
Moslem Activist, Manchester United Lover, Has a big passion on Politic, Economy, History, Philosophy, and Islamic Tought. Student Of Paramadina University...
Dibaca: 178
Komentar: 0
Nihil
Pada tanggal 21 Juli kita selalu merayakan Hari Kartini. Hari tersebut adalah hari dimana kita mengenang Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan dan kebangkitan nasional. Kartini adalah model perempuan yang mendobrak kebekuan tradisi dan peradaban. Pikiran-pikirannya jauh melampaui zamannya. Pikiran-pikirannya menjadi pembaharu zaman partriarkhisme dan penindasan perempuan. Kartini telah menjadi inspirasi tidak hanya bagi kaum perempuan, namun juga bagi bangsa Indonesia.
Lewat beberapa surat-suratnya yang dikenal dengan Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbit Terang), RA Kartini tidak hanya sebagai seorang srikandi Indonesia yang menentang adat zamannya, tetapi juga senantiasa menentang kolonialisasi yang dilancarkan oleh rejim imperialisme dan kolonialisme Belanda. Sehingga layaklah kita sematkan kepada RA Kartini sebagai perempuan pelopor kebangkitan nasional.
Lalu bagaimana peran perempuan Islam masa kini? Adakah Kartini-Kartini muda yang senantiasa peka terhadap permasalah bangsanya? Dimana kartini-kartini muda yang dengan pemikirannya berusaha untuk mengabdikan diri untuk bangsa dan negara? Bagaimana Islam memandang peran perempuan dalam berbagai bidang? Penulis ingin mencoba sedikit mengulas pertanyaan diatas. Dan juga mengulas salah satu sektor yang masih di dominasi oleh kaum laki-laki yaitu politik.
Menurut Nash Al-Qur’an
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka yang ta’at kepada Allah dan Rosul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana” (QS.Attaubah:71).
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih
dari apa yang mereka lakukan…” (An-Nahl: 97)
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai
pertanggungjawaban atas apa-apa yang dipimpinnya.” (Al-Hadits)
Dalam konteks ayat maupun hadits diatas, seluruh kaum muslimin diperintahkan untuk menjalankan perintah-perintah diatas tak terkecuali. Baik laki-laki maupun perempuan.
Peran Muslimah Di Zaman Rasulullah SAW
Dalam Bai’ah Aqobah kedua (Sumpah Setia Muslimin Kota Madinah), yang menyatakan kesetiaan kepada Agama Islam dan Kepemimpinan Rasulullah SAW, maka masyarakat Muslimin Madinah mengutus 70 orang wakilnya, yang mana dua orang perempuan turut serta untuk mewakili komunitas muslim Madinah. Dalam konteks kultural pada waktu itu, pengakuan akan eksistensi dan perwakilan wanita adalah sebuah perlawanan budaya yang luar biasa. Karena di zaman itu memiliki anak wanita saja adalah suatu hal yang memalukan dan aib.
Kitapun telah membaca dalam rentangan sejarah Islam bagaimana perempuan muslimah keluar bersama para pejuang Islam, mereka mengobati prajurit yang terluka dan memanggul senjata jika diperlukan, seperti Rafidah, Nasibah dan Khaulah serta Ummu Sulaim. Imam Bukhori, tokoh Hadits nomor satu dalam pencatatan hadits SAW, telah membuat bab khusus dalam Kitab Hadits Shahihnya dengan judul ‘Keluarnya Perempuan Bersama Para Pasukan fi Sabilillah’ dan beliau telah meriwayatkan perkataan salah seorang shahabiyat (muslimah yang hidup di zaman Nabi), “Kami dulu berperang bersama Rasululloh SAW, memberi minum dan melayani tentara dan kami juga membawa pulang mereka yang terbunuh dan terluka ke Madinah”.
Masih banyak kisah keterlibatan muslimah dalam politik. Bahkan tercatat, orang yang pertama kali masuk Islam dari umat ini adalah wanita, yaitu Khadijah. Orang yang pertama kali mati syahid dalam Islam, juga seorang wanita, yaitu Sumayyah ibunda Ammar Bin Yassir. Asma Binti Abu Bakar adalah wanita yang mengantarkan makanan untuk Nabi dan Abu Bakar ketika bersembunyi di dalam gua Tsur dalam perjalanan hijrah ke Yatsrib. Lalu ada pula Aisyah R.A yang ikut terjun langsung ketika terjadi gejolak politik pada pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang kita kenal dengan ‘Perang Jamal’. Demikianlah kita menyaksikan kontribusi sahabat muslimah yang demikian besar di ranah publik, termasuk di wilayah politik.
Peran Muslimah Kekinian
Aktualisasi peran politik muslimah akan berkaitan erat dengan problematika kehidupan yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan politik. Problem politik mendasar negeri-negeri muslim adalah kebodohan politik masyarakat dan kezaliman para penguasa. Peran muslimah dalam politik dengan demikian bertujuan untuk membebaskan masyarakat dari kebodohan politik dan membebaskan umat dan belenggu kezaliman para penguasanya, untuk kemudian menghadirkan suatu kehidupan politik baru yang Islami.
Oleh karena itu, pada dasarnya suatu keharusanlah bagi seorang muslimah untuk mempunyai wawasan politik yang luas (Mutsaqqof Al-Fikr). Sebuah hal yang mustahil bagi mereka, para muslimah besar sepanjang sejarah, untuk melakukan perubahan jika mereka tidak mempunyai pengetahuan yang mumpuni di bidang sosial politik alias ‘melek’ politik. Maka dari itu, mempunyai wawasan politik adalah suatu konsekuensi atas amanat yang seharusnya mereka emban. Sehingga bila sudah mempunyai wawasan politik yang mumpuni, maka akan timbul kepekaan dan kepedulian. Dan pada akhirnya akan muncul para perempuan muslim sebagai agen perubahan yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Wallahu a’lam.