Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rusli Sanas

Saya orang kebanyakan yang sedang giat-giatnya belajar menulis. Apabila saya sudah bisa menulis, maka saya akan selengkapnya

Bertanya Kepada Bapak Amin Rais

OPINI | 06 July 2011 | 13:19 Dibaca: 314   Komentar: 2   2

Biasanya orang kaya itu datang dari latar belakang pengusaha, atau pekerja yang berpenghasilan tinggi seperti Direktur Bank, Dokter atau Insinyur. Sekarang keadaan sudah berubah. Kelompok yang masuk jajaran orang  kaya tidak hanya didominasi oleh Direktur Bank yang bergaji tinggi, dokter atau insinyur, tapi politikus yang jadi kader  kader partai. Orang yang menjadi politikus sekarang mencuat menjadi orang-orang kaya baru, apalagi kalau politikus yang berlatar belakang pengusaha, mencari uang akan semakin mudah.

Orang yang sudah bergaji besar biasanya tidak mau lagi macam-macam, dia akan bekerja sejujur-jujurnya, mengabdi kepada pekerjaannya dengan bekerja keras agar hasil kerjanya sesuai dengan penghasilan yang sudah diterima.

Berbeda dengan kader parpol, apa lagi yang duduk di parelemen, biarpun termasuk orang yang bergaji besar, mereka masih berusaha mencari tambahan, bagus kalau cara-cara yang ditempuh itu jujur, celakanya cara yang ditempuh penuh dengan manipulasi dan ketidak jujuran.

Bukti bertebaran di mana-mana dengan banyaknya anggota DPR yang terlibat berbagai kasus korupsi dan beberapa diantaranya telah pula dipenjarakan.

Akhir-akhir ini model-model kader partai mencari uang semakin terkuak. Kasus Nazaruddin yang berBBM ria dengan stasiun TV yang mengungkap aliran dana korupsi dan manipulasi dibeberkan dengan terang benderang, jumlah uang serta nama-nama yang menerima uang.

Sungguh “mengerikan” nama-nama yang disebutkan Nazar adalah nama-nama beken yang di TV penampilannya kelihatan santun cerda  dan sangat terhormat.

Semua itu telah membuat kita miris. Tapi yang membuat lebih  miris lagi adalah  berita yang di rilis majalah tempo terbitan 27 Juni-3 Juli 2011 dengan judul “Rezeki Hutan Politikus PAN”yang menguliti cara-cara beberapa kader partai PAN dalam memanfaatkan kadernya yang menjadi pimpinan di instansi basah mencari uang.

Mereka bertindak sebagai calo mengurus segala macam bentuk perijinan yang tarifnya sungguh bikin kita merinding, ada tarif untuk sumbangan sosial, ada tarif untuk pribadi dan ada pula tarif untuk partai. Bahkan para kader ini bermarkas pula di kementerian tersebut. Ya, ampun!Kasihan negeri ini yang dipenuhi orang-orang yang tidak tahu malu.

Pak Amin Rais!

Saya mengadu kepada pak Amin

Tapi pak Amin jangan menjawabnya dengan:

“Itu tidak benar, mereka kan sudah membantah”

Pak Amin!

Semua yang terlibat korupsi  pasti membantah,

bahkan ketika mereka sudah dijebloskan ke penjara..

Pak Amin!

Kalau maling mau mengaku,

maka, isi penjara akan terdiri dari para maling!

Jadi pak Amin..!

Bagaimana ini…..

Kalau kader pak Amin

berperilaku seperti yang diberitakan majalah  tempo

masihkan pak Amin bisa tidur dengan nyenyak?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 8 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 10 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 11 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 12 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: