Artikel

Politik

Toga Tobing

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Penggiat SDM - Suka Membaca dan Menulis

Melihat Desa Kelahiran Nazaruddin


OPINI | 01 June 2011 | 16:41 Dibaca: 539   Komentar: 4   Nihil

Ini adalah tulisan perdana saya di Kompasiana sejak bergabung menjadi warga Kompasiana, saya memang berkeinginan untuk menulis sesuatu tapi bukan seperti diatas pilihan judulnya, jadi mengapa saya akhirnya memutuskan "Melihat Desa Kelahiran Nazaruddin" sebagai judul tulisan perdana saya? Ini karena kebetulan desa kelahiran nazaruddin bertetangga dengan desa tempat saya waktu kecil hingga menamatkan SMA, apalagi Nazaruddin sedang ramai diperbincangkan saat ini, jadi tepatlah sudah pilihan judul tersebut.

Desa Bangun, desa kelahiran Nazaruddin berjarak sekitar 10 kilometer dari kota Pematang Siantar, kota terbesar kedua di Propinsi Sumatra Utara. Desa ini berada di perlintasan Kota Pematang Siantar menuju Kota Kerasaan, Kabupaten Batubara. Desa Bangun ini masuk dalam wilayah Kabupaten Simalungun, meskipun jaraknya lebih dekat ke Kotamadya Pematang Siantar daripada ke Ibukota Kabupaten Simalungun, Pematang Raya. Saya sendiri tinggal di Desa Laras Dua yg hanya berjarak 4 kilometer dari Desa Bangun. Teman saya SMP banyak sekali yang berasal dari desa ini, ini dikarenakan SMP saya adalah satu-satunya SMP negeri yang terdekat dari Desa Bangun. Sekolah negeri menjadi pilihan paforit waktu itu, itulah sebabnya banyak anak-anak dari Desa Bangun bersekolah di SMP Negeri Siantar Perumnas Batu Anam ini, bahkan sampai sekarang. Saya sendiri masih ragu apakah Nazaruddin ini juga tamatan dari SMP yg sama? Saya tidak tahu, karena saya tidak lagi bermukim disana.

Karena seringnya dulu ber-BMX melewati jalan pintas memotong perkebunan karet untuk bermain ke Desa Bangun, saya jadi kenal betul desa ini, desa ini dikelilingi perkebunan karet dan kelapa sawit yang pada waktu itu masih dinaungi PTP VII Bah Jambi maka tidak heran jika mayoritas penduduk desa ini hidup sebagai pekerja kebun karet, istilah disana disebut "Penderes", sebutan untuk orang yang bekerja mengikis batang pohon karet untuk mengeluarkan getahnya. Mayoritas penduduk desa ini adalah suku Jawa yang dibawa penjajah Belanda dari Pulau Jawa pada jaman penjajahan dulu. Secara turun temurun mereka mewariskan diri sebagai pekerja kebun dari orang tuanya, adapun kehidupan lain selain sebagai pekerja kebun adalah berdagang, tapi ini tidak banyak dilakoni, itulah sebabnya mengapa Nazaruddin mengawali usahanya dibidang perkebunan.

Kehidupan perekonomian Desa Bangun ini biasa-biasa saja, kurang lebih sama dengan desa-desa lain di Sumatra Utara yang diapit oleh perkebunan. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi masih rendah di desa ini, banyak teman-teman saya SMP dan SMA asal desa ini yang menikah setelah tamat SMP dan SMA. seperti yang saya sebutkan diatas, setelah mewarisi diri sebagai pekerja kebun mereka memilih langsung menikah, tidak ada yang salah sebenarnya dengan pilihan ini, hanya saja saya kaget bukan kepalang setelah mengetahui Nazaruddin ternyata kelahiran Desa Bangun ini, tidak pernah saya ketahui sebelumnya bahwa ada pengusaha perkebunan bahkan bendahara umum sebuah partai besar terlahir dari desa ini.

Demikian tulisan saya, semoga bermanfaat.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: