Artikel

Politik

Felix Kusmanto

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Saya adalah mahasiswa program S2 Managerial Psychology dan bagian dari salah satu perusahan konsultan di Kuala Lumpur, Malaysia. Saya Mencoba memberikan pandangan, ide dan konten positive dengan sesingkat mungkin namun berguna. http://felixkusmanto.com/

Saat Anies Baswedan “Mengetuk” Pemimpin dan Rakyat


OPINI | 25 July 2011 | 21:52 Dibaca: 530   Komentar: 9   1 dari 2 Kompasianer menilai menarik

1311591448189106937

Ilustrasi kegiatan masyarakat seperti gambaran Anies Baswedan (dok Pribadi)

“Brilian dan jitu adalah dua kata yang tepat untuk merespon tulisan Anies Baswedan”

Tulisan opini Anies Baswedan di halaman 6 surat kabar Kompas 25 Juli 2011 sungguh brilian dan jitu! Dengan gaya tulisannya yang menggelora, rektor Universitas Paramadina ini seakan berhasil menawarkan pandangan yang menyeluruh dan merakyat saat panggung dalam negeri di isi oleh parodi edisi perdana Nazaruddin.

Tulisannya dikatakan brilian karena opininya yang inspirasional terbentuk hanya dari sebuah kesederhanaan realita dan harapan yang juga merupakan sebuah tuntutan murni dalam masyarakat Indonesia. Namun demikian, belajar dari lagu Bengawan Solo besutan Almarhum Gesang, sebuah kesederhanaan lokal nyatanya dapat membawa sebuah nilai yang jauh lebih kompleks dan jitu dari sebuah orasi wacana. Kejituaan tulisan Anies dalam hal ini dapat di lihat dari efek opininya.  Walau awalnya di tujukan khusus bagi para pemimpin ( Anies menggunakan kata pemimpin dan bukan pemerintah), inti opininya nyatanyapun dapat ditujukan kepada masyarakat awam Indonesia secara luas.

Dalam opininnya Anies mencoba membuka (atau lebih tepatnya mendobrak) paradigma rekaan yang saat ini ada di dalam masyarakat. Dengan ilustrasi yang sangat mudah di pahami, Anies menggambarkan bahwa kenyataannya Indonesia mempunyai harapan dan optimisme. Dan sumber optimisme yang ada saat ini ada terdapat pada dinamika masyarakat Indonesia sendiri. Tugas pemerintah yang  notabenenya memimpin dinamika ini malah berbalik menjadi pereka sikap pesimisme di dalam masyarakat Indonesia sendiri.

Apakah rekaan pesimisme ini adalah sesuatu yang disengaja agar “tikus-tikus” tetap dapat bertahan di tanah penuh harapan Indonesia? Kita tidak tahu. Apakah ini suatu cara agar ego pribadi terpenuhi ? Kita pun tidak tahu.

Yang jelas apa yang ada di Indonesia saat ini belum optimal. Dan yang jelasnya lagi, ada baiknya opini Anies Baswedan dilihat secara optimis sebagai suatu opini universal yang mana tidak hanya di tujukan pada pemerintah saat ini atau dari partai mana, tapi lebih sebagai “ketukan” bagi semua elemen masyarakat yang ada di Indonesia.

Rakyat sebagai kekuatan terbesar jangan pernah putus asa terhadap Indonesia. Lakukanlah yang terbaik dari apa yang dapat di lakukan. Lakukanlah perubahan dari diri sendiri dan perlahan efek itu pasti ada. Seperti apa yang di lakukan Anies dengan ide-ide briliannya.

Wahai pemerintah, yuk baca lagi tulisan Anies… Jika geram? Artinya memang belum optimal.

Salam

Felix Kusmanto

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: