Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Nour Payapo

Hanya fikiran Universal dapat menjawab masalah - masalah yang mengancam ketentraman dan kedamaian dunia. Universal selengkapnya

Cuci Otak Ala Pemimpin RMS

OPINI | 24 April 2011 | 15:42 Dibaca: 814   Komentar: 5   2

Menjelang peringatan proklamasi Republik Maluku Selatan (RMS) malam ini hingga pagi dini hari nanti, Senin 25 April 2011, saya teringat pengalaman sembilan tahun lalu. Saya sempat bertemu beberapa tokoh penggagas kebangkitan kedaulatan Maluku Selatan, salah satu sayap politik RMS.

Saya bertemu dua pemimpin utama Forum Kedaulatan Maluku (FKM). Alexander Hermanus Manuputty, pemimpin Eksekutif FKM. Dua tahun kemudian, saya bertemu dengan Mozes Tuanakota, Sekretaris Jenderal FKM. Pertemuan itu atas kesepakatan redaksi guna pengumpulan informasi, saat saya masih bekerja pada salah satu harian lokal di Kota Ambon.

1303658718200040886

Alex Manuputy, google

Alex ditangkap pada 17 Juni 2001, dengan tuduhan makar. Sebelumnya ia ditahan Kepolisian Daerah (Polda) Maluku awal Januari 2001, tetapi kemudian penahanannya itu ditangguhkan pertengahan Januari 2001. Pada April 2002, Alex masih ditahan untuk kedua kalinya di Kepolisian Daerah (Polda) Maluku. Saya bersama beberapa teman jurnalis bertemu penerima penghargaan dokter teladan itu di lantai dua gedung Polda Maluku. Salah satu ruangan di lantai dua, sejajar ruang Kapolda Maluku dikosongkan. Ruang kosong itu kemudian ditempati Alex untuk menginap sementara, guna menjalani pemeriksaan.

Memegang dan menghisap Dunhill hijau, mengenakan celena pendek, berkaos kerak, Alex bersemangat mengemukakan argumennya. Sejumlah ketidakadilan Republik Indonesia ia sampaikan. Dan yang paling keras dan terus melekat dalam ingatan saya adalah, tentang korban – korban anak Maluku yang berjatuhan sejak konflik berdarah Januari 1999. Saat itu ia menantang beberapa jurnalis termasuk saya untuk melakukan penelitian dan survey atas korban-korban yang berjatuhan tersebut.

“Saya menantang teman-teman untuk melakukan survey, bila perlu ada otopsi terhadap semua korban anak Maluku yang mati. Pasti sebagianbesar mati terkena peluru Pindad, dan hanya sedikit saja dari kedua belah pihak yang terkena senjata lokal, seperti panah dan parang,” kata Alex. Menurutnya, penyebab korban-korban yang berjatuhan di Maluku adalah akibat proyek keamanan TNI untuk menjadikan Maluku sebagai salah satu teritori militer menuju daerah operasi militer. Alex sangat cerdas mencuci otak. Pernyataannya mengungkap keotentikan fakta dan peristiwa, sehingga saat itu, kita harus benar-benar siap untuk tidak terprovokasi, terpancing dan tetap tenang menfilter agitasi Alex.

Point terpenting yang dikemukakan Alex adalah tentang pemerintahan Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1949. Artinya, menurut Alex, kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 belum sah, maka di masa transisi menuju 1949, Republik Maluku Selatan telah memproklamirkan kemerdekaan Maluku 1950. Pengembalian kedaulatan Maluku didasarkan kepada fakta transisi itu.

Sejumlah fakta yang disampaikan Alex Manuputty, tanpa sadar telah membakar sebagian kecil pemuda-pemuda Maluku untuk bertindak radikal tanpa senjata, menuntut kedaulatan bagi rakyat Maluku, dan memakan korban. Lagi-lagi, fakta-fakta yang dikemukakan Alex, bila tidak kita tapis dengan jeli, otak kita akan bersih, padahal kita hanya bertemu Alex tidak kurang satu jam.

Dua tahun kemudian, 24 April 2004, saya bertemu Sekretaris Jenderal FKM Mozes Tuanakota di kediamannya, samping rumah Alex Manuputty lorong PMI, jalan dr. Kayadoe, Kuda Mati, Kecamatan Nusaniwe, Ambon. Pertemuan itu untuk tujuan yang sama, mendapatkan informasi akurat untuk dipublikasikan. Saat itu Alex telah berada di Amerika Serikat. Saya sempat diberitahu Mozes, Alex berada di suatu tempat di Los Angeles. Mozes juga sempat memberikan nomor kontak dan alamat seadanya.

1303659029407436545

Mozes Tuanakota, sctv

Alex lari ke Amerika pada 21 November 2003. Alex kabur dari Indonesia lewat Bandara Soekarno-Hatta. Betapa terkejutnya saya, saat Mozes sempat menunjukkan salinan pidato Alex yang baru dikirim dari Amerika. Bersamaan dengan pidato itu, Mozes juga menunjukkan mata uang RMS, konstitusi RMS, lambang negara dan beberapa dokumen penting lainnya.

Mungkin sejumlah dokumen penting ditunjukkan Mozes adalah bagian dari agitasi untuk mencuci otak siapa saja yang memiliki fasilitas dan media guna mempublikasikan secara luas cita-cita dan tujuan mereka. Dalam pertemuan dengan Sekjen FKM hari itu juga, Mozes mengundang resmi media kami untuk meliput secara langsung penaikan ‘benang raja’ di lorong PMI, daerah historis FKM yang selalu digunakan untuk menaikkan bendera RMS. Hanya saja, situasi keamanan tidak mendukung, saya akhirnya batal meliput peristiwa 25 April pukul 07.00 WIB.

Bagi saya, mungkin bukan hanya RMS, tetapi gerakan apa saja yang memiliki tujuan dan cita-cita, akan selalu mengandalkan taktik dan strategi untuk menang. Isu-isu strategis itu berfungsi ganda, sekaligus mereset logika dan spirit pendukung. Seperti Bung Karno dan Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Amir Syarifudin, M. Natsir dan founding father lainnya memenangkan hati rakyat Indonesia dari Sabang sampai Marouke.

Tujuannya sama, memenangkan hati rakyat. Apakah RMS bisa mencuci otak dan hati rakyat Maluku? Wallahualam bissawab.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Rahasia Mantan …

Witri Prasetyo Aji | 7 jam lalu

Kompasiana …

Siti Nur Hasanah | 7 jam lalu

Menelusuri Pusat Keramaian Pusat Kota Malang …

Muhammad Azamuddin ... | 8 jam lalu

Perawatan Penyakit pada Sistem Pernapasan …

Meli Yunita Agustin | 8 jam lalu

Dari Pameran Foto Arsip …

Ade Aryana Uli Pan... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: