Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dedi Kurnia Syah | Azra

Telah menulis setidaknya lebih dari 5 buku bertema Komunikasi, Politik dan Demokrasi. Saat ini sedang selengkapnya

Politik Sang Jendral

OPINI | 21 May 2011 | 08:51 Dibaca: 294   Komentar: 2   0

“Kebenaran dalam percaturan politik adalah sebuah kepentingan, asumsi kebaikan bersama, demi rakyat dan demi suara-suara Tuhan adalah kebohongan bersama (Schamandt, 1982)”

1305924259252262786

Bung, Semoga penerus mu mampu mencapai cita-cita bangsa ini.

Dalam politik, yang terjadi pada detik pertama belum cukup mampu dijadikan penanda kejadian detik kedua, selalu terjadi perubahan dan banyak hal menjadi mudah untuk sebuah alasan. Asumsi Schamandt, seorang pakar ilmu politik kelahiran Amerika Serikat tidak bisa dianggap remeh. Begitulah adanya bahwa politik adalah kepentingan, dan kebenaran dalam politik akan menyesuaikan dengan kepentingan tersebut.

Strategi Cerdas Politik Prabowo

Perayaan pemilihan umum (Pemilu) masih menunggu tahun 2014. Akan tetapi hawa panas kontestasi para calon pemimpin negeri sudah mulai mengasah strategi perang politik. Hiruk pikuk politik kian hari kian rumit dan mendekati kejenuhan. Salah satu dari banyak tokoh politik yang sedang ramai dalam perbincangan adalah Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, yakni Prabowo Subianto. Ia bergerak cepat dan cerdas dalam menjalankan operasi strategi dengan keberanian tinggi dan beresiko.

Mantan pendamping Megawati Soekarno Putri dalam pemilu presiden tahun 2009 ini secara pandai menyusupkan kader terbaiknya yakni Muchdi Pr untuk masuk ke wilayah pimpinan tertinggi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dengan alasan yang sangat sederhana, Hijrah ke Partai berlambang Ka’bah. Bukan tanpa alasan seseorang yang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain tanpa sandingan kepentingan. Siapapun itu jika alasannya murni karena ideology pribadi adalah Nonsense.!! Begitu juga dengan Muchdi Pr ke PPP, ataupun Dede Yusuf dari PAN ke Demokrat, dan juga Ruhut Sitompul dari Golkar ke Demokrat, semuanya adalah kepentingan dan kebenaran yang mereka usung adalah kebenaran menurut kepentingan mereka bukan kebenaran umum menurut yang lain.

Tentu sangat masuk akal dan penuh rasionalitas jika Prabowo dengan strateginya mengutus Muchdi Pr untuk menjadi bagian dari PPP. Usia Prabowo belum terlalu tua untuk bertarung sebagai calon Presiden Negara kaya raya ini tiga tahun mendatang. Karena hanya di tiga tahun mendatanglah kesempatan Prabowo untuk maju sebagai capres berakhir. Jika tidak sekarang, maka jangan berharap untuk mendapatkan kesempatan.

Riuh Rendah PPP

Perbincangan menarik pekan ini adalah adanya ledakan kecil dalam tubuh partai Persatuan Pembangunan (PPP), partai senior sekaligus pemain politik orde baru tersebut mengalami krisis kepercayaan terhadap Ketua umum Suryadharma Ali. Apa pasal, adanya kekecewaan Suryadharma terhadap penggerak gerbongnya untuk tampil sebagai Ketua umum periode selanjutnya terganjal dengan tim yang tidak solid dan konsisten mendukung. Selain itu, suhu semakin menghangat ketika Musyawarah Wilayah (Muswil) Papua yang dimenangkan oleh Kader Prabowo yakni Muchdi Pr tidak di akui oleh Suryadharma.

Sehingga sebagian kader PPP yang mendukung Muchdi Pr melakukan reaksi atas keputusan ketua umum partai berlambang ka’bah tersebut, bahkan mereka mengancam untuk menggiring kisruh pengakuan hasil Muswil Papua ke ranah hukum. Sepintas tidak ada yang menarik dari wacana ini, akan tetapi jika ditelusuri secara mendalam dan dari sisi kepentingan ada rencana hebat disana.

Muchdi Pr adalah kader partai Gerindra yang melakukan prosesi Hijrah (pindah tempat) ke PPP, justru perpindahan inilah awal strategi dilancarkan. Partai besutan Prabowo Subianto tidak merasa kehilangan seorang Muchdi Pr. Justru sebaliknya, dengan gencarnya Muchdi Pr bertarung untuk maju sebagai nahkoda PPP akan menjadi ukiran sejarah bagi Gerindra. Apa pasal, tidak ada alasan lain kecuali untuk Prabowo for RI 1 2014. Jika ini terbukti, Nostalgia Orde Baru kemungkinan besar terulang, apapun prediksi nantinya semoga Indonesia lebih baik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 14 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 9 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 9 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 9 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: