Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Joko Hendarto

Warga negara yang terus ingin belajar, dari Sumba NTT sekarang merantau ke Jakarta

Terima Kasih Fachri Hamzah

OPINI | 05 October 2011 | 06:03 Dibaca: 219   Komentar: 4   0

Beberapa hari ini rasanya sebal sekali membaca berita. Miris membayangkan masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia yang sedang mengalami fase-fase kritis. Ada politisi yang dengan terang-terangan mendukung pembubaran komisi yang dibentuk sebagai amanat konstitusi untuk memerangi kejahatan korupsi. Dan sampai detik ini pun orang itu masih juga bersikukuh bahwa kita tak butuh lembaga serupa KPK.

Kerja KPK memang belum sempurna, banyak kasus besar yang ditangani dengan lamban serupa jalannya kura-kura. Tapi setidaknya pada institusi ini kita masih berharap banyak mereka lebih sedikit berani dan independen dalam membersihkan negara ini dari para penyamun. Bukankah semua sepakat bahwa korupsi adalah kejahatan yang luar biasa merusaknya di Indonesia. Membubarkan KPK, seperti membakar sawah hanya karena ada satu dua rumput liar yang tak sempat disiangi.

Saya tinggal di sebuah pulau yang masih sangat banyak tertinggal, Sumba, NTT. Di sini sebagian besar masyarakat masih susah mendapatkan akses terhadap layanan publik yang layak. Pengangguran, kemiskinan adalah pemandangan jamak dijumpai dimana-mana terutama jika kita datang ke pelosok. Fasilitas publik dasar seperti sekolah, puskesmas, listrik masih jauh dari memadai. Miris karena ini masih saja terjadi setelah lebih 60 tahun Indonesia merdeka.

Apa hubungannya dengan korupsi? Saya kira saya tidak perlu bertele-tele menjelaskannya bagi anda semua. Ketika di pulau tempat tinggal saya sekarang, orang susah makan, pengangguran, miskin, gampang sakit, tak ada listrik dan sumber air yang layak, di senayan sana, ada orang dengan mudahnya bicara tentang fee untuk memuluskan anggaran yang jumlahnya bermilyar-milyar. Biadabnya karena dengan itu mereka masih mengaku sebagai wakil rakyat.

Pernyataan seorang Fachri Hamzah, terlalu menyakitkan bagi orang-orang pelosok seperti kami. Pada siapa lagi kita akan menggantungkan harapan pemberantasan korupsi kecuali kepada lembaga “super body” seperti KPK. Bukankah korupsi di Indonesia adalah “extraordinary crime”, coba liat bagaimana dia dilakukan secara telanjang dan berjamaah. Institusi penegak hukum yang harusnya menjadi sapu, malah ikut-ikutan kotor karena keterlibatan beberapa oknumnya dalam praktek hitam korupsi ini.

Pada Fachri Hamzah kita perlu berterima kasih, pada satu sisi dia mewakili kelompok yang benar labil terhadap pemberantasan korupsi di Indonesa kalau boleh dikatakan tidak pro. Sangat disayangkan bahwa pernyataan ini justeru datang dari tokoh muda partai yang mengklaim dirinya bersih dan memang dari awal kita berharap partainya, PKS benar-benar berbeda dengan partai lain. Kita tidak ingin PKS runtuh, banyak budaya politik baru yang dibawa kedalam dunia politik kita. Tapi jika disana tetap ada orang bebal seperti Fachri Hamzah, wah pasti partai lain akan meloncat-loncat kegirangan.

Membubarkan KPK, boleh jadi adalah obsesi pribadi Fachri Hamzah dengan motif yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. (Mudah-mudahan Tuhan tidak dijadikan alasan disana). Tapi sadarkah ia bahwa itu bisa juga menjadi penanda bubarnya partai yang diwakilinya. Lihat saja komentar bersahut-sahutan dari tokoh lain yang dengan sangat lebay membelanya. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk membuat nyaman Fachri Hamzah ini terus berkoar-koar dan publik terus memakinya, memaki partainya.

Mudah-mudahan dengan ini juga KPK lebih sangar memberantas korupsi, membuktikan bahwa tudingan beberapa politisi bahwa mereka lembek, tebang pilih tidaklah terbukti. Untuk abang kita satu itu, semoga bisa tersadar segera bahwa idenya tak menarik bahkan merusak. Terima kasih sekali lagi untuk Fachri Hamzah, masih mengingatkan bahwa ternyata masih ada juga orang serupa anda di republik ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 8 jam lalu

Risma dan Emil Lebih Amanah Dibanding …

Leviana | 8 jam lalu

Analisis Prosedur Sengketa Hasil Pilpres …

Muhammad Ali Husein | 9 jam lalu

Jokowi: The First Heavy Metal’s …

Severus Trianto | 11 jam lalu

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: