah melihat perilaku mereka.