
linda - TEMPO dan GATRA menempa saya untuk selalu jeli, kritis, menulis dengan jujur, dan bekerja keras. Hasilnya? Saya tidak tahu karena yang menilai tentu orang lain. Di KOMPASIANA ini saya sangat menghormati nama pemberian orang tua saya sehingga tidak perlu saya ganti dan palsukan, apalagi memalsukan wajah pada identitas diri. Blog pribadi saya, www.lindadjalil.com --- bila iseng, silakan mampir.
Dibaca: 1744
Komentar: 72
1 dari 1 Kompasianer menilai aktual
Berita yang membuat kecut hati dan malu berdesir, pagi ini merebak. Duta Besar Indonesia di Switzerland dan Liechtenstein, Djoko Susilo, berkata bahwa Indonesia menjadi bahan tertawaan negara-negara anggota organisasi konferensi Islam OKI atas penetapan 1 Syawal tanggal 31 Agustus.
Peristiwa yang membingungkan rakyat telah terjadi dua hari terakhir ini. Boleh dikata kita harus menghargai perbedaan, dan tidak perlu menimbulkan ketidakkompakkan antar sesama umat Islam di Indonesia. Hhhmm…, tampaknya membicarakannya mudah, namun implementasinya tak segampang itu. Dan ini bukan sekedar soal ketupat basi, sayur lodeh dan opor ayam basi, bukan?
Saya tak berselera beropini kelewat banyak kali ini. Namun saya mengakui, secara jujur, saya turut menyesalkan kejadian serupa ini. Mana yang salah mana yang benar, semua menerapkan kekukuhan pembenaran dengan ngotot dan sengit. Ahli agama mempertontonkan sidang yang panas dan kata-kata nyelekit kepada jutaan penonton televisi di seluruh Indonesia. Menyedihkan, memang.
Maftuh Basyuni, mantan Menteri Agama yang sempat mengobrol dengan saya di kediaman BJ Habibie di hari lebaran berkata, kalau dulu dia tidak menjalankan cara-cara semacam itu, sehingga sidang tidak berjam-jam dan tidak menimbulkan kata-kata keras , ngotot, sengit, dan…. ditertawakan banyak orang.
Ya begitulah negeri ini sekarang. Kita acapkali dibuat bingung. Dari kasus Century, soal ibu kerudung yang diduga keras menciptakan surat palsu, perempuan narsis yang yakin sekali tak bersalah masuk infotainmen terus menerus meski sudah berkata soal simbol apel Malang apel Washington kepada ‘mangsanya’…, soal jembatan gagal dibuat untuk tempat penyeberangan rumah pribadi, soal lagu tak layak tampil di acara resmi, soal lelaki muda usia yang mampu mengatur negara ini sehingga para petingginya pontang-panting kebakaran jenggot, perempuan pendamping pak petinggi polisi yang sampai kini bagai tak tersentuh hukum, sampai ujung-ujungnya soal penetapan 1 Syawal yang sifatnya amat sangat sakral ini.
Saya menarik nafas panjang…. ! Terbayang kembali berbagai tamu di rumah Megawati, Ibu Umar Wirahadikusumah, Fauzi Bowo, eks Gubernur Wiyogo Atmodarminto, sampai BJ Habibie, yang saya kunjungi berlebaran, rata-rata sama bingungnya dan menyesali kejadian ini. Selamatkanlah negeri ini, Tuhan. Janganlah kerapkali menjadi bahan tertawaan orang di luar sana…. (sekedar tambahan, saya angkat topi kepada pak dubes Djoko yang sudi berbicara apa adanya dan menyampaikan kenyataan di lapangan yang ia alami di negeri penempatannya ).