Artikel

Politik

As Rul

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Belajar dan Belajar. Menginisiasi Kerjasama Kab/Kota di Indonesia by Lekad (Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kerjasama Antardaerah) plus menginisiasi Pengelolaan Sampah Kota by Gerakan Indonesia Hijau Foundation > www.asrulhoesein.blogspot.com www.gerakanindonesiahijau.blogspot.com

Marzuki Alie Ganti Anas Urbaningrum


OPINI | 05 August 2011 | 10:42 Dibaca: 258   Komentar: 5   1 dari 1 Kompasianer menilai aktual

Ketua DPR Marzuki Alie_Doc.KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Terlepas kontroversi atas pernyataan-pernyataan yang “selalu” dibuat oleh Ketua DPR –RI Marzuki Alie, (MA) selama menduduki dan menjalankan tugas dan kapasitasnya selaku pimpinan lembaga tersebut. Juga pada wawancara MA di TV One (kamis,4/8), sangat jelas menandakan dirinya “maaf” tidak mampu berpolitik atau benar minim pengalaman politik, ini pengakuan sendiri MA. Pernyataan ini “mungkin” artinya kalau MA keliru dalam memberi pernyataan-pernyataan dianggap biasa saja, mungkin itu maksud MA di wawancara tersebut. Pastinya, pada wawancara itu, menandakan MA tidak atau kurang berbobot menduduki posisi pimpinan DPR, semoga wawancara itu tidak terpenggal-pengal lagi atau dimuat secara utuh, dan juga pada postingan ini tidak dirinci kalimat-kalimat dari MA pada wawancara di TVOne itu. Karena kalau mau dirinci wawancara itu, memang terkesan “diduga” ada kebencian atau ketakutan pada KPK yang akan datang.

Dalam eksistensi MA selaku Ketua DPR-RI, bukan MA yang salah tapi sebenarnya yang paling keliru adalah Partai Demokrat (PD) sendiri atau bisa jadi bahwa Pak SBY tidak jeli melihat dan membaca kemampuan seorang MA, lalu menempatkannya selaku wakil PD di legislative dengan posisi akhir sebagai Ketua DPR.

Itu masa lalu, semua ini tidak perlu disesali pemilihan dan penempatan MA itu. Sekarang, mari tatap ke depan. Jangan biarkan DPR dan demokrasi di Indonesia tercoreng begini, karena kalau dibiarkan maka akan malu republik ini. Sebaiknya PD atau SBY meninjau kembali posisi MA dan menggantinya dengan kader lain yang dianggap mumpuni memimpin. Sebenarnya dalam kepemimpinan termasuk di DPR itu sendiri, tidak perlu berbasis politik, tapi harus mampu memimpin/mengelola sumber daya, khususnya punya kemampuan berkomunikasi. Dan pula realita di DPR harus diterima sebagai lembaga politik, maka setelah masuk di DPR, haruslah menerima kosekwensi itu, dan bertanggung jawab bukan tanggung menjawab.

Pak SBY sebaiknya tarik saja MA dari Ketua DPR-RI menjadi atau menduduki posisi baru sebagai Pjs. Ketum PD, menggantikan Anas Urbaningrum (AU). Karena jelaslah AU juga tidak akan konsentrasi lagi menghadapi realita akan Nazar Gate ini (baca Anas Nonaktif Dan SBY Keluar Dari Partai Demokrat), begitupun MA sendiri akan tidak konsentrasi melawan arus yang semakin deras menghantam dirinya dan tentu PD itu sendiri. Karena sekarang dari kalangan DPR sendiri yang menekan eksistensi MA. Segera PD berbenah dech dan juga DPR harus berbenah, jangan sampai rakyat menarik mandatnya….Ah ga bisa donk, rakyat tetap lemah dan tidak berdaya???!!!. Kasian.

Sebenarnya, bila SBY selaku presiden tidak ada dalam PD, ah masa bodoh dengan PD, mau hancur atau tidak terserah, pusing komentari juga. Namun karena SBY disitu, nanti atau takutnya SBY tidak konsen mengurus negeri ini, karena terganggu urusan partai (internal PD), dan rakyat juga akan menjadi tumbal semuanya, rakyat sudah lapar, perih dan pedih saat ini. Pak SBY tolong cepat benahi semua ini, jangan sampai rakyat lebih marah lagi. Karena biasanya orang lapar cepat marah lho Pak SBY. Atau Pak SBY, sekali lagi, keluar saja dari PD, biarkan kader-kadernya urus diri dan partainya. Toh juga Pak SBY tidak akan menjadi penumpang partai itu ke depan. Pak SBY, berhentilah berpikir tentang partai, segera focus atau khusyu pikir bangsa dan negara Indonesia tercinta ini.

GIH Foundation

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: