Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Andriyanto Yuli S

Sehari-hari bekerja sebagai Kuli...

Fenomena Golput ICW

OPINI | 24 October 2011 | 02:51 Dibaca: 378   Komentar: 2   0

TWEET MENARIK DARI BUNG FAHRI HAMZAH

13193805382022171650Saya ingin sedikit komentari sebagai fenomena pasca pengakuan anak-anak ICW bahwa mereka . Saya cukup terkejut bahwa hari ini ada yang masih , apalagi mereka adalah kelompok penekan politik. Dulu, ketika rezim otoriter mendikte suara rakyat, fenomena dapat dipahami. Tapi sekarang beda. Hari ini adalah demokrasi, karya anak bangsa, karya kita semua. Pilihan kita tidak dikebiri siapapun.

Terbayang, partai yg tidak pernah ada yaitu tiba-tiba menjadi partai pemenang pemilu dan mengirim tokohnya jadi . Artinya, demokrasi ini jalan bersama, suka atau tidak ini pilihan sementara yang konfigurasi politiknya bisa dirubah 5 tahun. Sekarang, setelah kebebasan menentukan pilihan ada, maka muncullah partai-partai yang merupakan aspirasi mayoritas. Dan tidak ada jalan lain selain partai politik dalam demokrasi. Demokrasi artinya penguatan partai politik. Titik! .

Sekarang, ada sekelompok orang yang sejak zaman dan tidak pernah mau masuk partai tapi ingin berkuasa. Setidaknya, mereka ingin selalu punya pengaruh dan begitu punya kesempatan nyodorin CV ke parpol duluan. Masalahnya, mereka umumkan diri , mungkin dgn maksud, “Aku Suci Loh” tidak terkontaminasi parpol. Tetapi, saban hari kerjaannya berharap kepada parpol.

Ini adalah sejenis kemunafikan yang dibungkus perjuangan. Saya mencatat ini karena beberapa kecurigaan, 1. Mereka berkiblat pada agenda tokoh tua tertentu yg tidak happy cv-nya ditolak. Lalu, 2. Mereka digaji untuk agenda asing yang tidak suka dengan konsolidasi kita menuju demokrasi dan pembangunan ekonomi. Lalu, 3. Mereka tidak konsisten dan mulai menyerang kelompok untuk kepentingan kelompok lain. Bayangkan saya, kalau anda boleh dan itu sah dalam negara bebas, yang tidak boleh hanya mengancam kehidupan bersama. Tetapi, kalau anda sebaiknya anda adalah orang yang tidak memerlukan negara karena independensi anda yg tinggi. Atau anda tidak percaya kepada negara, sebab negara juga belum tentu bisa selesaikan problem kemanusiaan kita.

Atau kalau tidak percaya tapi mau beropini, jangan anda umumkan dan punya calon yang anda dukung. (Ketua , dll). Jadi problemnya bukan -nya tetapi etika mereka yang mengambil pilihan itu. Apalagi ternyata punya hidden agenda yang jelek. Sekali lagi, problem kita bukan melarang kebebasan orang untuk tidak memilih sebab itu menolak demokrasi. Problemnya adalah jika atas nama anda menekan dan berkampanye untuk bukan kepentingan negara.

Saya curiga dengan kelompok anti partai sebab mereka ini merusak fondasi demokrasi terpenting kita. Jangan-jangan mereka merindukan tiran, kelompok bersenjata yang akan membubarkan partai politik dan mereka mau jadi kacung. Demokrasi harga mati, baik buruk partai mari kita koreksi, bikin partai baru jika perlu. baru 8% perlu didukung. 

Sumber: *) http://www.twitter.com/fahrihamzah

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

Seleksi CPNS 2014 Dibuka dan Diselingi …

Pebriano Bagindo | | 21 August 2014 | 05:00

Menanti Keputusan MK …

Wisnu Aj | | 21 August 2014 | 02:20

Senja Kala Pesepeda di Yogyakarta …

Yusticia Arif | | 21 August 2014 | 09:02

[Proyek Buku] Catatan Warga Indonesia di 10 …

Kompasiana | | 12 August 2014 | 23:19


TRENDING ARTICLES

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 3 jam lalu

Dapur Umum di Benak Saya …

Itno Itoyo | 14 jam lalu

Bonsai MK dan KPU, Berharap Rakyat Cueki …

Sa3oaji | 15 jam lalu

Menunggu Aksi Kenegarawanan Hatta Rajasa …

Giens | 16 jam lalu

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: