
Moslem Activist, Manchester United Lover, Has a big passion on Politic, Economy, History, Philosophy, and Islamic Tought. Student Of Paramadina University...
Dibaca: 162
Komentar: 0
Nihil
“Mengingat kesenjangan yang begitu jauh antara cita-cita para pendiri negara dengan kenyataan yang kini kita saksikan, maka bangsa Indonesia memerlukan adanya suatu momen historis dalam bentuk penyelenggaraan pemerintahan dan penggunaan kekuasaan yang dengan sungguh-sungguh diwujudkan secara konsisten dengan cita-cita pendiri negara. Sebab, betapa pun harus diakui dan dihargai, bahwa para pendiri negara kita telah meletakkkan fondasi yang kokoh untuk dibangunnya pikiran-pikiran terbaik mengenai bangsa dan negara. Momen historis itu diharapkan dapat menjadi rujukan generasi berikutnya dalam pembangunan bangsa dan negara. Saat memulainya adalah sekarang ini, saat setelah bangsa kita telah tumbuh dalam jangka waktu setengah abad lebih, suatu masa yang seharusnya sudah mulai membawa kita kepada tingkat kematangan dan kedewasaan lebih tinggi…” Cak Nur- Indonesia Kita
Karya Indonesia kita yang ditulis pada tahun 2003 merupakan refleksi pemikiran tentang Keindonesiaan dari Nurcholish Madjid atau Cak Nur (1939-2005). Cak Nur adalah tokoh bangsa dan intelektual publik yang fenomenal serta berpengaruh pada zamannnya dan generasi yang lebih muda. Yang konsisten memandang kemajemukan internal umat Islam dan kemajemukan antar umat beragama, sekaligus problem kebebasan beragama.
Walaupun beliau mendapat doktor di bidang filsafat dan banyak berkecimpung di kajian pemikiran Islam, dia pun sangat peduli dengan keadaan politik dan masalah kebangsaan Indonesia, terutama ketika awal reformasi. Buku Indonesia kita merupakan salah satu bukti nyata akan kepeduliaannya tersebut. Buku setebal 204 halaman ini berisi pemikiran tentang ‘keindonesiaan’ Indonesia yang dia tawarkan sebagai solusi atas berbagai permasalahan bangsa.
Awal pembahasan buku ini menjadi sangat menarik karena Cak Nur membahas Indonesia dari tinjauan historis klasik nusantara. Dia sadar bahwa bangsa Indonesia tidak akan pernah lepas dari lembar sejarah masa lalunya. Kesadaran akan pembelajaran masa lalu sangat penting bagi Indonesia yang ingin maju dan terus berkembang. Nasionalisme klasik dan modern pun tak lepas dari awal pembahasan buku ini.
Selanjutnya, Cak Nur memaparkan tentang konsep negara-bangsa (nation-state) yang dipilih oleh para pendiri bangsa kita. Cak Nur menjelaskan tentang pentingnya kontrak sosial yang dia contohkan pada Piagam Madinah, juga tentang menjaga kesatuan dalam perbedaan. Selain itu Cak Nur pun menekan pada Supremasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Di pembahasan berikutnya, Cak Nur mencermati tentang sistem presidensial dan parlementer yang pernah dirasakan Indonesia.
Yang menarik bila kita mencermati setiap gagasan dalam buku ini adalah tak lepasnya gagasan dan konsep Islam dalam setiap ide kenegaraan dan kebangsaan yang dibawa oleh Cak Nur. Contohnya adalah konsep Piagam Madinah yang sering dijadikan contoh nyata dalam ide pluralisme berbangsa. Atau misalnya dalam masalah HAM beliau menjelaskan dengan mengutip sabda Nabi SAW, “Barangsiapa membunuh sesorang tanpa orang itu melakukan kejahatan pembunuhan atau perusakan di bumi maka bagaikan ia membunuh seluruh umat manusia, dan barangsiapa menolongnya maka bagaikan ia menolong seluruh umat manusia.”
Ini mempertegas bahwa Cak Nur tak melepas nilai-nilai keislaman walaupun dalam konsep bernegara. Dia memang menjajakan sekularisasi tapi menolak sekulerisme. Seperti ketika membantah kritik H.M Rasjidi, dia menyatakan bahwa sekulerisme baginya adalah ideologi tertutup menuju penjauhan diri dari Tuhan.
Platform Dan Rencana Capres
Cak Nur berencana untuk memberikan kontribusi yang nyata dengan maju ke Capres Pemilu 2004. Namun Cak Nur sadar bahwa untuk menjadi capres harus mendapat dukungan dari partai politik dan hanya Golkar lah yang membuka pencalonan presiden dengan mekanisme konvensi. Maka Cak Nur pun berencana untuk mengikuti konvensi parta Golkar. Pada saat momen inilah Cak Nur menulis buku “Indonesia Kita” yaitu tentang sepuluh platform politik untuk memperbaiki bangsa dan negara.
Sepuluh platform tersebut adalah:
1. Mewujudkan good governance pada semua lapisan pengelolaan negara
2. Menegakkan supremasi hukum dengan konsisten dan konsekuen.
3. Melaksanakan Rekonsiliasi Nasional
a. Menarik pelajaran pahit dari masa lalu dengan tekad tidak mengulanginya
b. Menatap masa depan dengan pendamaian dan penyatuan seluruh kekuatan bangsa
c. Menegaskan garis pemisah antara masa lalu dan masa datang
4. Merintis Reformasi Ekonomi dengan mengutamakan pengembangan kegiatan produktif dari bawah
5. Mengembangkan dan memperkuat pranata-pranata demokrasi: kebebasan sipil (khususnya kebebasan pers dan akademik), pembagian tugas dan wewenang yang jelas antara pemerintahan , perwakilan, dan pengadilan.
6. Meningkatkan ketahana dan keamanan nasional dengan membangun harkat dan martabat personel dan pranata TNI dan Polri dalam bingkai demokrasi.
7. Memelihara keutuhan wilayah Negara melalui pendekatan budaya, peneguhan ke-Bhineka-an dan ke-Eka-an, serta pembangunan otonomisasi.
8. Meratakan dan meningkatlan mutu pendidikan si seluruh Nusantara.
9. Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat sebagai tujuan bernegara
10. Mengambil peran dalam usaha bersama menciptakan perdamaian dunia.
Dalam usaha menarik dukungan dari berbagai kalangan, Kesepuluh platform tadi merupakan syarat mutlak dari Cak Nur jika partai politik akan mengajukan namanya sebagai calon presiden. Jika partai politik lebih memilih nama, namun enggan menerima kesepuluh patform yang diajukan itu, maka Cak Nur dengan tegas menolaknya. Cak Nur menegaskan bahwa pendekatan yang ia lakukan adalah platform, bukan dirinya pribadi. Jadi ia mendahulukan platform, bukan orang.
Namun Cak Nur pun mensyaratkan untuk mengikuti konvensi partai Golkar apabila Akabr Tanjung -yang saat itu menjabat ketua umum Golkar- untuk tidak mengikuti konvensi Golkar. Menurut Cak Nur, langkah Ketua Umum Golkar itu dinilai tidak etis ikut serta dalam konvensi calon presiden. Disamping itu, Cak Nur mengkhawatirkan terjadinya inside preding antara Akbar Tanjung dengan panitia konvensi yang tentu saja akan memenangkan Akbar Tanjung karena statusnya sebagai Ketua Umum Golkar.
Dan pada akhirnya pun Cak Nur memutuskan mundur dari konvensi pencalonan calon presiden Partai Golkar. Satu masalah yang menjadi kendala dan kemudian dibicarakan banyak pihak adalah Cak Nur membawa bekal visi dan misi secara amat kuat, namun kader Golkar menanyakan ‘gizi’ yang berarti uang sebagai syarat untuk memilihnya. Walaupun belum sempat mengaktualisasikan pemikiran ke-indonesia-annya tersebut, Cak Nur tetap akan dikenang dengan pemikiran politik keindonesiaannya yang besar. Wallahu a’lam.