Artikel

Politik

As Rul

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Belajar dan Belajar. Menginisiasi Kerjasama Kab/Kota di Indonesia by Lekad (Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kerjasama Antardaerah) plus menginisiasi Pengelolaan Sampah Kota by Gerakan Indonesia Hijau Foundation > www.asrulhoesein.blogspot.com www.gerakanindonesiahijau.blogspot.com

Partai Demokrat Tidak Melembaga


OPINI | 23 July 2011 | 10:42 Dibaca: 102   Komentar: 10   1 dari 1 Kompasianer menilai aktual

500 Polisi dan Sniper Amankan Rakornas, Kursi Anas Kian Panas!

Postingan ini saya buat untuk sekedar catatan mengantar Rakornas Partai Demokrat yang hari ini dibuka dan berlangsung selama dua hari di Jakarta/Bogor (Sentul). Saya bukan partisan atau pengikut Partai Demokrat, tapi karena Presiden SBY ada di dalam partai itu, maka sebagai warga negara saya sedikit gerah dan gatal untuk ikut sumbang-saran demi restorasi Indonesia, itu diakibatkan fenomena2 yang terjadi sejak KIB II dibawah tangan Pak SBY selaku presiden (pridode II) ini.

Partai Demokrat (PD) yang didirikan oleh 99 orang itu, “sangat” menjanjikan kehidupan berdemokrasi yang sehat dan cerdas pada saat berdirinya. Namun dalam perjalanannya sepertinya mengerucut ke satu figur “tokoh sentral” yaitu seorang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), akhirnya menjadi presiden dua priode. Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis di media bahwa, kenapa para pendiri Partai Demokrat berguguran meninggalkan partainya…??? Ya jelaslah bahwa, didalam PD ini sangat didominasi oleh seorang SBY, karena Pak SBY tentu akan mempertahankan kedudukannya selaku presiden untuk priode kedua dengan aman terkendali. Fenomena inilah sampai beberapa pendiri partai (yang masih idealis dan berwawasan) keluar dan meninggalkan partai yang digagasnya bersama Pak SBY. Awal kejatuhan PD, karena sekecil bagaimanapun peran dari pendiri partai yang lain itu, ya haruslah Pak SBY perhatikan, karena mereka2 itu adalah pemecah batu. Nah ini yang tidak terjadi pada napas ke 99 pendiri partai, tidak sevisi dengan Pak SBY, ada yang keluar dari rel atau eksistensi akan kelahiran partai itu.

Hal tersebut diatas, tentulah namanya masa lalu, yang hanya sekedar bahan cerita yang tidak pernah kita bisa tiba disana, terkecuali untuk dijadikan behan acuan untuk adakan perubahan dalam menuju inovasi atau perbaikan yang fundamental atau lebih saya sebut sebagai restorasi perpolitikan indonesia.

Menurut saya apa yang dilakukan Partai Demokrat saat ini dibawah tangan seorang ketua umum yang bernama Anas Urbaningrum (AU) sepertinya “copy paste” masa lalu atau masa awal SBY. Artinya Anas Urbaningrum mengcopy-paste pola pikir dan pola kerja serta “ambisi” SBY yang lalu itu dalam menghadapi 99 pendiri lainnya. Anas boleh meniru SBY menuju RI-1 tapi jangan totalitas, adakan inovasi, karena masa SBY beda dengan masa Anas donk. Ya ini hasilnya nanti Anas akan dan pasti tidak didukung oleh segenerasinya, pasti ditinggalkan pula sebagaimana SBY ditinggalkan oleh temannya. Ingat Kata Bung Karno “jasmerah”……Jangan melupakan sejarah.

Anas lupa, kenapa SBY merestui dirinya menjadi Ketua Umum Partai Demokrat…ditengarai terjadi money politik tapi menurut saya memang setting SBY menjadikan AU sebagai Ketum PD, demikianlah adanya, walau strateginya sedikit keliru???? Pak SBY sebenarnya mengestimasi Anas jadi RI-1 itu pada priode 2019-2024 (nah ini ideal Anas untuk memimpin Indonesia) dengan berpasangan dengan Ibas sang putera SBY. 2024-2029 duduklah Ibas jadi RI-1 (ya ini katanya, itu kata dan estimasi saya)..hihihihihihi. Untuk 2014-2019 SBY punya “putera mahkota” lain selain Anas-Ibas, saya prediksi akan menarik sang ipar….Itu no problem, karena sepertinya mumpuni juga, ya maklumlah, karena Indonesia krisis kepemimpinan.

Anas tidak mengkalkulasi disini. Bisa baca estimasi saya dalam postingan sebelum terpilih Anas di Bandung (baca dan Klik di Strategi SBY di Kongres II Partai Demokrat ), saya tidak pernah mengestimasi bahwa A. Alifian Mallarangeng (AAM) atau Marzuki Alie (MA) akan terpilih jadi Ketum Partai Demokrat. Malah saya dengan tegas mengatakan bahwa dengan kondisi ini SBY dan Alifian Mallarangeng akan berselisih faham dengan SBY. Jeruk makan jeruk, Sekarang tanda-tanda sudah semakin mendekat. SBY sepertinya kurang mampu “memanaj konplik itu. Pastilah selalu terjadi saling silang antara AU, AAM, dan MA. Kenapa??? Karena yang paling mengestimasi dirinya saat itu menjadi ketum adalah MA.. ditinjau dari beberapa sudut pandang, coba baca juga koreksi saya tentang struktur DPP yang keliru oleh Anas yang dibawah tekanan klik di  Intip Partai “Kabinet Anas” Demokrat”

Strategi yang dijalankan SBY pada saat itu sangat nampak terbaca, saat SBY mengumumkan KIB II, dimana Anas tidak masuk dalam deretan menteri, sementara A.Alifian Mallarangeng duduk…Hahaha… begitu sangat mudahnya terbaca strategi Amerika ini. SBY mestinya pakai strategi China Kuno alias Strategi Seni Perang Sun Tzu. Ya maklumlah karena disana bertebaran alumni2 Amerika, bukan saya kesampingkan strategi ini, tapi perlu kombain beberapa strategi dalam hidup kehidupan, khususnya kehidupan politik.

Untuk Pak Marzuki Alie, SBY tidak susah pikirnya karena sudah duduk cantik sebagai Ketua DPR, paling ke depan ya di MPR atau DPD. Saya curiga pula sebenarnya kedua anak manusia ini (Marzuki dan Mallarangeng, kurang memahami strategi atau rencana Pak SBY saat itu)… Tapi entahlah, karena mereka kan “pintar” juga…????.

Saya juga tidak habis pikir seorang Anto (panggilan akrab A.Alifian Mallarangeng). Anto itu kan orang bugis, sementara di bugis itu, punya “Lamellong” seorang ahli stategi sekaliber Sun Tzu, coba baca postingan saya yang lalu Klik di postingan; Kado Strategi Bugis Untuk Presiden SBY dan DPR), kenapa tidak pakai itu??? Coba perhatikan Jusuf Kalla (JK), sadar atau tidak sadar JK itu adopsi strategi Lamellong dan Sun Tzu, termasuk Presiden Soharto (malah mengkombainnya dengan Amerika dan Jepang). JK Sudah di depak oleh SBY, namun tetap tegar dan mengabdi untuk rakyat Indonesia tanpa henti, akhirnya memimpin PMI, tunggu JK akan memimpin PM dunia setidaknya Asia Raya.

Kenapa SBY pilih Anas ketimbang A.Alifian atau Marzuki Ali??? Jelaslah bahwa dua orang ini “mungkin” (praduga saya) bahwa SBY tidak semudah mengarahkannya seorang Anas, lagi pula Anas bertabiat lebih kurang sama dengan Pak SBY…Beda dengan yang lain, khususnya A.Alifian Mallarangeng.. type temperamental. Anas bersahaya (penilaian saya dari luar, karena belum pernah saya makan semeja dengan Anas).

Kesimpulan dari postingan ini adalah: Resiko akan kesalahan strategi SBY ini adalah pada periode 2014-2019, kekuasaan pemerintahan harus dengan rela Partai Demokrat melepasnya dengan iklas, pertahankan kadernya yang bagus, jeda untuk introspeksi, ubah strategi, perbaiki penerus atau generasi (rekrutmen yang keliru, karena rekrutmen terpaksa, rekrutmen sebagai tanda terima kasih????), lanjutkan partainya, tebas atau amputasi person atau comunitas yang merusakmu, lalu bangkit kembali di priode selanjutnya pasca 2019.

Itu saran dan solusi dari saya, cukup Pak SBY selesaikan tugas kenegaraan bapak dan keluar dari partai, berantas korupsi (khususnya, jangan keluar dari substansi ini). Melalui Rakornas in sebaiknya Pak SBY buat terobosan dengan keluar dari partai. Pertimbangkan kembali struktur DPP s/d DPC yang ada saat ini. Entah mau KLB atau tidak terserah, karena khusus DPP dibawah AU, pasti akan kisruh sampai 2014, karena “Prahara Nazaruddin” akan menjadi makanan empuk kompetitor PD dan media, ya…ujungnya berimbas ketidakpercayaan masayarakat itu sendiri.

Pekerjaan Rumah pertama buat Partai Demokrat (khususnya Pak SBY) adalah datangkan Nazaruddin, itu harga mati. Presiden SBY harus tegas perintahkan Kapolri (khususnya) untuk menangkap hidup-hidup Nazaruddin (jangan dibungkam). Kalau Kapolri tidak mampu ganti dia, penggantinya beri ultimatum lagi tentang penangkapan ini. Ini baru “Nazaruddin”  bisa ditangkap, Tidak ada alasan Polri tidak menangkap Nazaruddin. Saya tahu profesionalisme dan etos polisi bila bekerja cerdas, terkecuali di intervensi (langsung atau tidak langsung). Karena bila tidak priode atau nyanyian selanjutnya seorang Nazaruddin pasti akan bertambah lagi, saya estimasi Nazaruddin akan bernyanyi tentang Century Gate.

Pastinya Partai Demokrat harus melembaga secara modern (PD sekarang tidak melembaga), artinya Partai Demokrat itu hanya tertuju pada satu titik “SBY”, jangan terpaku atau tergantung pada satu titik tokoh sentral, jangan ada saling-silang didalamnya, disana juga akan terjadi proses persiapan “generasi” pemimpin. Ingat…!!!!! Jangan pakai pola atau system kerajaan karena akan muncul dictator didalamnya, seperti yang terjadi pada partai. Nah ini terjadi pada partai democrat yang nota bene hanya punya SBY selaku tokoh sentral.

Terkait postingan ini :

Intip Partai “Kabinet Anas” Demokrat”

Strategi SBY di Kongres II Partai Demokrat

500 Polisi dan Sniper Amankan Rakornas Partai Demokrat

Kado Strategi Bugis Untuk Presiden SBY dan DPR

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: