Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Agus Supeno

Dari rakyat kecil dan berjuang untuk rakyat kecil

Hiruk Pikuk Koalisi dalam Pemerintahan SBY terkait Pemilu 2014

OPINI | 21 October 2011 | 00:25 Dibaca: 197   Komentar: 4   1

Partai mana yang ikhlas dan menginginkan Partai Demokrat menang pada Pemilu 2014?, jika ada maka Partai tersebut berisi kumpulan orang sinting, sendeng, miring, goblog, tolol, dungu, dan kawan-kawan. Untuk memenangi Pemilu 2014, semua jurus sudah pasti akan di keluarkan, dari mulai pencitraan Partai dengan jargon-jargon pembela kebenaran, pembela rakyat miskin, sampai janji pembagian pembalut wanita jika itu memungkinkan dapat meraih suara, kenapa tidak.

Jurus lainnya adalah dengan meng-klaim para calon sebagai titisan Pangeran Jayabaya, Prabu Siliwangi, Ronggo Lawe, sampai titisan nyai blorong dan wewe gombel, yang penting rakyat mau nyontreng dirinya. Nah, jurus yang paling populer dikalangan politikus Indonesia dan paling disuka dikala blunder melanda adalah pembunuhan karakter.

Bagi partai oposisi, ranah untuk memojokkan pemerintah yang berkuasa saat ini cukup luas ruang tembaknya. Namanya juga oposisi, seperti pepatah mengatakan “Selumbar di seberang lautan dapat terlihat jelas tetapi balok didepan mata tidak tampak”.

Bagaimana dengan partai koalisi?. Inilah yang sedikit rumit untuk dianalisa, seperti pepatah mengatakan “ Bak Musuh dalam Selimut”. Konsistensi sebuah partai koalisi sangat menentukan apakah akan berpotensi berkianat atau tidak dalam berkoalisi.

Partai Nasionalis/Inklusif

Partai berbasis nasionalis biasanya identik dengan partai inklusif. Partai nasionalis cenderung memiliki basis massa yang fluktuatif dengan amplitudo relatif lebar, dengan demikian partai nasionalis memiliki potensi menjadi partai pemenang tapi juga dapat menjadi partai juru kunci dalam perolehan suara.

Hubungannya dengan koalisi, sesuai dengan peluangnya sebagai partai yang berpotensi menjadi partai mayoritas maka sebagai bagian dari koalisi sangatlah tidak tepat. Hal ini disebabkan karena ambisi meraup suara mayoritas pada Pemilu 2014 merupakan tujuan utama sedangkan posisinya sebagai koalisi dalam pemerintahan memiliki kewajiban mendukung kebijakan dari mitra koalisinya.

Dengan demikian konsistensi dalam koalisi sangat diragukan, terbukti mitra koalisi dari partai nasionalis cenderung ambigu dengan sering menunjukkan sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah yang seharusnya didukung. Tampaknya mereka sering memancing di air keruh di kala pemerintah menghadapi masalah, jelas tujuan dari semua itu adalah untuk meraih simpati masyarakat untuk meraup suara pada Pemilu 2014.

Partai Eksklusif

Basis massa partai eksklusif secara empiris lebih stabil dibandingkan partai nasionalis. Massa partai yang bersifat eksklusif cenderung militan, bahkan tidak jarang bersikap unrasional seperti fanatik pada figur tertentu dengan sedikit mempertimbangkan kualitas. Sikap eksklusif itulah yang menyebabkan partai tersebut sulit menjadi pemenang. Terjadinya fluktuasi dalam perolehan suara biasanya disebabkan pergeseran distribusi suara di antara sesama partai eksklusif saja, seperti contoh PAN berkurang perolehan suara pada Pemilu 2009 di sisi lain PKS mengalami peningkatan perolehan suara.

Hubungannya dengan koalisi, partai eklusif lebih adem ayem dan loyal dalam mendukung kebijkan pemerintah. Karena harus disadari bahwasannya mereka sulit untuk meraih simpati terutama dikalangan yang jelas berbeda secara fundamental sehingga keterwakilannya sulit terakomodir dalam partai eksklusif, hal ini menjadikan partai eksklusif cenderung tidak berambisi menjadi partai pemenang, akan tetapi posisi tawar sebagai mitra koalisi akan meningkat jika ternyata tidak ada pemenang mutlak dalam pemilu.

Anomali PKS

PKS, jika dilihat dengan kacamata kuda sekalipun masyarakat memandangnya sebagai partai Islam dengan pembinaan pengkaderan melalui pengajian-pengajian yang intensif terutama dikalangan intelektual. Tidak heran juga popularitas PKS berangkat dari kegiatan social keagamaan seperti gerakan relawan di daerah-daerah yang mengalami bencana alam, dan sepertinya bencana berbanding lurus dengan jumlah perolehan suara PKS.

SBY menang bukan karena PKS, akan tetapi PKS-lah yang memiliki naluri tajam dalam membidik siapa yang bakal menjadi inang dalam mendapatkan secuil kekuasaan, walhasil SBY berhasil di plintir dengan sebuah kesepakatan memberikan jatah empat menteri. PKS belum merasa puas dengan kue talamnya dan menginginkan Pizza dengan ukuran premium, strategi apakah yang ditempuhnya?

Rupanya merubah paradigma merupakan pilihan yang dianggap jitu untuk mengelabuhi kalangan nasionalis dan agamis dari non Islam. Lagi-lagi Fahri menjadi bemper melalui sesumbarnya dengan membuat suatu pernyataan “PKS bukan partai Islam melainkan partai religious”. Statemen tersebut rupanya jauh menyimpang jauh dari AD/ART Partai. Statemen tersebut juga tidak dibarengi dengan perubahan AD/ART Partai dengan demikian mengindikasikan kebohongan telah menyelimuti sebagian anasir partai yang mencoba membelokkan fundamentalnya.

Perubahan paradigma tersebut juga membuat kader-kader PKS yang duduk di DPR menjadi lebih bersifat agresif terutama terhadap inangnya yaitu Partai Demokrat. Tentunya ini didasarkan pada optimisme PKS pada tahun 2014 untuk meraih kursi yang lebih banyak dari sebelumnya. Jadi janganlah heran jika PKS yang status quo sebagai partai eksklusif, namun lebih beringas dalam menyerang inangnya dalam berkoalisi dengan Partai Demokrat, berbeda dengan partai eksklusif lainnya yang lebih konsisten. Mudah-mudahan Majelis Syuro PKS menjunjung tinggi kejujuran dalam menentukan sikap, Oposisi atau Koalisi ?

 

 

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 11 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 12 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 13 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Walikota Kota Bogor Bima Arya Sugiarto …

Hakeem Elfaisal | 8 jam lalu

Guru (di) Indonesia …

Inne Ria Abidin | 8 jam lalu

“Remember Me” …

Ruby Astari | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menguntungkan atau Malah …

Ian Wong | 9 jam lalu

Dua Oknum Anggota POLRI Terancam Hukum …

Inne Ria Abidin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: