Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Agus Budiarta

setiap langkah gerakan riil lebih penting dari selusin program

Pemuda Dalam Jebakan Pragmatisme

OPINI | 26 October 2011 | 19:10 Dibaca: 265   Komentar: 0   0

Sejarah panjang negeri ini tidak terlepas dari kiprah pemuda khususnya kaum intelektual mudanya. Budi Utomo 1908, merupakan embrio awal kebangkitan kaum muda guna memberikan kontribusi bagi perjuangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejak organisasi Budi Utomo, lahir sebagai pelopor perjuangan pemuda, dedade berikutnya pemuda terus menampakan citra positif bagi perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun 1928, pemuda berhasil mengumandangkan sumpah pemuda sebagai bentuk dukungan terhadap persatuan dan kesatuan bangsa.

Peristiwa Rengasdengklok tahun 1945, merupakan bukti nyata bagaimana kiprah anak muda sangat besar dengan mendesak kaum tua agar memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus.

Rentetan sejarah akan kontribusi pemuda, menunjukan bahwa pemuda pada waktu itu, sungguh sangat luar biasa. Mereka mampu menjadi garda terdepan guna menyelesaikan berbagai masalah yang sedang dihadapi bangsa. Mereka bersatu padu tanpa membedakan Suku, Agama, Ras dan Golongan. Ini tercermin dari sosok I.J. Kasimo yang berteman baik dengan Natsir dan Soekarno serta kelompok pemuda lainnya. Mereka berjuang tanpa kenal lelah, tanpa iming-iming harta dan kekuasaan. Tekad dan cita-cita mereka hanya satu, yakni membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, mandiri, berdaulat, adil dan makmur.

Dengan melihat sejarah pemuda masa lalu, nilai, visi –misi perjuangan mereka, kian redup di tengah kehidupan pemuda sekarang ini. Meskipun, kita tidak menafikan kehadiran pemuda yang masih memiliki idealisme dan cita-cita guna membawa kehidupan bangsa ini lebih baik.

Paska reformasi 1998, kiprah pemuda mengalami penurunan drastis. Menurut Najiburrahman, ada tiga hal yang menjadi penyebab. Pertama, kultur eksploitatif. Kedua, jebakan pragmatisme dan ketiga, krisis nasionalisme (crisis of nasionalism) atau disorientasi kebangsaan (nationalism disorientation).

Kondisi anak muda dewasa ini, sudah banyak kehilangan jati dirinya sebagai cendekiawan muda. Mereka sudah banyak terjebak dalam pragmatisme hidup. Memilih jalan pintas untuk mencapainya. Anak muda terjebak dalam lingkaran kapitalisme global yang merasuki segala sendi kehidupan. Anak muda (pelajar dan mahasisa) sekarang ini, banyak yang tidak memiliki sikap kritis, banyak memilih hidup hura-hura, menjadi mahasiswa “kupu-Kupu” Kuliah Pulang-kuliah pulang.

George Ritzer dalam The McDonalization of Society (1993) mengatakan bahwa paradigma hidup dalam alam modern saat ini adalah rasionalitas formal. Sebuah kondisi yang menginginkan segala sesuatunya lebih cepat, efisien dan rasional. Dalam tahapan tersebut, kultur eksploitasi dari sistem kapitalisme tidak bisa dihindarkan. Kondisi semacam ini menumpulkan kritisisme.

Akibat selanjutnya adalah terjebak dalam gaya hidup pragmatis. Pemuda tak mau lagi ambil pusing dengan ragam persoalan pelik. Sehingga pemuda bukan lagi agen kritisisme, tapi justru menjadi budak kekuasaan. Ia lebih memilih tidak tersingkir dari kehidupan elitis daripada berpikir idealis. Yang bermanfaat baginya diambil, sedangkan yang tidak, diabaikan, kendati membawa banyak maslahat bagi bangsanya.

Generasi muda akhirnya, menjadi budak kapitalisme yang terus menggerogoti nilai lokal. Pemuda kita lebih banyak mengkonsumsi nilai-nilai asing dibandingkan menjaga dan melestarikan budaya lokal. Pemuda kita terjebak dalam kehidupan egoistik. Peduli hanya terhadap kepentingannya sendiri, tanpa lagi mempedulikan kepentingan orang lain bahkan kepentingan bangsa dan Negara sekalipun.

sulit rasanya keluar dari kompleksitas permasalahan yang melingkupi pemuda dewasa ini. Namun kita masih bisa optimis bahwa pemuda mampu keluar dari persoalan yang ada. Untuk itu perlu dilakukan pembenahan menyeluruh baik dari dalam diri pemuda maupun dari luar. Sehingga kelak kita berhasil membina kaum muda yang memiliki visi dan misi guna membawa kehidupan berbangsa dan bernegara kedepannya lebih baik.

Pertama, melakukan perubahan perilaku, dengan melepaskan diri dari jebaka-jebakan pragmatisme sempit dan marerialisme. Pemuda harus memiliki kemandirian, komitmen konsistensi, kritis, kreatif dan inovatif. Kedua, pengembangan sumber daya pemuda secara baik dan sistemik. Dengan Sumber daya manusia yang baik, diharapkan pemuda bisa memunculkan budaya kritisisme dalam menyaring setiap budaya asing.

Ketiga, Pemuda harus menjadi pioner dalam membangun mutual trust, diantara elemen muda sendiri. Berbagai konflik yang terjadi di beberapa tempat belakangan ini, disinyalir karena hilangnya nilai kepercayaan antara satu kelompok dengan kelompok lain. Untuk itu, kehadiran pemuda sebagai jembatan guna memepersatukan beragamnya etnik dan kepentingan dalam masyarakat. Untuk wejudukan hal ini, bisa dilakukan lewat berbagai kegitan bersama seperti dialog kebangsaan, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan multikultur, ataupun lewat kegitan out bond bersama pemuda lintas suku, agama, ras maupun golongan.

Untuk mencapai hal tersebut diatas, tidaklah mudah. Dibutuhkan peran serta semua stakeholders, mulai dari pemerintah, NGO, lembaga keagamaan, lembaga sosial, organisasi gerakan mahasiswa, kampus serta masyarakat. Dengan demikian, harapan akan Indonesia yang adil, aman, damai, sentosa dan sejahtera akan terwujud di masa akan datang.

Agustinus Y. Budiarta

Aktif di Jaringan Indonesia Raya (JIRA) DIY

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 5 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 5 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 8 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 9 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Modern atau Kampungan? …

Alfarizi | 9 jam lalu

Wayang Listrik dalam Panggung Teater …

Trie Yas | 9 jam lalu

Tolong, Jangan Rebutan Jersey Suarez! …

Rizal Marajo | 9 jam lalu

Kenapa Harus Wanita yang Jadi Objek Kalian?? …

Dilis Indah | 10 jam lalu

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: