Artikel

Politik

Iskandar Zulkarnaen

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Di rumah, saya dipanggil Dar. Di sekolah, saya dipanggil Dor. Di kampus, ada yang memanggil saya Day. Di Kompasiana, teman-teman memanggil saya Isjet (alias Iskandarjet, artinya Iskandar Z, kepanjangannya Iskandar Zulkarnaen). Temukan iskandarjet di About.me, Slideshare.net, Twitter, Facebook dan LinkedIn!

Nazaruddin SMS-an, Ngeblog, Wawancara dan Makan Roti di Indonesia


HL | 22 July 2011 | 07:45 Dibaca: 1050   Komentar: 105   4 dari 8 Kompasianer menilai aktual

13113064401367117420

M. Nazaruddin/Admin (KOMPAS.com)

Sebagai negeri sarang koruptor yang sebentar lagi ditetapkan sebagai Negara Kesatuan Kleptokrasi Indonesia (NKKI), tanah air tidak pernah kehabisan bahan cerita heboh seputar korupsi–untuk dijadikan cerita pengantar tidur anak-anak generasi penerus bangsa.

Dan tokoh korupsi hari ini berasal dari petinggi partai Demokrat yang didapuk sebagai penguasa penuh aliran dana partai sekaligus orang nomor tiga partai bernama Muhammad Nazaruddin.

Alkisah, setelah dia ketahuan korupsi sana-sini, si bendahara umum ini dipecat dan diburu oleh pendiri partai yang kebetulan menjadi orang nomor satu negeri ini. “Cari Nazaruddin!” Titah SBY, saat berbicara panjang-lebar sebagai pembina partai.

Cerita perburuan Nazaruddin lalu bergulir cepat selama berminggu-minggu tanpa henti. Namanya tercantum di daftar cekal dan daftar buruan interpol. Keluarganya diajak serta, sehingga nyaris semua yang melekat pada dirinya raib bersamanya–termasuk harta-bendanya.

Sejujurnya, langkah seribu yang diambil oleh koruptor seperti ini bukan cerita baru. Bahkan bisa dibilang cerita basi. Sakit selalu jadi alasan kabur. Pencekalan selalu datang setelah buronan sudah berada di luar negeri. Negara penampung koruptor juga tidak pernah berubah, selalu saja Singapura yang luasnya hanya seukuran Jakarta. Dan negara itu selalu saja adem-ayem seakan senang menjadi negara pelarian dan penampung koruptor.

Bosan kan dengan cerita itu-itu terus?

Tapi meskipun sama-sama kabur, Nazaruddin begitu istimewa. Dia cerdik dan berani. Menjadi inspirasi koruptor lain di penjuru negeri. Dia punya nyali cukup untuk bersuara dari tempat persembunyiannya. Sungguh berbeda dengan buronan kasus korupsi lainnya (termasuk Nunun, istri mantan calon gubernur Jakarta Adang Darojatun, yang kabur setelah ditetapkan sebagai tokoh kunci kasus penyuapan berjamaah yang melibatkan banyak anggota DPR).

Mungkin karena dia merasa benar. Atau mungkin karena dia berasal dari partai penguasa. Atau mungkin karena dia merasa pernah amat sangat dekat dengan presiden sehingga sayang untuk hanya diam duduk-duduk manis di tempat persembunyian.

Dan lucunya, semakin kencang Nazaruddin bersuara, semakin merdu nyanyiannya, semakin dalam lokasi persembunyiannya, dan semakin sulit dilacak keberadaannya. Hingga detik ini, tidak ada seorang polisi pun yang berhasil menangkapnya!

Hampir semua saluran media pernah digunakan untuk berbagi dan berinteraksi. Awalnya dia melayani wawancara wartawan lewat BlackBerry. Lalu dia membuat blog berisi testimoni di Kompasiana dan Blogspot. Setelah itu dia menjadi narasumber Metro TV dalam sebuah wawancara eksklusif via telepon.

Dalam beberapa kesempatan, Nazaruddin menggunakan kerabat di partainya untuk menjadi juru bicaranya atau sekedar menyampaikan kabar dan pendapatnya. Bahkan, di acara talkshow Jakarta Lawyer Club tvOne yang dipandu Karni Ilyas, Nazaruddin tetap berkomunikasi dengan Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana yang hadir di acara tersebut. Dia juga disebut ingin ikut tampil sebagai nara sumber di acara itu meski akhirnya gagal.

“Tadi saya berkomunikasi dengan Nazaruddin. Saya angkat tangan gak dikasih ngomong. Padahal dia bisa ditanya-tanya lewat telepon,” begitu kurang lebih penjelasan bernada protes Sutan usai berkomunikasi dengan kerabatnya yang tinggal entah di mana.

Sekian banyak komunikasi tersebut membuat publik geregetan. Masyarakat jadi gemes mendengar suara Nazaruddin. Tidak sabaran menunggu polisi menunjukkan keseriusannya menangkap Nazaruddin. “Kalau teroris aja bisa ditangkap, masa Nazaruddin enggak bisa.” Begitu suara-suara yang beredar.

Lalu mereka ikut-ikutan peduli. Ikut-ikutan jadi polisi. Ikut-ikutan jadi politisi Demokrat. Ikut-ikutan bertanya, di mana kau Nazaruddin berada?

Kalau masyarakat, polisi, wartawan, Anas Urbaningrum atau SBY bertanya di mana Nazaruddin berada, saya dengan yakin akan menjawab, “Di Indonesia!”

Ukurannya jelas. Dia ngeblog di Indonesia dan melayani wawancara dengan Metro TV dari Indonesia. Kalau soal blog, silakan baca kembali hasil penelusuran IP Address yang saya lakukan terkait aktifitas ngeblog Nazaruddin di Kompasiana. Sedangkan soal wawancara Metro TV, Anda bisa datang ke Sari Roti dan mengajukan pertanyaan ini: “Selain di Indonesia, di mana saya bisa menemukan pedagang keliling Sari Roti?”

Saya tidak percaya Nazaruddin ada di luar negeri. Sekalipun Partai Demokrat pernah mengirim tim khusus untuk menemuinya di Singapura. Pasalnya, tidak ada bukti (minimal foto) mereka pernah bertemu. Dan sekarang Partai Demokrat sendiri tidak tahu lokasi persembunyian Nazaruddin.

Semoga dua alasan itu cukup. Kalau dirasa belum, silakan download jingle Sari Roti lalu jadikan ringtone ponsel. Siapa tahu di pilpres 2014 nanti ada capres yang menggunakannya sebagai materi kampanye.

Teelolet. Teelolet. Telolelalelolet….

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: