Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Widodo Judarwanto

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician. www.growupclinic.com www.allergycliniconline.com www.pickyeatersclinic.com www.dokteranakonline.com "We are guilty of many errors and selengkapnya

Mengapa Jenderal Besar Soeharto Presiden Terhebat?

OPINI | 15 August 2011 | 15:01 Dibaca: 14179   Komentar: 6   1

Jenderal Besar Soeharto kembali dinobatkan sebagian masyarakat Indonesia sebagai kepala negara yang paling berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Hasil tersebut diambil saat dilakukan survey oleh Setara Institute. Hasil survey Indobarometer sebelumnya  juga menunjukkan Soeharto presiden terbaik di Indonesia. Mengapa Soeharto dijadikan rakyat sebagai presiden terhebat ?  Tidak dipungkiri Soeharto sangat berjasa dan prestasinya membangun bangsa ini patut diberi apresiasi tinggi. Soeharto dengan segala kelebihan dan kelemahannya namanya telah terpatri dalam otak rakyat sebagai manusia dewa yang hebat dan tidak pernah salah. Hal ini didukung oleh penggiringan opini media masa saat itu yang sedang terbelenggu. Bila Soeharto hidup dan memerintah di era reformasi ini mungkin kehebatan Soeharto akan menjadi lain.

Penelitian yang dilakukan setara institute ini dilaksanakan tanpa ada paksaan maupun intervensi terhadap para responden. Dalam survey, masyarakat diminta mengisi jawaban terhadap apa yang dirasakan selama 66 tahun mengenyam kemerdekaan. Sebanyak 64,6 persen responden memilih Soeharto sebagai presiden paling berhasil mensejahterakan rakyat. Presiden Soekarno berada di posisi kedua dengan jumlah responden. yang memilih sebanyak 13,6 persen. Urutan ketiga, ditempati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebanyak 9,9 persen. Presiden Abudrahman Wahid dipilih oleh 5,5 persen responden, Presiden Megawati Soekarnoputri dipilih oleh 2,5 persen orang, sedangkan Presiden B.J. Habibie dipilih 1,7 persen orang. Sekitar 2,1 persen responden yang tak menjawab pertanyaan tersebut.

Kemudian muncul peluncuran buku Pak harto, The Untold Stories. Soeharto adalah pemimpin besar yang banyak dipuja dan tetapi sebaliknya banyak dicerca. Tetapi saat ini angin sedang bertiup kencang mendorong sisi baik dan kehebatan Jenderal Besar Soeharto. Tidak bisa dipungkiri survey Indobarometer menunjukkan kerinduan akan kepemimpinan Suharto. Fenomena unik saat ini bukan hanya pendukung Soeharto yang memujanya. Tetapi beberapa tokoh yang dulu sangat keras menentang bahkan disakiti dan dibui, saat ini terang-terang kagum dan memuji berlebihan tokoh orde baru itu. Sebut saja Fahmi Idris, Sukardi Rinakit, AM Fatwa dan tokoh lainnya saat jaman orde baru adalah penentang paling keras. Tetapi terakhir ini mereka berubah drastis.

Sosok Bapak Pembangunan yang melekat dalam diri sosok Soeharto, tampaknya juga tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan kesejahteraan rakyatnya. Jend. Besar TNI Purn. Haji Muhammad Soeharto, lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, 8 Juni 1921. Dia meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008 pada umur 86 tahun. Soeharto adalah Presiden Indonesia yang kedua (1967-1998), menggantikan Soekarno. Di dunia internasional, terutama di Dunia Barat, Soeharto sering dirujuk dengan sebutan populer “The Smiling General” karena raut mukanya yang selalu tersenyum di muka pers dalam setiap acara resmi kenegaraan.

Sebelum menjadi presiden, Soeharto adalah pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. Soeharto kemudian mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, dan resmi menjadi presiden sejak tahun 1968. Pada tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei tahun tersebut, menyusul terjadinya Kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa. Ia merupakan orang Indonesia terlama dalam jabatannya sebagai presiden. Soeharto digantikan oleh B.J. Habibie.

Peninggalan Soeharto masih banyak diperdebatkan sampai saat ini. Dalam masa kekuasaannya, yang disebut Orde Baru, Soeharto membangun negara yang stabil dan mencapai kemajuan ekonomi dan infrastruktur. Suharto juga membatasi kebebasan warganegara Indonesia keturunan Tionghoa, menduduki Timor Timur, dan dianggap sebagai rezim paling korupsi sepanjang masa dengan jumlah $AS 15 miliar sampai $AS 35 miliar.

Mengapa Soeharto Terhebat

Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa Soeharto dianggap sebagian besar rakyat sebagai presiden terhebat. Sebenarnya tidak mudah untuk menilai prestasi dan kehebatan seorang presiden yang telah memerintah. Setiap presiden yang ada,  jaman dan tantangan yang dihadapi berbeda. Tetapi selain berbagai prestasinya, Soeharto menjadi sangat hebat karena saat itu masyarakat telah terpatri otaknya dengan pecitraan presiden yang tidak mempunyai kecacatan dan selalu benar. Hal itu terjadi karena pengaruh media masa yang memposisikan Soeharto adalah seorang dewa yang tidak pernah salah.

Memang tidak bisa dipungkiri kehebatan Soeharto dalam memimpin hampir 32 tahun. Soeharto, melakukan pembangunan secara rinci dari tahap ke tahap.  Tahapan awal dilakukan adalah membangun bidang pertanian setelah itu berbicara industri, dan lain sebagainya. Dibidang pembangunan ekonomi dan pertanian adalah menurunkan tingkat inflasi dari 650% menjadi 12% dalam beberapa tahun pertama kepemimpinannya. Selain itu, dia juga punya andil besar dalam pembangunan irigasi pertanian yang tersebar diseluruh wilayah nusantara, yang sampai saat ini belum ada presiden yang mampu membangun sejumlah irigasi pertanian itu

Soeharto hidup dalam jaman otoriter dan tangan besi. Mungkin saja pola pemerintah tersebut tidak salah pada jamannya. Karena saat itu Indonesia masih dalam kondisi persatuan, kesatuan dan keamanannya masih sangat buruk. Begitu juga tingkat pendidikan dan perekonomian rakyat masih belum tinggi. Dengan pemerintahan yang otoriter dan tidak demokratis itu Soeharto bisa membangun bangsa ini dengan lebih cepat dan lebih baik.

Bukan hanya itu, di era kebebasan pers masih terbelenggu Soeharto adalah sosok pimpinan yang tidak pernah salah dan selalu benar. Karena, tidak ada seorang wartawanpun yang berani menulis kelemahan Soeharto. Kalaupun berani langsung di”petrus”kan atau masuk bui dengan tuduhan subversif. jadi saat itu Soeharto adalah seorang dewa yang tanpa cacat sedikitpun.

Situasi dan kondisi saat itu juga saat aman karena media masa dapat dikendalikan dalam mengolah berita. Setiap ada berita suara jarum jatuh yang dapat membuat ketidakstabilan bangsa ini maka langsung diredam. Sehingga saat itu suasana terekam dalam otak masyarakat dalam keadaan aman. Padahal saat itu juga banyak kerusuhan, korupsi, pemberontakan, dan berbagai tindak kriminal lainnya

Berbeda dengan jaman era demokrasi saat ini. Kemajuan pesat teknologi dan demokrasi bukan hanya menyebabkan eforia berdemokrasi tetapi juga menciptakan eforia informasi yang demikian luar biasa. Setiap orang yang punya media dan punya kesempatan dapat bebas mengeluarkan opini tanpa peduli etika dan semangat membangun bangsa.

Saat ini media masa hanya dipengaruhi oleh berita kerusuhan, korupsi, perkelahian antar penduduk dan berita buruk lainnya. Meski yang berdemo hanya belasan orang, berita itu dapat menghiasi deadline sebuah berita yang mengatakan bahwa rakyat sudah tidak percaya lagi pada pemerintahan SBY. Berita seorang pengemis di jalanan yang dirazia, sudah dianggap sebagai kegagalan negara tidak bisa mengolah ekonomi dan membantu rakyatnya.

Bukan hanya itu saja, saat ini siapapun presidennya bila tidak punya pendudukung media masa maka akan cepat mudah dibenamkan segala prestasi dan kehebatannya.  Saat ini semua orang dan semua media dengan mudah mengatakan bahwa SBY salah, SBY hanya omong doang, SBY korup atau apapun kejelekan presidennya diungkap secara tidak proposional dan tidak wajar. Sehingga setiap langkah yang dilakukan SBY dan pemerintahannya selalu salah dan tidak ada  sedikitpun prestasi yang terungkap. Setiap langkah SBY selalu saja dianggap sebagai pencitraan. Tetapi justru setiap kata yang diucapkan SBY, dijadikan komoditas untuk mencetak berita yang membuat SBY selalu salah

Padahal pengakuan dunia telah mengalir kepada SBY dan pemerintahannya. Meski juga banyak kekurangan dan kelemahan yang ada. Apresiasi Indonesia sebagai negara demokratis terbaik dan terbesar di Asia jarang sekali menjadi kebanggan bangsa ini. Penilaian majalah Time dengan menobatkan SBY sebagai pemimpin paling berpengaruh di dunia tahun 2009, tetapi oleh bangsanya sendiri justru dianggap sebagai pembohong. Termasuk oleh kelompok dan tokoh agama yang sudah bermain di arena politik. Prestasi ekonomi Indonesia yang sangat pesat yang termasuk negara terbaik di Asia bersama Cina dan India di tengah krisis ekonomi dunia, terhapus hanya gara-gara berita kekisruhan koalisi politik. Berita prestasi seorang Sri Mulyani sebagai menteri keuangan terbaik di Asia karena prestasinya dalam mengelola departemen dan ekonomi Indonesia menguap begitu saja diganti kasus politik Century.

Saat ini sangat jarang sekali jurnalis yang mencari informasi ke pejabat pemerintah menanyakan program dan rencana pembangunan pemerintah. Saat ini wartawan tidak berselera untuk meliput prestasi para menteri dan presidennya di lapangan. Justru para jurnalis lebih berselera dengan tindakan siapa saja menteri yang akan termasuk dalam reshuflle kabinet.  Sekarang di gedung pemerintahan atau kepresidenan di dominasi oleh wartawan yang mencari konfirmasi tentang tuduhan dan tudingan kepada pejabat bermasalah yang sudah ramai termuat di media masa. Saat ini kaum jurnalis lebih tertarik kontroversi atau kemelut politik dibandingkan meliput prestasi bangsa ini.

Saat ini semakin langka manusia idealis dengan informasi yang independen dan berkualitas tanpa dipengaruhi kepentingan politis dan kelompoknya. Sehingga informasi yang ada hanyalah pikiran negatif, kecurigaan dan yang tidak berdasarkan fakta serta tidak berkualitas. Informasi itu hanyalah berisikan saling tuduh, provokatif, saling menuduh, saling menyalahkan, tidak ada solusi dan tidak menyejukkan. Mungkin saat ini manusia idealis hanya berharap pada sosok profesi jurnalis, teknokrat, ilmuwan atau tokoh agama yang belum terpapari polusi politik yang jumlahnya semakin langka.

Saat ini di Indonesia tampaknya idealisme jurnalistik semakin tergadaikan oleh kepentingan bisnis media, kepentingan pemilik modal yang terkait dengan kehidupan politik. Meski tidak sedikit juga media yang masih menjunjung tinggi idealisme jurnalistik tanpa mementingkan kepentingan bisnis media atau kepentingan pemilik media. Informasi yang tidak independent paling banyak dijumpai dalam berita politik, hukum dan sosial. Sumber utama kekisruhan informasi adalah pengaruh politik yang merasuki pemberitaan.

Saat ini eforia demokrasi dapat dilakukan oleh siapapun yang mempunyai media dapat melakukan pemberitaan apapun tanpa melihat fakta jurnalistik dan demi kepentingan pribadi dan kelompok. Hal ini juga dapat dilihat saat ini jarang sekali kita menemukan berita yang secara fair tentang berita citra positif pemerintah dan prestasi bangsa ini. Adalah sangat langka keberhasilan pemerintah diangkat dalam sebuah berita. Kalaupun ada biasanya didominasi oleh kritikan dan pesan akhirnya malah membenamkan keberhasilan itu. Hal ini juga dilakukan bukan hanya oleh media tetapi oleh sebagian besar pengamat politik. Justru para nara sumber yang berkopeten seringkali diambil yang bombastis dan sarat dengan kepentingan tertentu. Saat ini menjadi barang langka seorang nara sumber baik dari para tokoh agama, teknokrat, ilmuwan, politikus yang menyuarakan fakta kebenaran yang berkualitas. Sayangnya sosok yang independen seperti ini jarang disorot media. Media cenderung menyenangi para nara sumber yang bombastis, layak jual dan mudah dikompori. Justru sosok seperti inilah biasanya mempunyai niat tidak tulus dan tidak baik. Mereka hanya beropini demi kepentingan pribadi dan kelompok yang mendukungnya.

Berita dan opini tergantung selera dan kepentingan orang yang memberitakan. Saat ini selain langka dengan manusia idealis juga langka dengan berita independen karena semua sumber informasi dan nara sumber didominasi kepentingan pribadi dan partai yang mengatasnamakan rakyat.

Bila jenderal besar Soeharto hidup pada jaman reformasi ini maka cerita akan mengatakan lain. Tidak mungkin ada bapak pembangunan yang mencitrakan presiden yang mensejahterakan rakyatnya. Meski prestasi itu benar adanya, maka media masa dan musuh politiknya pasti dengan mudah mengatakan bahwa Soeharto adalah Bapak Koruptor dan Bapak Pelanggar HAM. Seandainya kerusuhan Tanjung Priok yang menghebohkan itu terjadi saat ini, maka media masa akan dengan mudah menggiring opini rakyat untuk menggulingkan Soeharto. Seandainya kehebatan prestasi pembebasan pembajakan Woyla yang diakui dunia itu terjadi sekarang, maka media dengan mudah akan memutar balikkan bahwa itu hanya sebuah rekayasa politik penguasa.

Memang semua komponen bangsa ini tidak boleh mundur kepada kebebasan berpendapat yang terkekang seperti jaman orde baru. Tetapi sebaiknya kebebasan berpendapat yang dibuat dikedepankan demi kepentingan dan persatuan bangsa bukan untuk individu atau kelompok. Pengamat, media masa atau elit bangsa tidak dilarang mengkritik, dan wajib mengkritik sebagai tugas profesi dan sosialnya. Tetapi seharusnya sosok ideal adalah rajin mengkritik pemerintah, mempunyai solusi, tetapi demi kebaikan dan kemajuan bangsa bukan sekedar untuk kepentingan pribadi pemodalnya atau kelompoknya. Saat ini sangat langka media berita dan informasi yang melangkah dalam idealisme profesi tanpa terpengaruh pemodalnya. Sekarang sangat sulit dijumpai media masa yang memberi pesan positif, inspiratif dan membangun bangsa. Sebaiknya media masa dan semua elit bangsa harus menjunjung tinggi profesionalitasnya dengan mengacu pada kalimat orang bijak. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.  Yang penting saat ini mungkin bukan untuk menilai siapa presiden yang hebat ataukah presiden saat ini tidak hebat. Siapapun sosok presiden Indonesia itu harus didukung kehebatan dan sisi positifnya, tetapi sisi negatifnya harus diperbaiki bukan malah dicaci. Media masa masa sebenarnya bila dengan positif dan arif dapat digunakan sebagai alat yang sangat dahsyat dalam pembangunan bangsa ini. Sebenarnya kekisruhan dan keruwetan bangsa ini hanya tampak di televisi dan media yang dilakoni segelintir para elitnya. Sebagian rakyat yang sedang susah payah mencari sesuap nasi tidak pernah peduli para tokohnya saling tuding, saling menyalahkan dan saling curiga di depan kaca televisi atau di koran. Begitu kondisi aman, kondusif dan tidak penuh gejolak maka siapapun pemimpinnya akan dinobatkan sebagai pemimpin terbaik yang dapat mensejahterakan rakyatnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Getar Aura Mistis di Sudut Pantai Baron …

Teguh Hariawan | | 21 September 2014 | 07:00

Biang Macet Kota Bogor …

Cucum Suminar | | 21 September 2014 | 07:16

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | | 20 September 2014 | 21:49

Bingung Mau Buka Usaha Apa? Ini Caranya …

Yos Asmat Saputra | | 21 September 2014 | 06:39

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 7 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 23 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Cinta Cenat Cenut di Usia Matang Manggis …

Fidiawati | 7 jam lalu

Cognitive Neuroscience: Entrance Gate of …

Wahyu Riska Elsa Pr... | 7 jam lalu

Dari Masa ke Masa? …

Fajar Ayu | 7 jam lalu

Budak Gadget …

Yahya Farida | 7 jam lalu

Dharmasraya dan Potensinya Menjadi …

Zulfadli Adha.sp | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: