
Lahir dan dibesarkan PALEMBANG, melarat di tanah jawa
Dibaca: 163
Komentar: 13
2 dari 3 Kompasianer menilai bermanfaat
SBY sebagai Presiden RI, Kepala Negara, Kepala Pemerintahan diserang dari dalam dan luar negeri, konon katanya diserang lewat dunia maya, entah maya sari, maya rumantir, atau mayawati…..
Hampir seluruh media memberitakan ini dengan cara penyajian yang beragam ada yang lewat dialog, talk show, atau debat dan sejenisnya.
Namun hingga saat ini saya sebagai anak bangsa merasakan ada sesuatu yang aneh, menurut saya yang awam dunia politik apalagi ga pernah berurusan dengan partai politik.
Ada yang mengganggu pikiran saya, mengapa tak satupun anak negeri ini merasa bahwa kita sedang dipermalukan jikalau berita seperti ini disaksikan oleh masyarakat dunia internasional.
Kenapa SBY sering bahkan terlalu sering memposisikan diri beliau sebagai Ketua Dewan Pembina Partai politik ……???, bukankah harusnya beliau selalu tampil sebagai Presiden RI yang mempunyai dukungan kuat dengan rakyatnya yang no. 3 didunia dan penduduk muslim terbanyak di dunia.
Ketika SBY menempatkan diri sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat saya sendiri tak merasa tersakiti ketika SBY di Isyukan mempunyai kelainan seksual dengan staffnya atau apalah sejenis itu.
Tapi kan SBY Presiden saya…..??????
Artinya harga diri saya telah di injak-injak oleh orang yang menyebarkan isyu itu, tapi sejak kapan SBY dan kapan SBY menjadi Presiden saya….?????.
Harusnya SBY selalu menempatkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia setelah dia terpilih sebagai pemilik 60 % suara pemilih. Namun apa dinyanah SBY selalu menempatkan diri sebagai Dewan Pembina Partai Demokrat, pun demikian juga bagi para kurcacinya selalu mengkultuskan SBY sebagai dewa nya Demokrat. Mereka lupa bahwa SBY itu saat ini Presiden Republik Indonesia yang secara hirarki berarti milik seluruh bangsa Indonesia. Jadi teramat wajar jika pada saat ini SBY disudutkan tak satupun anak bangsa merasa tersakiti. Harusnya bangsa ini marah sebab Presidennya sedang di olok-olok di ruang publik.
Saya terkadang berharap orang-orang partai demokrat segera keluar dari himpitan kekuasaan sesaat ini dan keluar dengan tangan terbuka, tampil sebagai pemenang bukan berarti harus sombong, kemenganan itu harusnya dimaknai sebagai amanah.
Mendingan berkaca pada partai-partai yang pernah berjaya dan sekarang mengalami depresi berat sebab suara-suara mereka banyak yang hilang menguap entah kemana.
PDIP pernah memenangi pertarungan dan pada akhirnya ditinggal juga karna ada pilihan lain.
Golkar pernah berkuasa selama 32 tahun dan ditinggal jua, karna ada pilihan lain.
Dan khusus untuk Pak SBY segeralah keluar dari kamar yang saat ini anda nikmati, cucilah tangan dengan sabun, jika perlu direndam dengan deterjen biar kuman-kumanya mati, bergabunglah dengan rakyat, harusnya anda saat ini dibelah oleh 250 juta jiwa rakyat bangsa ini, anda tidak sendiri, namun jika anda tetap terlena di dalam kamar yang saat ini membuat anda terbawa mimpi indah itu (itu juga katanya), maka anda akan selalu terpojokan tanpa ada pembelaan dari anak negeri.
Tanpa satupun anak bangsa yang merasa tersakiti jika anda dihina dan sakiti sebab anda seolah bukan pemimpin kami.
Semoga SBY cepat terjaga dari mimpinya, dan bangsa ini segera keluar dari hiruk pikuk yang tak perlu dan mengahbiskan tenaga dan pikiran tanpa menambah kemakmuran rakyatnya.
Lihatlah disekeliling kita, modal asing mulai merambah hingga kabupaten kota, bukankah itu pertanda bahwa pemilik modal besar telah menggeser peran pimilik modal cekak seperti yang dimiliki oleh sebagian besar anak negeri.
Partai politik memang penting sebab partai politik telah mengantar anda hingga kekekuasaan saat ini, tapi menurut ajara Islam, amanah jauh lebih penting, jadi anda akan pilih mana……. monggo…..silahkan Pak SBY….????