Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Sobran Holid

Pelaku usaha kecil yang mengharapkan Indonesia lebih ramah terhadap rakyat kecil.

Sultan dan Akbar Faizal Mundur dari Nasdem, Tanya Kenapa?

OPINI | 07 July 2011 | 17:30 Dibaca: 2085   Komentar: 62   2

Nasdem (Nasional Demokrat)  yang diinisiatori  oleh Surya Paloh dan Sri Sultan Hamengkubuwono X  yang  dideklarasikan oleh  45 orang terdiri dari  para politisi,akamedisi  dan tokoh masyarakat  dengan cita-cita restorasi nasional menuju kemerdekaan orang Indonesia seutuhnya ternyata tidak  mampu menahan “kegenitan” untuk berkuasa dengan membentuk partai Nasdem .

Berdasarkan pengakuan  Direktur Tata Negara KemenkumHAM Asyari Syihabuddin salah satu partai yang sudah mendaftar adalah Partai Nasional  Demokrat (Nasdem),walau dibantah oleh sekjen Ormas Nasdem Syamsul Muarif dan  Sultan Hamenkubowono  X pada awal ramai pemberitaan bermetamorposisnya Nasdem menjadi Parpol pada akhir bulan april .

Partai Nasdem  walau selalu dibantah oleh  pengurus partai dan  ormas Nasdem tidak ada keterkaitan,  tetapi sangat sulit dipisahkan, dari orang-orangnya, visinya bahkan logonya yang tidak ada bedanya kecuali tata letaknya yang terbalik.

1310059319415520379

poto www nasdem

13100592491619855596

poto alfreelogo

Ormas Nasdem  dan Partai Nasdem ibarat pinang dibelah dua, satu irisan , satu tujuan,  dengan memanpaatkan para tokoh nasional yang bergabung.

Rencana launching Partai Nasdem pada bulan Juli 2011  dan “dijualnya” tokoh-tokoh popular  yang tergabung dalam ormas untuk mengenalkan Partai ini membuat sebagian tokoh partai yang tergabung merasa gerah dan mengambil sikap, terus  menjadi bagian dari keluarga besar  Nasdem atau keluar.

Tidak heran Sulan Hamengkubuwono X langsung mengambil sikap tegas  mengundurkan diri dari Nasdem dengan alasan ada kesamaan   logo dan pengurus partai antara Ormas dan partai  Nasdem.

Ketegasan sultan ini juga tidak lepas dari kelangsungan kraton Jogjakarta yang sedang berjuang mempertahankan  Jogjakarta sebagai daerah Istemewa   dengan segala atributnya, terutama status sultan tetap sebagai kepala pemerintahan.

Dukungan politik sangat dibutuhkan terutama dari Golkar karena Sultan adaelah kadernya,  apalagi partai Demokrat  berada pada posisi berseberangan dengan kehendak rakyat Jogjakarta.

Keluarnya Sultan dari Nasdem menjadi berita besar, tidak heran beberapa pendirinya ikut mundur dari Samuel Nitisaputra  (wakil sekjen Nasdem), Rustiningsih ketua Ormas Nasdem Jateng Rustiningsih  yang saat ini wakil Gubernur Jateng sekaligus kader PDIP,  akbar Faizal deklarator Ormas Nasdem yang saat ini menjadi anggota DPR dan kader Partai Hanura.

Dalam tempo yang tidak terlalu lama, sudah dipastikan akan banyak kader Ormas Nasdem Mundur terutama  anggota DPR  yang akan lebih memilih parpolnya dibanding Partai Nasdem yang prospeknya belum jelas.

Sebuah pertanyaan besar bagi kita, benarkah para tokoh nasional yang tergabung dalam ormas demokrat tidak tahu bahwa Nasdem akan menjadi partai nasdem?.

Secara pribadi saya tidak percaya, apalagi bila melihat karakter ambisius Surya paloh yang gagal dalam “pertandingan”  dengan Ical pada saat perebutan dengan ketum Golkar.

Saya kira keluarnya para pendiri dan pengurus ormas Nasdem tidak semata karena Nasdem berubah menjadi partai, tapi lebih kepada pilihan taktis politis dan kepentingan masing-masing kedepan.

Inilah dinamika politik, ada saatnya kepentingan pribadi dan kelompok  yang dibungkus dengan kebersamaan restorasi nasional yang gaungnya indah walau belum banyak berbuat,  harus kembali bubar karena  ternyata cita-cita yang indah itu menjadi berantakan ketika kepentingan pribadi dan kelompok  tertentu untuk berkuasa diwujudkan dalam partai  dan merubah  wajah ormas yang tadinya pelangi.

Hem, dasar politisi  selalu banyak akalnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Haruskah Jokowi Blusukan ke Daerah Konflik …

Evha Uaga | | 19 December 2014 | 12:18

Artis, Bulu yang ‘Terpandang’ di …

Sahroha Lumbanraja | | 19 December 2014 | 16:57

Jalanan Rusak Kabupaten Bogor Bikin …

Opi Novianto | | 19 December 2014 | 14:49

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 6 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 11 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: