Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Drh. Chaidir, Mm

JABATAN TERAKHIR, Ketua DPRD Provinsi Riau Periode 1999-2004 dan Periode 2004-2008, Pembina Yayasan Taman Nasional selengkapnya

19 bupati dan walikota kita Kuliah 3 minggu di Harvard ….

REP | 19 September 2011 | 05:05 Dibaca: 350   Komentar: 0   0

Oleh drh Chaidir

BERITA buruk selalu menjadi baik dan menarik untuk sebuah berita. Tapi ada berita menarik dalam pekan lalu yang menurut saya tidak buruk. Berita menarik itu, 19 bupati dan walikota kita bertolak ke Amerika Serikat pada 16 September beberapa hari lalu. Satu-satunya dari Riau yang ikut dalam rombongan tersebut adalah Bupati Bengkalis, Ir Herlian Saleh, MSc.

Studi bandingkah mereka? Kali ini bukan. Mereka akan menjalani kuliah singkat di Universitas Harvard, Amerika Serikat, selama sekitar tiga minggu. Kepala daerah yang terpilih untuk mengikuti pendidikan tersebut yakni Bupati Serdang Bedagai, Samosir, Agam, Bengkalis, Sukabumi, Solok Selatan, Gresik, Malang, Kutai Kartanegara, Sumbawa Barat, Luwu Utara, Mamuju, Poso, Banyuwangi, dan Lampung Selatan. Kemudian, Walikota Kediri, Banjar Baru, Denpasar, dan Ternate. Mereka didampingi Kepala Bappeda masing-masing, sehingga seluruh rombongan berjumlah 38 orang. Menurut pemberitaan diberbagai media, kepala daerah yang diberangkatkan tersebut  terpilih karena prestasi mereka lulus terbaik selama menjalani kursus kepemimpinan yang dilaksanakan Badan Diklat Kementerian Dalam Negeri di Jakarta.

Tentu ada pro-kontra dalam program tersebut, tapi itu biasa. Ada yang  berpendapat, pendidikan singkat seperti itu tak akan efektif. Seorang bupati misalnya, cukup belajar dari sesama kepala daerah yang lebih maju atau sukses membangun masyarakatnya dengan keberpihakan yang nyata dan membuat banyak terobosan dan inovasi. Kenapa tidak bertanya saja kepada Walikota Solo Joko Widodo? Atau tukar pikiran dengan Walikota Tarakan Jusuf Serang Kasim, Bupati Blitar Djarot Saiful Hidayat, Bupati Badung Anak Agung Gde Agung, atau Bupati Gorontalo David Bobihoe, yang merobohkan pagar rumah dinasnya di Limboto yang dianggap memisahkan dirinya dengan rakyat? Kenapa harus belajar jauh-jauh ke Harvard?

Tapi Harvard University, bukan perguruan tinggi sembarangan. Universitas yang didirikan di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat pada  tahun 1636 ini menurut Academic Rangking of World Universities (ARWU), sebuah lembaga internasional yang berkompeten menyusun rangking universitas terkenal di dunia, Harvard selalu menempati rangking pertama. Kalangan terpelajar di seluruh penjuru dunia pasti memimpikan untuk kuliah di Harvard University. Tapi sayang hanya sebagian kecil yang bisa mewujudkan impiannya. Belajar dari kearifan lokal penting, belajar dari kutub peradaban dunia modern juga penting.

Kuliah di Harvard University, tentulah memberi peluang kepada para bupati dan walikota kita itu untuk menimba pengalaman, kemampuan, dan tentu saja menambah wawasan dalam tatap muka dengan dosen-dosen terbilang di sana. Kedalaman ilmu, obyektivitas, kejujuran berpikir, kesederhanaan bersikap, kerendahan hati,  adalah ciri universal intelektual yang telah menjadi tradisi selama beratus tahun. Dan itu agaknya akan dirasakan aromanya. Tapi masa tiga pekan, barangkali masa yang terlalu singkat untuk sebuah proses transformasi berpikir dalam diri bupati dan walikota kita itu. Namun sekurang-kurangnya, sebagai seorang pemimpin yang berhadapan langsung dengan masyarakat, mereka perlu mulai menyadari, mereka tak boleh berhenti belajar.

Profil Penulis http://drh.chaidir.net

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tak Selamanya Penggusuran Pedagang dengan …

Wisnu Aj | | 30 January 2015 | 14:21

Jokowi & Pendekatan Humanis dalam …

Ilyani Sudardjat | | 30 January 2015 | 09:58

Panglima TNI Berbeda dari “Panglima” di …

Mds Efron | | 30 January 2015 | 08:19

Mudahnya Jadi Wartawan Gadungan …

Choiron | | 30 January 2015 | 08:55

Mengenang Sinetron Era 90-an …

Mariam Umm | | 30 January 2015 | 06:38


TRENDING ARTICLES

Benarkah Pak Jokowi Meninggalkan PDI …

Kosmas Lawa Bagho | 7 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Menggunakan Taktik Raja …

Chairul Fajar | 9 jam lalu

Adu Kuat Jowoki dan Mega (Pecah Kongsi?) …

Ken Shara Odza | 10 jam lalu

Menebak Strategi dan Langkah Presiden …

Harry Purnomo | 11 jam lalu

Jokowi dan Lobi Trisakti; Lepasnya …

Imam Kodri | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: