Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Mare Simare

Membagi Informasi dan pengetahuan bersama.

1 Juli: HUT Bayangkara Vs Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Papua Barat

REP | 03 July 2011 | 02:17 Dibaca: 262   Komentar: 0   0

13096174851791104881

Masa sedang berkumpuk untuk peringatan 1 Juli

1 Juli diperingati sebagai hari Bhayangara ke 63 bagi republikk Indonesia, tetapi bagi bansa Papua dirayakan sebagai hari Nasional Proklamasi Kemerdekaan Republik Papua Barat, yang dideklarasikan oleh Brigadir Jenderal, Zeth Rumkorem atas nama rakyat Papua Barat pada 1 juli 1971 di Markas Viktoria.


Sekitar kurang lebih seratus rakyat Papua di prakarsai oleh West Papua National Cualition for Liberation (WPNCL) merayakan 40 tahun hari TPN-OPM dalam bentuk doa dan renungan Penderitaan Rakyat Papua di lapangan makam pahlawan, Theys Hiyo Eluwai, Sentani 1 Juli pukul 02.00 hingga 03.30.

Acara perayaan ini diawali dengan pengantar oleh Koordinator kegiatan ibadah, Marthen Goo, menjelaskan kenapa merayakan momen 1 Juli, latarbelakan dan jutuan berdirinya WPNCL sebagai wadah koordinasi (payung) dan mengajak rakyat Papua untuk bersatu, kemudia pembacaan Ayat Alkitab oleh seorang hamba Tuhan, dan dilanjutkan dengan renunggan Penderitaan dari masing-masing stakeholder WPNCL. Diantaranya dari Tahanan Politik Papua, diwakili oleh Eliezer Awom, TPN-OPM diwakili oleh Saul Bomai, Satgas Koteka diwakili Oleh Robeth Takimai dan Gerakan Rakyat Demokratik Papua (Garda-P) diwakili oleh Bovit Bofra.

Perayaat dalam bentu ibadah ini pertama kali dilakukan karena hari ini dari pihak aparat (TNI dan Polri) dianggap sangat potitis sehingga penjagaan dan kewaspadaan lebih ketat dari Pada 1 Desember. Biasanya 1 juli hanya dirayakan oleh TPN di markas masing-masing dengan bentuk ibadah bakan upacara bendera sebagai hari bersejarah bagi TPN-OPM.

Dalam Penyampai refleksi Penderitaan rakyat Papua, Bomai menjelasan, ada dua hal penting dalam momen bersejarah itu yakni, pertama, penolakan terhadap Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) yang dilaksanakan pada tahun 1969 karena dinilai tidak demokratis dan manipulasi oleh pemerintah NKRI dan yang kedua adalah, mendeklarasikan Papua Barat menjadi sebuah negara yang berdaulat, sebagai upaya penyelamatan rakyat Papua yang menagalami penindasan dan perampasan kekayaan alam di tanah Papua.

Tetapi penjajahan itu masi saja terus terjadi sampai saat ini, oleh karena itu mengajak semua komponen perjuangan di Papua untuk bersatu. Selain itu Takimai Juga refleksikan bahwa, “rakyat Papua harus berani, karena berani itu datang dari kebenaran, berani itu datang dari kejujuran, berani itu datang dari kenyataan dan fakta dan keneranian itu datang dari hati nurani”. Eliezes juga menjelaskan, WPNCL jangan dilihar sebagai sebua faksi sediri tetapi sebagai payung perjuangan bersama rakyat Papua. Kondisi saat ini menuntut kita harus bersatu dan maju bersama, jika tidak maka penjajahan akan terus berjaja diatas tanah Papua. Selain itu ujarnya juga, “NKRI harus mengakui dan menunjung tinggi semua aktifitas yang dilakukan rakyat Papua saat ini, karena kita berjuang denga damai dan cara-cara yang bermartabat”.

Selain itu, Bovit juga menyampaikan, bahwa otsus gagal adalah salah satu wujud kegagalan pemerintah dalam membangun Papua, sehingga mengajak rayat Papua harus bangkit bersama dan lawan semua bentuk Penjajahan diatas tanah Papua. Garda-P lahir karena situasi penindasan saat ini, oleh karena itu Garda terus akan berjuang bersama rakyat Papua dalam bentuk apapun, untuk membebaskan Papua dari Penjaja. “Salah satu strata Garda-P adalah membangun pront persatuan, sehingga kami melihat WPNCL sebagai front perjuangan rakyat Papua yang sudah tepat, sehingga kami bergabung dalam payung perjuangan ini, sekarang yang kita harus berpikir adalah bagaimana Perau ini berlayar hingga ke tempat jujuan kita bersama“ ujarnya.

Dalam doa dan renungan rakyat Papua itu, mereka juga memasang 3 spanduk bertulisan yang sama yakni “Peringatan 1 Juli dan renungan penderitaan rayat Papua, West Papua National Kualition for Liberation (WPNCL) dan satu baliho bertulisan beberapa tuntutan kepada pemerintah NKRI yakni, 1). Segera membuka diri bagi terlaksananya perundingan Internasional antara Pemerintah Indonesia dan Rakyat-Bangsa Papua; 2). Segera melakukan langkah-langkah demiliterisasi di seluruh tanah Papua; 3). Segera membuka akses bagi NGO HAM dan wartawan internasional untuk masuk ke seluruh tanah Papua demi pengungkapan fakta dan kebenaran; 4). Segera membebaskan semua Tahanan Politik Papua tanpa syarat. Dan mendesak kepada pihak Internasional untuk; 1). Segera mendorong proses keadilan bagi para korban kejahatan terhadap kemanusiaan di tanah Papua melalui mekanisme peradilan HAM Interasional PBB; 2). Segera mendorong terlaksananya perundingan internasional antara Pemerintah Indonesia dan rakyat-bangsa Papua untuk melahirkan solusi demokratis, damai dan bermartabat bagi penentuan nasib sendiri; dan mereka juga membagi naska deklarasi yang tandatangani oleh Jend. Zeth Rumkorem.

Acara itu berakhir dengan doa Penutup kemudian massa diarahkan untuk makan bersama di pendopo Theys yang telah disediakan, mereka santap bersama lalu memubarkan diri dengan aman dan tertip.

Acara Doa dan refleksi itu terhabat karena pada pagi sekitar jam 09.00, para panitia yang hendak berkumpul untuk mengajak rakyat Papua di paksa bubarkan oleh aparat kepolisian yang datang dengan satu truk Polisi diperintahkan langsung oleh Kapolsek Abepura. Empat orang diantaranya dipaksa antar ke Polsek Abepura, yakni Marthen Goo Sebagai Penanggujawab Kegiatan Ibadah, Bovit, Zakarias Takimai Julian bersama satu spanduk dan satu Baliho bertulisan beberapa tuntutan. Kemudian Mereka didampingi oleh Herman Katmo. Mereka kemudian diantar dengan truk polisi langsung ke Kapolresta Jayapura. Kelima aktifis dimintai keterangan satu persatu diruang yang berbeda, selama kurang- lebih dua jam, setelah itu dibebasan untuk melanutkan kegiatan ibadah. (Baguma Yarinap)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Island Getaway ala Robinson Crusoe ke Nusa …

Ivani Christiani Is... | | 25 July 2014 | 14:32

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Rilis UNDP: Peringkat Pembangunan Manusia …

Kadir Ruslan | | 25 July 2014 | 15:10

Yuk Bikin Cincau Sendiri! …

Ahmad Imam Satriya | | 25 July 2014 | 15:03

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 4 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 8 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 8 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 9 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: