
linda - TEMPO dan GATRA menempa saya untuk selalu jeli, kritis, menulis dengan jujur, dan bekerja keras. Hasilnya? Saya tidak tahu karena yang menilai tentu orang lain. Di KOMPASIANA ini saya sangat menghormati nama pemberian orang tua saya sehingga tidak perlu saya ganti dan palsukan, apalagi memalsukan wajah pada identitas diri. Blog pribadi saya, www.lindadjalil.com --- bila iseng, silakan mampir.
Dibaca: 848
Komentar: 37
2 dari 3 Kompasianer menilai aktual
Tembok punya mata. Meja kerja pun punya telinga. Rahasia apa yang bisa disimpan rapat-rapat di dunia ini? Apalagi setelah zaman teknologi canggih seperti sekarang ini. Rapat Sidang Kabinet baru dimulai 10 menit, misalnya, berita lewat layar telefon genggam yang tertulis sebagai SMS bisa jadi sudah beredar ke mana-mana. ‘Oknum’ menteri sudah berceloteh ke luar, tentang materi pembicaraan yang sedang berlangsung.
Presiden SBY berang. Deretan nama yang beredar untuk menteri mendatang seakan memang berita yang akurat dan dijamin kebenarannya. Padahal, sumber berita tidak jelas. Ya tentu saja. Sang sumber mana mau ‘bunuh diri’ dikutip sebagai sumber. Bisa jadi nama-nama yang dibeberkan adalah gosip belaka. Namun bisa saja memang itu adalah fakta yang belum diungkap. Sampai-sampai, SBY memang merasa layak marah. Marah karena merasa dilangkahi, marah karena sudah disebar berita yang mungkin saja akurasinya A 1 namun bocor ke mana-mana, atau marah karena semua adalah berita spekulasi. Alasan kemarahan, tentu saja hanya yang bersangkutan yang mengerti.
Lalu, apakah saat era Suharto, tidak ada berita calon menteri yang bocor? Ow, sangat ada! Bursa menteri sudah melebar ke mana-mana. Apalagi di kantong wartawan. Apakah Suharto tersinggung dan menggelar keterangan pers, setidaknya memerintahkan jubirnya, Menteri Sekretaris Negara berbicara? Sepanjang ingatan saya, tidak sama sekali. Moerdiono yang saat itu menjadi Mensesneg hanya senyum-senyum bila diserbu pertanyaan dari wartawan Istana. Dan juga tidak menjadikannya tersinggung atas tebak-tebakan masyarakat menjelang penetapan.
Dasar wartawan, kami tetap bergerilya ke mana-mana. Daftar sudah di selembar kertas. Suatu saat di ruang kerja Moerdiono, saya berkata, “Tolong baca dong pak daftar nama-nama ini. Tinggal bilang ke saya, nilainya berapa? 50, 70, 90, 100?” Sang menteri tidak sudi menjawab, apalagi diminta konfirmasi tentang deretan nama itu. Ketika saya akan melangkah keluar ruangannya, tiba-tiba ia berujar, “Yaa…. 90 deh angka untuk kamu, Lin!” . Tentu saja saya berkibar dan kembali melacak ke mana-mana. Padahal, jawaban seorang Mensesneg adalah yang tercanggih, bila ia pada saat itu mau memberikan keterangan itu kepada saya. Sayangnya, ia hanya sekedar memberi ‘tanda’.
Lalu, lucunya, saat Pak Harto berdiri depan kami untuk membacakan nama-nama calon menteri, kami masing-masing sudah siap dengan selembar kertas yang berisi nama menteri dan instansi yang akan ditempati oleh mereka. Gaya kami bagai orang sedang menilai hasil ujian.Bila nama tepat, kami contreng. Kalau tidak sama, langsung ditandai X (kali). Saya ingat, Pak Harto sesaat melirik lembaran kertas saya yang saya tandai, yang tentu terlihat jelas karena saya duduk paling depan. Sekilas ia melempar senyum lalu kembali membacakan pengumumannya.
Saya pernah bertanya kepada Moerdiono, apakah Pak Harto tidak kesal berita nama calon menteri sebelum pengumuman resmi sudah bocor duluan. Ternyata menurut Moerdiono, ia memang pernah menanyakannnya langsung kepada presiden, “Bagaimana ini pak, nama sudah beredar ke mana-mana, meski belum tentu persis sama?” . Lalu apa jawaban Pak Harto? “Ah.., biar saja!”
Lain padang lain ilalang. Lain orang lain cara. Lain bawaan lain pula karakter, sifat dan kebijakan. Begitulah yang kini kita lihat sekarang. Tampaknya SBY tak suka deretan nama sudah terpampang di mana-mana. Bahkan ia menyebut tidak ingin seperti kejadian 2009 yang pernah membuat marah orang karena namanya tak tersebut menjadi menteri. Saya sedang berpikir keras sekarang, mengapa presiden SBY berupaya menghindari kemarahan sang calon yang tidak jadi? Bukankah sepenuhnya itu adalah hak dia dan pertimbangannya juga atas dasar kebijakannya, intuisi yang tajam dan terasah? Kadang seseorang di satu sisi memang bisa tahan terhadap protes, kritikan orang pada masalah tertentu, bahkan tidak perduli, namun kadang bisa juga berkuping tipis dan sesegera mungkin menanggapi tanpa berpikir dampak selanjutnya.