Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Mania Telo

@ManiaTelo : Mengamati kondisi sosial,politik & sejarah dari sejak tahun 1991

Pendidikan Antikorupsi Sejak Dini (Belajar Memberantas Korupsi dari Hongkong-3)

OPINI | 25 August 2011 | 13:03 Dibaca: 487   Komentar: 2   0

Iklan antikorupsi dari KPK beberapa kali cukup gencar di media,namun frekwensinya semakin berkurang & mulai menghilang. Mungkin KPK kurang dana untuk ber-iklan atau media & perusahaan-2 BUMN serta swasta kurang tertarik untuk ber-iklan bersama dengan KPK dalam mendukung kampanye antikorupsi di Indonesia.  Bisa jadi mungkin korupsi di Indonesia malah menguntungkan perusahaan swasta di Indonesia,yaitu menaikkan omzet penjualan mereka ; Jadi buat apa ber-iklan bersama dengan KPK untuk memberantas korupsi atau mengajarkan antikorupsi sejak dini? Bukankah itu akan membuat omzet mereka menurun?

Hongkong sebagai suatu koloni kecil Inggris waktu itu (sebelum tahun 1997) terkenal dengan korupsinya. Mungkin korupsi di Hongkong waktu itu lebih parah dari korupsi yang ada di Indonesia sekarang,sebab korupsi di Hongkong dilakukan oleh hampir semua kalangan atau bahkan penduduk Hongkong. Mereka menghalalkan cara agar bisa mendapatkan uang; Di kalangan bawah,hanya dengan suap atau tips kecil  mereka baru mau melakukan sesuatu,tanpa uang mereka tidak mau melakukan sesuatu yang mustinya mereka harus lakukan walau seharusnya tanpa pemberian uang. Di kalangan menengah sampai keatas tidak usah ditanya,semuanya korup luar biasa.

Tetapi anehnya keadaan tersebut sekarang sulit sekali dijumpai di Hongkong. Mereka “malu” untuk menerima uang yang bukan hak-nya,namun demikian kita masih bisa menjumpai hal tersebut dilakukan oleh kalangan “tua” yang mungkin sebelum  tahun 1997 banyak melakukan tindakan-2 korup. Di kalangan mudanya mereka berhasil mendidik untuk antikorupsi.

Bagaimana di Indonesia?  Kampanye antikorupsi saja setengah-2 karena kurang dana & kurang mendapat dukungan dari kalangan BUMN & swasta,bagaimana mau mendidik generasi mudanya? Warung kejujuran yang menjadi kampanye antikorupsi pun “hangat-hangat tahi ayam” bahkan dikatakan sekarang sudah banyak yang tutup karena terus merugi. Warung kejujuran yang dibuka di hampir semua instansi,sekolah,bahkan tempat ibadah pada terus merugi. Karena tidak tahan rugi,maka kemudian banyak yang tutup. Kejujuran menjadi “barang langka” di Indonesia saat ini.

Kalau kejujuran saja sudah menjadi langka di Indonesia,maka jangan berharap kalau masyarakat tidak melakukan suap atau menerima suap. Masyarakat Indonesia sekarang menjadi masyarakat pragmatis dalam memandang kehidupan,kalau bisa jalan pintas menuju kaya dengan jalan “tidak halal” kenapa harus pakai jalan “halal” segala?

Pendidikan antikorupsi yang diajarkan oleh Prof.Tony Kwok Man-wai adalah “Jangan menoleransi suap sekecil apapun” .  Sikap antikorupsi harus dibangun sejak dari sekolah taman kanak-kanak. Kampanye dengan pemasangan spanduk,tulisan yang dipasang di setiap instansi “Memberi & menerima uang melanggar hukum karena termasuk suap. kalau ada keluhan bisa menghubungi nomor HOTLINE…..” membantu perubahan kultur masyarakat. Kampanye iklan antikorupsi “korupsi merusak keluarga” juga effektif untuk merubah kultur masyarakat.

Pejabat yang melakukan Korupsi di Indonesia menjadi kebalikannya,yaitu “korupsi membahagiakan keluarga”…keluarga mereka sangat bahagia karena bisa menikmati kondisi yang luar biasa berkecukupan,bisa pelesir & menyekolahkan anak-2 mereka di luar negeri,punya apartemen/rumah berserakan di luar negeri dan dalam negeri,mobil-2 CBU di rumahnya yang mentereng,bahkan bisa tampil di acara Kick Andy atau acara-2 talk show lainnya untuk membantah dirinya korupsi & merasa “di-zalimi” ….Mereka memang sudah kehilangan “urat malu” nya……….!

Di Indonesia,uang “haram” bisa menjadi “halal” setelah didoakan. Lihat saja pemberian uang zakat untuk Mesjid & fakir miskin ,uang perpuluhan untuk gereja dari para pejabat korup & pengusaha hitam….semuanya didoakan seolah Allah SWT akan “mengkuduskan” uang haram tersebut. Jadi,bagaimana mau mendidik dari awal? Semuanya dikuduskan oleh Allah SWT ………….amit-amit dech…!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 6 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 7 jam lalu

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemeriksaan Keperawanan Itu “De …

Gustaaf Kusno | 7 jam lalu

Autokritik untuk Kompasianival 2014 …

Muslihudin El Hasan... | 8 jam lalu

Kangen Monopoli? “Let’s Get …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Catatan Kecil Kompasianival 2014 …

Sutiono | 8 jam lalu

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: