Back to Kompasiana
Artikel

Politik

T Eva Christine Rindu Mahaganti

Memimpikan Indonesia benar-benar merdeka. Suka menuangkan semua mimpi, harap,kecemasan,keprihatinan dan gagasan dalam tulisan. Percaya bahwa selengkapnya

Membubarkan DPR, Mungkinkah?

OPINI | 07 May 2011 | 10:12 Dibaca: 284   Komentar: 26   0

Pada mulanya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dibentuk untuk mewakili rakyat dalam mengawasi jalannya roda pemerintahan. Sebagai pengawas yang mewakili rakyat, DPR itu seharusnya menjadi corong rakyat, mulutnya rakyat, matanya rakyat, berpikir sebagai rakyat, bertindak sebagai rakyat, hidup merakyat dan bekerja untuk rakyat. DPR dipilih oleh rakyat, untuk berpihak pada kepentingan rakyat. Itu teorinya.

Ada beberapa tugas dan wewenang DPR sebagai dewan yang dibentuk dan dipilih oleh rakyat. Namun saya hanya mengangkat beberapa tugas pentingnya untuk menjadi bahan pertimbangan kita bersama, yaitu:

Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan APBN.

Sudahkah DPR menjadi pengawas yang baik dalam pelaksanaan undang-undang dan APBN? Tidak. DPR justru menjadi pelanggar undang-undang yang mereka setujui sendiri, dengan menonton film porno saat paripurna. Itu yang tertangkap tangan. Entah berapa banyak lagi pelanggaran yang belum tertangkap kamera? Tampaknya kita membutuhkan bantuan para wartawan kita untuk menangkap basah pelanggaran mereka saat bekerja, sebagai bentuk pertanggungjawaban publik atas kinerja mereka.

Tentang tugas mereka mengawasi pelaksanaan APBN, apakah mereka sudah melaksanakan tugasnya dengan baik? Mereka justru menjadi penikmat APBN itu sendiri, dengan melakukan kunjungan kerja dan studi banding yang jelas-jelas hanya menghabiskan uang negara. Tidak hanya itu. Mereka bahkan ‘memaksa’ membangun gedung mewah sebagai tempat kerja, agar mereka semakin nyaman tidur saat rapat dan bisa berenang dan spa saat reses sidang. Betapa nikmatnya menjadi anggota Dewan. Jalan-jalan pakai uang negara, bahkan untuk SPA dan berenang pun, menggunakan uang negara. Hebat betul.

•Menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat.

Apakah anggota DPR kita yang terhormat sudah melakukan tugas ini? Tidak. Mereka menutup telinga untuk penolakan rakyat atas pembangunan gedung baru. Mereka menutup telinga untuk keberatan rakyat atas rencana kunjungan kerja dan studi banding mereka. Hanya dengan alasan “semua sudah dianggarkan di APBN sebelumnya”, jadi mereka tidak bisa mundur lagi. Rakyat cukup memikirkan diri sendiri saja, bagaimana mencari makan saja, tidak perlu dilibatkan dalam rencana pembangunan gedung. Rakyat sudah terlalu pusing dengan perut mereka sendiri. Wow..

Kalau dipikir, apakah DPR kita yang terpilih sejak tahun 2009 dan sudah bekerja hampir 2 tahun ini, efektif mewakili rakyat, rasanya tidak. DPR itu lebih sering mewakili kepentingan partai politiknya dan ambisi pribadinya sendiri. DPR lebih memilih menengok betapa indahnya negara lain, daripada menengok rakyatnya yang minim fasilitas pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum lainnya? DPR lebih suka jalan-jalan ke luar negeri, daripada ke perkampungan kumuh, yang bau, becek dan sempit.

Jadi apa gunanya kita memiliki DPR? Mereka hanya segolongan elit di negeri ini, yang menikmati fasilitas negara dan mewakili aspirasi partai politiknya, daripada kepentingan rakyat. Banyak dari mereka malah tidur, baca koran, menggosip, main handphone, nonton video porno, dan melamun saat sidang. Jadi apa gunanya mereka buat rakyat? Apakah tidak lebih baik kita bubarkan saja, agar menghemat anggaran karena menggaji mereka yang tidak amanah? Toh mereka punya pekerjaan sebelumnya. Daripada rakyat dibuat sakit hati terus oleh sikap dan kinerja mereka yang menyedihkan, lebih baik kita tidak usah memiliki DPR saja. Toh sama saja, ada atau tidak ada mereka. Rakyat tetap tidak terwakili dengan keberadaan mereka. Jadi buat apa ada mereka? Hanya, mungkinkah bila DPR itu dibubarkan saja?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | | 25 October 2014 | 06:48

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 12 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sejarah Munculnya Lagu Bunuh Diri Dari …

Raditya Rizky | 8 jam lalu

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 9 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: