Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Putusemar

now, here I stand, a man among many… who's believe one man, one mouth, one keyboard, selengkapnya

Esensi Demokrasi : “The Open Games”

REP | 14 June 2011 | 12:19 Dibaca: 408   Komentar: 0   0

1308053902154581267

big thing

Esensi dasar kita memilih Demokrasi adalah mengajarkan bahwa siapapun termasuk penguasa harus bermain terbuka, oposisi mengamati dan memberikan punihsmen atas tindakan penguasa right or wrong melalui aturan-aturan yang diterapkan secara transparan, melalui sistem yang terbuka. Jadi dalam era itu open system, open management adalah suatu kewajiban yang harus diterapkan.

Ibaratnya kalau penguasa pengen beli gorengan di pinggir jalan sekalipun harus dilakukan secara terbuka, kelihatan oleh rakyatnya. Siapa yang disuruh beli gorengan itu. Berapa buah gorengan yang dibeli. Belinya ditawar apa tidak. Siapa yang jual gorengan. Dikasih bonus atau potongan harga apa tidak. Gorengannya dimakan bareng siapa, dalam rangka apa, apa manfaatnya penguasa makan gorengan. Apa dampak gorengan yang dimakan penguasa terhadap rakyatnya, makin lalim atau tidak. Atau rakyat jadi sejahtera bila penguasanya beli gorengan itu? Dan yang penting rakyat rela ngga penguasa beli gorengan itu?

Di Arena Laga demokrasi, siapa bermain cantik, elegant, siapa yang mengedepankan fairness, siapa yang curang harus ditampilkan apa adanya. Tanpa make up. Para gladiator yang bermain harus pandai-pandai membawa diri.

Jadi dalam lelaku ini, akan ketahuan siapa yang senang “diving”, pura-pura jatuh kesakitan tapi sebenarnya acting, merupakan kelicikan yang tidak ditolerir dan akan memukul balik. Pencitraan seperti itu hukumannya akan sangat fatal di arena ini, bisa dikartu merah atau dikenai hukuman larangan ikut bertanding seumur hidup atau dihabisi ditengah arena pertandingan.

Kenapa demikian?

Jawabnya sederhana! Rakyat lah yang telah memilih kita menganut Demokrasi! Bukan partai politik. Bukan penguasa, bukan SBY, dan bukan Demokrat yang sangat korup tapi Arogan itu!

Jadi semua aturan main, semua permainan dilakukan secara terbuka, rakyat yang mengatur, rakyat yang menikmati pertandingan bukan penguasa.

Kalau rakyat bosen atau tidak berkenan apa yan dilakukan penguasa yang act sebagai gladiator incumbent di lapangan, adalah sah bila rakyat sendiri yang menghentikan permainan. Atau kalau sebel, rakyat sah dan halal memenggal kepala gladiator arogan, nyelebin, korup, mbosenin, njengkelin.itu. Gampangannya yang berhak arogan adalah rakyat, bukan penguasa!

Jadi sederhananya, kalau rakyat pengen penggal tuh penguasa arogan karena alasan ngeliat mukanya yang nyebelin, itu adalah sah dan halal sesuai aturan Demokrasi. Itu pilihan Demokrasi!

Dan itu yang telah dipilih negeri ini sebagai pranata dalam mengatur aturan main bernegara kita. Itu pilihan rakyat, bukan pilihan penguasa!

Ingat, Reformasi 98 adalah pilihan rakyat saat itu! Dan pilihan Soeharto sang Penguasa ORBA itu, adalah lengser keprabon dengan ngedumel “Ora Pateken.”

Itu salah satu rules of the games dari Demokrasi. Itu esensi transparansi. Bermain terbuka. Open system. Open management. Open Sources! Dan itulah pilihan rakyat NKRI, bukan penguasa !

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Kado Hari Anak; Berburu Mainan Tradisional …

Arif L Hakim | | 23 July 2014 | 08:50

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49


TRENDING ARTICLES

Prabowo Lebih Mampu Atasi Kemacetan Jakarta …

Mercy | 14 jam lalu

Kalah Karena Dicurangi? Belajarlah pada …

Ipul Gassing | 14 jam lalu

Prabowo Subianto Tolak Pilpres 2014, Berarti …

Danny Ph Siagian | 16 jam lalu

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 22 July 2014 09:57

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 22 July 2014 09:20

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: