
seseorang yang selalu diberi keindahan yang semu...
Dibaca: 151
Komentar: 0
Nihil
A: negara serikat palestina dgn jerusalem timur sebagai ibu kotanya, tinggal di dlm perbatasan yg aman dan dikenal damai dgn israel,
B: damai itu bukan berarti merampas tanah orang lain. satu-satunya jalan adalah mengembalikan peta israel palestina tahun 1967…
C: tanah sg ndi kui rek… seng kulon po seng etan???
B: setelah perang 6 hari, setelah israel pergi dari sinai. di google ada. atau peta tahun 1948
A: jangan dibahas terus perangnya, saatnya menuju damai; palestina sudah sampai pbb,
C: berarti podo!!! damai kulon, damai ng etan.
A: yup, kecuali kalo penginnya berantem terus,
B: israel muleh sek nang negorone, ojo mbangun pemukiman nang tanah palestina. aku gak membenci yahudi, aku benci penjajahan
A: kalo diusir emang mereka punya rumah?, kan nggak,
B: diusir dari tanah palestina. udah di bagi to jadi dua,
A: ada tawaran lain yang lebih menjanjikan selain ide 1948?,
B: opo? sejuta lebih manusia tetap di pengungsian? puluhan juta yang lain hidup dalam bayang2 moncong senapan israel di negeri sendiri? dan 6 milyar manusia yang simpati malah di tembaki?
A: umat islam diajari untuk percaya pada takdir :),
B: hahaha coba deh tanta google tentang shabra dan shatilla
A: belum sempat :), lagi baca google book; saya juga menginginkan perdamaian disana, tapi jika tawaran 1948 tidak memberi solusi, ya kita cari tawaran lain gitu, kalo kita memaksakan ya apa bedanya dengan mereka,
B: trus opo neh??? israel sudah mengklaim semua wilayah palestina kok.
A: pilihan paling parah ya menerima pemerintahan israel, apa mereka tampak menakutkan? atau kekhawatiran kisa saja? atau karena begitu bencinya kita sama mereka? atau pura2nya melindungi aset masjid suci? atas perintah siapa ada kewajiban membela itu?,
B: trus palestina?
A: palestina tidak mampu merebut itu, palestina lemah, kita semua juga tidak berdaya,
B: itu tok???? katanya manusiawi, katanya humanisme, katanya perdamaian kok cuma itu tok. nggak mbois blass…. membiarkan mereka terusir, kelaparan, terbunuh???
A: kenapa tidak mau menerima kekalahan, kenapa tidak berpikir kenapa kita kalah dan lemah?; kenapa hanya bermodal kebencian dan dibungkus-dibumbui nuansa keagamaan kita menamakan ini jihad?, kenapa tidak kita mulai dengan memperbaiki diri sendiri,
B: makanya cari info tentang shabra dan shatilla, tak jamin mesti kamu nggak akan berfikir seperti itu
A: saya terinspirasi imam ghazali, sembilan terakhir hidupnya adalah masa awaal perang salib tapi beliau tidak menyerukan kobaran jihad; tapi apa coba, karya2nya mengarah pada penyucian diri: untuk membersihkan diri; dari sinilah pondasi kita yang kuat,
B: udah baca tentang shabra shatilla belum??? kita diskusi lagi kalau udah baca
A: boleh,
***
demikian. isu israel-palestina menghangat lagi setelah pencarian pengakuan kedaulatan palestina ke pbb. sebagai sebuah dialog, saya rasa ini berimbang. masalahnya, saya rasa kita harus paham permasalahan ini. sentimen keagamaan seringkali membuat kita terbutakan dengan realitas. mana yang harus kita benci, mana yang harus kita dukung dan kita perjuangkan, dan sebagainya, harus jelas: benarkah yang satu memang pantas dibenci, benarkah yang lain pantas kita dukung dan kita perjuangkan?.
bukankah konstitusi kita mengamanatkan keadilan?. bukankah ketika kita condong atau berat sebelah ke palestina perdamaian dunia mustahil terwujud?. tidak, saya tidak berpihak ke palestina, tapi saya bertanya, mampukah kita bersikap adil dalam masalah ini?.[]