Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Mania Telo

@ManiaTelo : Mengamati kondisi sosial,politik & sejarah dari sejak tahun 1991

Uang Transport = Money Politic

HL | 27 July 2011 | 01:22 Dibaca: 935   Komentar: 48   4

1311737891715040513

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Acara Jakarta Lawyer’s Club di sebuah TV swasta Indonesia yang dipandu oleh Bung Karni Ilyas pada tgl 26 Juli 2011 kemarin malam sangat menarik. Bukan pembahasannya saja yang menarik, tetapi “celotehan” di acara itu sangat menarik, khususnya tentang uang yang diberikan kepada peserta Kongres Partai Demokrat & Partai Persatuan Pembangunan pada waktu memilih Ketua Umum. Disinyalir ada banyak uang diberikan kepada peserta kongres untuk memilih seseorang untuk menjadi Ketua Umum.

“Money politic” bukan barang baru di dunia perpolitikan Indonesia maupun belahan dunia manapun. Istilahnya pun beragam untuk membuat kesan tidak ada perbuatan yang dilanggar terkait dengan “money politic”. Istilah yang populer di Indonesia dengan merebaknya “nyanyian Nazaruddin” adalah “uang transpor” dimana para peserta Kongres Partai Demokrat diperkirakan mendapat “uang transpor” yang “na’udzubillah” jumlahnya. Barangkali nilainya “uang trasnpor” tergantung “jauh-dekatnya jarak tempuh” …?

Sampai suatu ketika ada seorang rakyat kebanyakan bertanya “Emang tiket pesawat/KA/bus di Indonesia sangat mahal ya? Kok uang transpor para politikus mencapaii puluhan hingga ratusan juta?” Mungkin Menteri Perhubungan Republik Indonesia bisa menjawabnya…?

Kongres PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang baru saja berlangsung dengan memilih Suryadarma Ali menjadi Ketua Umum untuk kedua kalinya juga “dituduh” oleh seorang pemirsa yang hadir di studio waktu itu (juga seorang advokat) ada “permainan uangnya”. Mungkin juga istilahnya “uang transpor” kalau seandainya ditanyakan ke Suryadarma Ali sebagaimana yang juga dikatakan oleh Anas Urbaningrum kepada pers. “Uang transpornya” bisa mencapai Rp 50 juta per orang (per suara?)

Luar biasa sekali kalau sampai terjadi pemilihan Ketua Umum sebuah parpol saja sampai menghabiskan milyaran rupiah hanya untuk menyandang jabatan ketua umum. Tentu kalau sudah begini jadinya, tidak mungkin motivasinya untuk memimpin sebuah parpol untuk mengabdi kepada rakyat, bukan? Yang pasti akan mengabdi untuk sebuah “ambisi” yang tersimpan di lubuk hati & sulit orang lain mengetahuinya, kecuali “orang-orang terdekat” yang menaburinya dengan “uang transpor” tersebut. Orang-orang itulah yang nantinya akan “menagih Return on Investment/ROI” seperti yang dilakukan oleh Nazaruddin & “teman dekat” keluarga SBY dalam kasus Century (untuk detilnya baca buku “Cikeas kian menggurita)

Kalau sudah terungkap “uang transpor” sampai puluhan s.d. ratusan juta bahkan sampai milyard rupiah. Kok masih saja menyangkal bahwa itu bukan “money politic” …..Terus wajah politikus Indonesia itu masih dibilang jujur & santun?

Ada-ada saja…..!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menyelamatkan 500 Generasi Muda dari Dampak …

Thamrin Dahlan | | 19 September 2014 | 20:47

Dangdut Koplo Pengusir Jenuh, Siapa Mau? …

Gunawan Setyono | | 20 September 2014 | 08:45

“Apartemen” untuk Penyandang …

Arman Fauzi | | 19 September 2014 | 14:10

Saya, Istri dan Kompasiana …

Tubagus Encep | | 20 September 2014 | 08:00

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 2 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 3 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 3 jam lalu

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 11 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Agar Tak Lagi Impor LPG …

Agung Wredho | 7 jam lalu

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | 8 jam lalu

Inilah yang Khas di Jalan Juanda Bogor …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Sate Khas Semarang yang ada Di Jakarta …

Kornelius Ginting | 8 jam lalu

Browser Chrome Tidak Cocok Untuk Membuka …

Ruslan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: