Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ira Oemar

Live your life in such a way so that you will never been afraid of selengkapnya

Tuduhan Hedonis Itu Mengejawantah dalam Perhelatan 40 Milyar

OPINI | 24 November 2011 | 22:35 Dibaca: 1084   Komentar: 8   0

Pak Busyro mungkin bisa tersenyum lega sambil menunjukkan pada Marzuki Alie bahwa sinyalemennya tentang gaya hidup hedonis anggota DPR dan para pejabat negara, ternyata memang tidak salah. Tengok saja rangkaian upacara pernikahan Edhie Baskoro, anggota DPR sekaligus putra bungsu Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, dengan Siti Rubi Aliya Rajasa, putri Menko Perekonomian Hatta Rajasa.13221272347576865191322127284243365188Pernikahan yang kabarnya menelan biaya 40 milyar ini sulit dipungkiri bahwa ada banyak kemewahan di dalamnya. Angka 40 milyar bisa saja salah, tapi mari kita hitung kasar secara logis. Rangkaian pernikahan itu terdiri dari 5 acara di 5 tempat berbeda . Pengajian dilanjutkan siraman di rumah orang tua Aliya, siraman di rumah orang tua Ibas, midodareni dilanjutkan malam berpacar di rumah orang tua Aliya, akad nikah di Istana Cipanas dan diakhiri dengan gelaran resepsi di JCC Sabtu lusa. Dari 4 acara yang telah usai digelar, bisa kita lihat perlengkapan, kostum dan pernaik-pernik pernikahan, yang semuanya tentu dibeli dengan uang.

Tengok saja kebaya dan kain panjang batik yang dikenakan para wanita keluarga dekat dan kerabat SBY dan Hatta. Jelas bukan kebaya murahan yang disewa dari perias pengantin dengan ukuran all size dan bisa dikecilkan / dibesarkan sesuai ukuran badan pemakainya. Oh tidak! Itu jelas kebaya berbahan tile impor yang harus fit di tubuh pemakainya. Artinya setiap kebaya dibuat khusus untuk 1 orang pemakai. Padahal, untuk acara siraman dan malam midodareni saja 1 orang keluarga dan kerabat SBY dan Hatta mengenakan kebaya yang berbeda. Kain batiknya pun berbeda. Kaum wanita yang terlibat di acara tersebut tidak bisa dibilang sedikit. Katakanlah ada 100 kerabat wanita yang dilibatkan dalam kedua acara itu dan masing-masing mendapatkan 2 stel baju kebaya + kain batik seharga Rp. 10 juta / stel, maka untuk 1 orang saja membutuhkan dana Rp. 20 juta. Kalo ada 100 orang, berarti uang yang dikeluarkan 2 milyar. Belum lagi untuk pakaian seragam yang dikenakan untuk acara pengajian yang serba putih. Belum lagi souvenir untuk seluruh tamu di setiap acara tersebut, yang katanya ada 1000 tamu yang diundang. Kalo untuk 1 paket souvenir harganya Rp. 100.000,- - asumsi minimum – maka dana souvenir saja mencapai Rp. 100 juta. Itu baru 1 acara saja. Padahal ada souvenir pengajian, souvenir siraman dan souvenir malam midodareni. Hmm…, silakan kalkulasikan sendiri.

Di sebuah stasiun TV swasta diberitakan bahwa untuk kimono yang dikenakan Ibas usai siraman saja, dipesan dari sebuah tailor ternama yang sudah kondang sebagai pembuat jas dengan tarif termahal. Dan pemilik maupun pegawai tailor pun membenarkan hal itu ketika dikonfirmasi dalam tayangan tersebut. Bahkan katanya pula, selain kimono, SBY juga memesan 5 buah jas untuk dikenakannya dan Agus Harimurti – putra pertamanya – di beberapa bagian acara pernikahan. Harga jas disitu puluhan sampai ratusan juta. Kalo memesan 5 stel plus 1 kimono, rasanya masuk akal kalo mencapai angka 1 milyar.

Saat acara akad nikah yang menggunakan adat Palembang, seragam yang dikenakan keluarga dan kerabat pun berganti songket Palembang asli yang tentu harganya tidak murah. Dan untuk acara akad nikah, jumlah kerabat yang terlibat lebih banyak lagi. Saya tidak bisa menaksir kira-kira berapa anggaran untuk seragam yang dikenakan saat akad nikah. Baru anggaran untuk kostum saja sudah bermilyar-milyar dananya. Belum lagi perlengkapan dan piranti dari setiap acara itu. Berikut saya kutip berita dari sebuah situs di internet : “Disebutkan bahwa untuk hal yang paling kecil dari rangkaian acara tersebut saja, yakni speaker untuk sound system, Ibas dan Aliyah menggunakan speaker khusus bermerek V8- Aliyah dan V8-iBass karya Harry Kiss. Dimana menurut penuturan sang kreator, boks untuk speakernya sengaja menggunakan kayu pilihan dari Rusia. Tidak hanya itu, untuk menghasilkan kualitas terbaik kayu tersebut harus dipotong dalam suhu minus 40 derajat celcius sebelum dibuat plywood untuk boks speaker. Boks tersebut lalu dicat putih mengkilat seperti warna piano dan disemprot oleh bahan anti gores. dengan rincian seperti itu nampaknya terbayang sudah betapa 40 Miliar menjadi nominal yang mungkin malah minim bila harus dilakukan penghitungan secara rinci dan detail” . Disini link-nya http://www.seruu.com/hobby/olahraga-seruu/artikel/ternyata-pernikahan-ibas–aliyah-habiskan-40-miliar?fb_ref=.Ts2vrwVyir8.like&fb_source=profile_multiline

Masih ada 1 acara lagi yang belum digelar, resepsi. Dengan undangan berjumlah 3500 orang bertempat di JCC, tentu dana yang dikeluarkan jauh lebih banyak lagi. Jika acara yang melibatkan 1000 orang saja sudah puluhan milyar biayanya, apalagi jika 3x lipat dari itu. Jadi, rasanya angka 40 milyar bukanlah angka yang fantastis dan mustahil, melihat perwujudannya memang ada. Belum lagi honor perias untuk merias sang pengantin dan merias ratusan keluarga dan kerabat. Juga sewa hotel di sekitar Cipanas selama 2-3 hari, honor MC, honor para pengrawit, sewa tenda, dan sebagainya. Semuanya tentu tidak gratis kan meski yang punya hajat seorang Presiden?

Belum lagi dampak ikutannya seperti mengaspal jalan di seputar Cikeas, mengerahkan 2 batalion pengamanan untuk akad nikah saja, mengerahkan aparat dari Polda Metro Jaya dan Polda Jabar untuk mengatur kelancaran arus lalin. Semua itu butuh biaya. Dan kalo Sudi Silalahi berkeras bahwa tak ada sepeser pun uang negara yang “katut” di acara pernikahan Ibas – Aliya, artinya SBY harus membayar sendiri biaya pengaspalan jalan menuju rumahnya, bukan dari Departemen PU. Pun juga biaya pengerahan pasukan baik TNI AD maupun Kepolisian, harusnya dirogoh dari kocek SBY. Jika semua itu dihitung dengan detil dan cermat, saya tidak yakin angka 40 milyar itu benar! Bisa jadi membengkak jauh di atas angka itu.

Anehnya, dalam LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara) SBY kepada KPK tahun 2009 lalu saat akan maju dalam Pilpres 2009, SBY mencantumkan seluruh harta kekayaannya HANYA di kisaran 7 milyar lebih. Kita tentu belum lupa, awal tahun ini SBY pernah mengeluh gajinya selama 7 tahun tidak pernah naik. Logikanya, harta kekayaan SBY saat ini tidak akan jauh bedanya dari posis saat dilaporkan kepada KPK 2 tahun lalu. Bagaimana mungkin seseorang yang hanya memiliki kekayaan 7 milyar menggelar hajatan senilai 40 milyar? Katakanlah patungan dengan sang besan, toh tetap tak mungkin SBY menarik habis seluruh tabungannya dan melego semua assetnya – termasuk rumah dan tanah di Puri Cikeas – hanya demi menikahkan Ibas. Kalo demikian yang terjadi, tentunya SBY akan langsung jadi kere dan gelandangan karena seluruh harta kekayaannya telah dihabiskan untuk acara mantu, hmmm…. Gak masuk akal kan?!

Berarti hanya ada 2 kemungkinan : SBY yang berbohong soal jumlah harta kekayaannya, atau rangkaian acara hajatan itu yang dibiayai oleh pihak “sponsor”. Keduanya HARAM bagi seorang penyelenggara negara. Sebagai Presiden saat itu dan sekaligus calon Presiden yang akan berlaga dalam pemilu, SBY harus jujur dalam memberikan semua keterangan tentang dirinya. Ini menyangkut transparansi. Apa gunanya melaporkan harta kekayaan kepada KPK jika masih ada yang disembunyikan? Apalagi kalo yang disembunyikan itu justru bagian terbesar. Yang kedua, jika pernikahan ini dibantu biayanya oleh sponsor, maka ini tergolong gratifikasi dan itu dilarang keras. Apalagi bagi seorang Presiden yang menjadi penentu kebijakan di Republik ini. Akan besar sekali dampak politis dan ekonomisnya kepada negara maupun kepada pengusaha yang mensponsori.

Bagaimanapun, pesta sudah digelar. Dan hajatan akbar yang masuk dalam 5 besar pesta pernikahan termewah di negeri ini – seperti dilansir Banten Post online, di sini beritanya http://www.bantenpost.com/welcome/pageUtama/BU04203 - bagaimana pun telah membuktikan bahwa perilaku hedonis yang di bantah keras oleh kalangan DPR itu ternyata kini terbukti dipertontonkan oleh Presiden yang dalam pidato-pidatonya selalu menganjurkan agar rakyat hidup sederhana. Rakyat yang setiap hari sudah susah payah mencukup-cukupkan penghasilannya agar bisa bertahan sebulan, tanpa dihimbau pun sudah hidup sangat sederhana.

Tinggal sekarang bagaimana Pak Busyro mengambil momentum ini menjadi peluang untuk mengorek sejauh mana “kebersihan” pesta akbar ini dari aroma gratifikasi. Pak Busyro yang menabuh genderang berbunyi “hedonistis”, kini genderangnya sudah bertalu-talu nyaring dari Cikeas ke istana Cipanas dan sedang menuju ke JCC. Silakang Pak Busyro perintahkan pasukan Bapak untuk membuktikan bahwa sinyalemen anda benar : gaya hidup hedonis para pejabat negara identik dengan penghambur-hamburan anggaran negara dan peluang terbukanya kolusi antara pengusaha dengan penguasa. Pak Busyro, inilah saatnya membuktikan pada Marzuki Alie bahwa anda tidak asal bicara. Semoga Pak Busyro bisa membuka tabir kejanggalan pendanaan dibalik kemegahan dan kemewahan hajatan antar dua pejabat tinggi negara. Selamat bekerja KPK!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Satu Malam di Tanjung Bira …

Abdul Rahim | 7 jam lalu

Unjuk Rasa Tuntut Upah Layak di DIY …

Musfingatun Sakinat... | 7 jam lalu

Cody Simpson - Java Sounds Fair 2014 …

Tari Nadya | 7 jam lalu

Unek-unek untuk Presiden Baru …

Folly Akbar | 8 jam lalu

Risalah 365 Doa & Zikir Sehari-Hari …

Nur Hadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: