NII (Negara Islam Indonesia) di benak awam, rasanya memang ada yang putus kaitan antara tujuan dan cara. Menghalalkan segala cara dalam ingatan kita, pengertian ini lebih distigmakan ke gerakan PKI dulu. Dalam literatur spionase mirip dengan gerakan manson atau gerakan bawah tanah agama lainnya. Sulit diketahui geliat aksi gerakan itu sebenarnya. Tetapi jika dianalog dengan sederhana, sama seperti sebuah iklan, kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Cara pertama yang mengesankan, lalu memetik hasil ironis yang sempurna di akhir cerita. Kesan pertama adalah tentang simpati yang mendalam tentang hukum yang masih menggunakan produk penjajah, Pancasila tidak lagi relevan, korupsi yang merajalela, negara prokapitalisme, sekularisme, masalah-masalah agama dan informasi global (khususnya Palestina), tema-tema ketidakadilan, yang selalu menjadi wacana dan kegundahaan masyarakat banyak. Selanjutnya, mengritik hal-hal itu sebagai suatu yang sesat, tetapi solusinya jatuh ke satu arah tentang penggunaan cara-cara yang sama dengan perilaku yang lebih fenomenal.
..
Mari kita simak lahan yang begitu luas dan telah terhidang untuk mendukung suatu gerakan kekerasan. Dari survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), antara bulan Oktober 2010 sampai Januari 2011, yang dipimpin Prof.Dr.Bambang Pronowo terhadap 1.000 pelajar SMP dan SMA di Jakarta, terdapat indikasi kuat sikap yang mendukung dan bersedia ikut melakukan aksi kekerasan yang berkaitan dengan isu-isu moral dan keagamaan (1). 63% siswa bersedia menyegel rumah ibadat agama lain. 48,9% siswa dan 28,2% dari guru agamanya bersedia melakukan kekerasan karena isu tersebut (2). 25,8% siswa dan 21,2% guru menganggap Pancasila tidak relevan lagi. Mungkin sebagian yang berbeda itu dianggap fannya Justin Bieber. You smile I smile. Adem tanpa kekerasan. Lanjut.. Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Bahrul Yayat menanggapi, ia harus mengkaji lagi metodologi dan instrumen penelitian itu dan menghimbau semua pihak harus berhati-hati dalam menyimpulkan suatu penelitian. Kita tunggu kajian ini. Tentang mahasiswa? mari dibahas.
..
Maraknya berita NII, ternyata berangkat dari berbagai bukti. Ada korban 15 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (3), 4 mahasiswa UGM (4) dan lainnya. “Bahkan ada juga dosen”, demikian keterangan dalam jumpa pers Ketua Forum Ulama Umat Indonesia Athian Ali tentang NII (5) ketika mengaitkan banyaknya jumlah mahasiswa ITB yang DO karena termasuk peringkat pertama terbanyak yang direkrut dan tidak ditemuinya kesulitan membangun jaringan di kampus. Namun ketika ditemui wartawan (25/4/2011), Marlia Singgih, Direktur Humas dan Alumni ITB menerangkan, belum ada laporan mahasiswa yang hilang karena NII. Tetapi memang ada anak dari karyawan yang menjadi korban (6). Yup, memang pasti sulit bagi mantan korban berbicara terbuka. Ada ketakutan, pertimbangan rasa aman dan nama baik pribadi maupun keluarga. Apalagi kalau dosen yang terlibat, wah repot ini. Bisa-bisanya panutan masyarakat menggunakan pesona kecerdasan, tetapi mengorbankan masa depan anak-anak para orang tua atau wali mahasiswa. Maka angka-angka tersebut belum tentu mencerminkan angka sebenarnya, karena dengan alasan-alasan demikian, biasanya yang terjadi adalah fenomena gunung es.
..
Dalam keterangan pers selanjutnya (7), Ahmad Nurdin menjelaskan, bahkan ada dua ribu buruh perusahaan tekstil yang sudah menjadi anggota NII. Nah loh. Tetapi mengapa mahasiswa yang paling diminati? adalah karena mereka tidak sulit menyerap ajaran NII dan menjelaskannya kembali. Namanya juga “mahasiswa”, Bung. Yang mengherankan, kemampuan menyerap dan transfer ilmu tidak sebanding dengan kualitas intelektualitas. Belum lagi bicara akal sehat (commonsense solution). Padahal sejarah gerakan kemahasiswaan pernah mengangkat masalah NKK/BKK terkait dengan kooptasi politik ke kehidupan akademika. Yang menjadi pertanyaan sekarang, dimana ciri khas sifat ilmiah akademika, keterbukaan terhadap kritik, penggunaan banyak pendekatan untuk pengujian? Alat ukur yang layaknya semakin banyak dan berkualitas, riset yang lengkap untuk mencapai kesempurnaan dan kekuatan teori atau kesimpulan tentang negara agama (teokrasi). Termasuk sejarah (bukan ahistoris atau spekulasi deduktif), khususnya tentang studi perbandingan negara-negara yang sudah menerapkannya. Sehingga muncul tanda tanya besar, mengapa begitu mudah diarahkan ke satu kesimpulan metodologis? Menolak NII, berarti menolak ajaran suci dan anti Tuhan. Sugesti yang tidak banyak memberikan kesempatan untuk memperluaskan pikiran atas berbagai sudut pandang, tentang asumsi-asumsi dan jebakan pilihan dikotomis yang dipersempit.
..
Ahmad Nurdin sendiri adalah mantan anggota NII sejak 1988 dan menjabat sebagai Ketua Bidang Pembinaaan Tilawah dan Tajriyah NII. Kemudian mengundurkan diri tahun 2004 setelah menyadari NII wilayah IX ini semakin jauh dari ajaran pokok agama (8) atau NII dalam sejarah dan perjuangan yang sebenarnya. Sisi ini membuktikan, pengetahuan yang luas, baik tentang kenegaraan, sejarah NII, apalagi tentang agama, menjadi garis besar pembalikan. Ini juga berarti bukan masalah agama itu sendiri. Karena agama dalam perspektifnya adalah ajaran yang suci, mutlak dan tidak ada kaitannya dengan stigmatisasi tertentu mengenai agama dari umat agama lain sebagai reaksi perlawanan. Sebut saja agama digunakan sebagai instrumen daya tarik kepentingan politik eksistensial gerakan NII sekarang. Tetapi penempatan kesimpulan yang salah justru semakin menjauhkan agama itu dalam perspektif ini. Demikianlah yang terjadi dengan Pancasila sebagai dasar kenegaraan. Kenyataan ketidakadilan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, tidak ada kaitannya dengan Pancasila itu sendiri. Tetapi kenyataan yang terjadi, pemaknaan Pancasila pun surut bersama kegelisahan dan kekecewaan masyarakat terhadap penyelenggaraan kehidupan kenegaraan kita. Jika ada krisis nilai berpancasila, siapa yang pantas disalahkan atas nama Pancasila itu? Krisis dalam penempatan nilai atas fakta, sadar atau tanpa disadari telah membawa generasi muda memiliki ragam reaksi menyimpang. Perlukah era keterbukaan informasi, jika tidak mungkin dilakukan filter dengan pembatasan arus masuk, harus juga dilengkapi dengan arah pemaknaannya, sebelum dampak negatif yang terjadi tidak dapat lagi diantisipasi? Fakta lain, proses “cuci otak” atau lebih tepatnya disosiasi dalam kenyataan sehari-hari terus mengental, dan interpretasi informasi tersebut ikut berperan terhadap pembelahan pribadi alias ngak nyambung, tanpa perlu mengalami situasi doktrinasi dalam satu ruangan kedap suara.
..
Mari kita dalami sedikit perbedaan cuci otak dan disosiasi secara awam. Jika jawaban tidak berhubungan dengan pertanyaan, ini bisa dikatakan tidak nyambung. Atau ketika sekelompok besar orang sedang membahas sesuatu, tiba-tiba ditanggapi seseorang atau segelintir orang dengan bahasan lain, ini disebut juga tidak nyambung. Lalu apakah bisa disebut disosiasi? Yang namanya disosiasi itu ternyata lebih parah (9). Tetapi Multiple Personality Disorder (MPD) atau pembelahan pribadi (multi), atau sering disebut pribadi ganda berada di tingkat teratas. Ciri utama semua itu adalah pikiran dan perasaan benar-benar tidak nyambung. Penyebab dari gejala yang dapat dikategorikan demikian, umumnya adalah karena pernah stress berat atau traumatis hebat. Kalau tidak pernah atau tidak lagi menjadi suatu masalah, seseorang memiliki mentalitas yang kuat, pikiran kritis dan integritas tinggi, terbiasa untuk berdebat, gejala ini berarti bukan disosiasi. Kondisi disosiasi bisa murni, bisa juga terjadi karena terkondisi atau direkayasa. Ada isolasi informasi, isolasi kelompok, dan berbagai bentuk isolasi lainnya. Hal ini yang penulis anggap sebagai titik akhir kesimpulan sederhana. Bahwa keterbukaan diri atau kelompok atas bahasan berbagai permasalahan bangsa, yang mampu secara perlahan mengurangi kegelisahan yang mendalam, kebencian atau kekecewaan berat generasi muda, apatisme, termasuk masalah pemahaman mendasar terhadap kehidupan ideal antarumat beragama, adalah wajar diakomodasi seluas-luasnya.
..
Perkembangan ironi yang terjadi, kebencian dan balas dendam adalah alat perjuangan yang dibenarkan, bentuk kekerasan tertentu adalah jalan yang terbaik, hal-hal tidak memiliki konteks yang logis, bahkan loyalitas sampai mati karena pembodohan poltik, tampaknya terus berproses. Seakan-akan dibiarkan atau sengaja dipelihara. Alhasil, eksistensi diri siswa atau mahasiswa ditukar dengan pembuktian perlawanan yang fenomenal melalui peristiwa yang heroik, semakin sering tidak terarah. Kekerasan memiliki tempat yang istimewa sebagai prestasi tersendiri. Rekayasa atau pengondisian karena kebencian tanpa ada pilihan jawaban dan solusi lain. Maka fenomena terakhir ini lebih mengacu ke gejala DID (Dissociative Identity Disorder). Tidak ada lagi pemimpin yang pantas diteladani, disegani, dan instrumen negara semakin mengalami pembusukan sistem.
..
Harapan penulis, semoga tidak ada kata terlambat untuk wakil rakyat, para pembina umat beragama, para psikolog dan guru-guru bangsa, khususnya para pemimpin tingkat nasional maupun daerah, agar mampu membaca dengan lebih jeli dan jernih apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat kita. Tidak mudah terbawa popularitas murahan atau takut menghadapi arus mainstream yang berlawanan. Intinya memiliki akhlak, budi pekerti dan watak teladan bagi anak-anak bangsa. Ibarat negara adalah satu tubuh, siapapun warganya, yang masih menempuh jenjang pendidikan, yang belum mendapatkan kerja, yang sulit mencari nafkah sehari-hari, yang mengalami perlakuan ketidakadilan, yang terhina dan tersingkirkan, yang mengalami kekecewaan demi kekecewaan hidup bersama dalam satu bangsa termasuk yang dialami umat yang berbeda agama, adalah satu anggota tubuh yang memliki identitas dan peran bagi kualitas anggota tubuh lainnya. Semoga perjalanan masa depan negara dalam kesatuan bangsa Indonesia, yang pada akhirnya berada di pundak putra-putra generasi muda, tetap berada pada rel yang kita cita-citakan bersama, dan mampu menjawab tantangan aspirasi, mengapa bangsa ini tidak maju-maju.
..
Catatan:
Catatan pinggir ini diambil dari blog pribadi. Ada rekan yang bilang, penulis lagi mood sedih dengan tulisan ini. Hehe.
Sumber informasi :
1) http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/04/110426_surveiradikalisme.shtml
2) http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2011/04/26/brk,20110426-330249,id.html
3) http://regional.kompas.com/read/2011/04/25/20163187/Awas.NII.Cuci.Otak.PNS.di.Malang.
4) http://regional.kompas.com/read/2011/04/25/17503835/4.Mahasiswa.UGM.Jadi.Korban.Cuci.Otak.
5) http://news.okezone.com/read/2011/04/26/340/450225/mahasiswa-itb-paling-diminati-kelompok-nii
6) http://www.inilah.com/read/detail/1449852/antisipasi-nii-itb-awasi-kegiatan-mencurigakan
7) http://www.tribunnews.com/2011/04/26/mahasiswa-itb-terbesar-hijrah-ke-nii
8) http://www.tribunnews.com/2011/04/26/ada-kemungkinan-anggota-nii-direkrut-untuk-jadi-teroris
9) http://www.garambang.info/memahami-fenomena-kepribadian-ganda/