
Dibaca: 1521
Komentar: 32
2 dari 2 Kompasianer menilai aktual
Sebagai warga negara yang membayar pajak saya kecewa dengan ucapan Wakil Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo. Di salah satu media massa yang terbit di Jakarta, beliau mempersilahkan Group Bakrie (Lapindo) kembali melanjutkan eksplorasi minyak dan gas (migas) di Sidoarjo.
Bapak Wakil Menteri ESDM sepertinya sudah lupa atas penderitaan panjang korban lumpur di Porong, Sidoarjo. Memang, pada pernyataannya, beliau mensyaratkan tawaran untuk melanjutkan pengeboran itu jika pembayaran tanah ke masyarakat sudah beres.
Namun, dengan pernyataan seperti itu Bapak Wakil Menteri ESDM mereduksi persoalan semburan lumpur hanya sekedar persoalan hilangnya tanah dan rumah. Bapak Wakil Menteri ESDM seperti menutup mata atas dampak buruk semburan lumpur terhadap kesehatan, lingkungan hidup dan sosial.
Bapak Wakil Menteri ESDM seperti menutup mata bahwa pada April 2011 lalu ada seorang bayi usia 3,5 bulan yang meninggal dunia karena diduga kuat terlalu banyak menghirup gas beracun dari lumpur Lapindo. Pak Wakil Menteri ESDM seperti menutup mata bahwa semburan gas liar yang mudah terbakar di Porong, Sidoarjo juga telah menelan korban.
Tragedi semburan lumpur di Sidoarjo telah berlangsung selama 5 tahun lebih. Dan waktu 5 tahun itu adalah waktu yang sangat panjang bagi warga Porong, Sidoarjo untuk terus menderita. Saya sebagai warga negara pembayar pajak, yang dari uang pajak itu digunakan untuk menggaji pejabat, berharap Wakil Menteri ESDM tidak lagi membuat pernyataan yang menambah luka di hati korban lumpur.
Saya berharap Wakil Menteri ESDM mencabut pernyataan yang menawarkan kepada Group Bakrie (Lapindo) untuk kembali melakukan eksplorasi migas di Sidoarjo. Saya berharap Wakil Menteri ESDM meminta maaf kepada masyarakat terutama warga Sidoarjo, Jawa Timur atas pernyataannya itu.