Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Muktar Helmi

humoris, gemuk,

Menakar Kekuatan Politik PKS Menuju Pemilu 2014

OPINI | 15 April 2011 | 08:16 Dibaca: 496   Komentar: 0   0

Partai Keadilan Sejahtera dengan kader kader yang cukup solid dan fanatik bila dibandingkan dengan kader partai lain lebih dikenal di masyarakat Indonesia sebagai Partai Dakwah. Partai yang cukup peduli, bersih dan profesional ternyata mampu menggaet kaum akademisi, anak anak muda, dan terus melebarkan sayapnya menjadi PARTAI TERBUKA.

“Untuk menjadi suatu partai besar bergantung pada banyak faktor. Prinsip inklusif atau terbuka hanya salah satunya,” kata Susilo Utomo, pengajar FISIP Undip itu di Semarang,

Menurut dia, sebuah partai bisa menjadi besar memerlukan figur yang “dramatik” dan menjadi ikon, serta mampu menarik banyak massa, seperti halnya beberapa partai yang memiliki ikon tokoh berpengaruh.

Untuk menciptakan figur seperti itu, kata dia, perlu political marketing yang tentunya membutuhkan biaya tidak sedikit. “Karena itu, mampukah PKS memunculkan figur-figur seperti itu?” katanya.

Ia mengatakan, faktor kedua yang bisa membuat sebuah partai menjadi besar adalah prinsip keterbukaan yang diusung, sebab suatu partai bisa meraih banyak pendukung apabila tidak bersifat tertutup.

“Prinsip inklusif ini tampaknya menjadi andalan PKS saat ini untuk menarik banyak massa, namun partai tersebut harus mampu mengaktualisasikan prinsip-prinsip itu dalam kebijakan-kebijakan yang diambil,” katanya.

Susilo Utomo menyatakan, konsekuensi menjadi partai inklusif, PKS tidak boleh terjebak mengusung agenda eksklusif seperti penerapan syariat Islam dengan formalisasi pada hukum negara atau dalam menyikapi pornografi.

“PKS akan mampu menarik banyak simpati dari masyarakat jika mampu mengaktualisasikan penerapan prinsip keterbukaan seperti itu, kalau tidak bisa maka PKS tidak mungkin menarik banyak simpati,” katanya.

Faktor yang tak kalah penting terkait target PKS menjadi partai tiga besar dalam Pemilihan Umum 2014 adalah kemampuan menjalin hubungan dengan Muhammadiyah, mengingat kader PKS banyak yang berasal dari ormas itu.

Tentunya dengan segala tampilan yang ada Partai ini sangat menarik perhatian berbagai kalangan, hal ini tentu dikarenakan manuver politikus mudanya di senayan dan aksi solidaritas untuk saudara kita yang diseberang lautan.

PKS yang sejak awal berdirinya (Partai Keadilan) 20 Juli 1998 dengan Presiden PKS Nur Mahbudi Ismail,PKS sampai sekarang masih memiliki seorang tokoh yang cukup diperhitungkan yakni ANIS MATTA…Adapun Presiden PKS mulai tahun 1998 Nurmahmudi Isma’il, Hidayat Nur Wahid,Tifatul Sembiring , Luthfi Hasan Ishaq sebagai pjs Presiden PK Sejahtera. Pada Sidang Majelis Syuro PKS II pada 16 - 20 Juni 2010 di Jakarta, Luthfi Hasan Ishaaq terpilih menjadi Presiden PK Sejahtera periode 2010-2015.

Seakan-akan siapapun Presiden PKS, ANIS MATTA lah Sekretaris Jenderal yang pas..PKS setiap harinya seakan dihadang badai silih berganti, di Sulawesi kadernya tertangkap main judi, Arifinto tertangkap kamera nonton video porno, Inisiator Century Misbkhun mendekam dalam penjara, belum lagi Yusuf Suspendi yang terus menggempur pertahanan PKS, sampai kapan bisa tercipta sebuah go…hanya Allah Yang Maha Tahu akan segala sesuatu.

Banyak yang memuji karakter Arifinto karena mengundurkan diri dari DPR RI sebagai konsekuensi moral dan pertanggungjawabannya kepada publik, walau bukan rahasia umum Arifinto juga dipaksa mundur oleh PKS dengan keluarnya surat pemecatan adri DPP PKS. Media Nasional baik televisi maupun surat kabar selalu menyuguhkan berita tentang PKS dan kader kadernya

Hari-hari ini petinggi PKS berebut memuji Arifinto yang mundur karena ulahnya menonton video porno di rapat paripurna DPR. Petinggi PKS tak henti menyebut Arifinto sebagai sejarah baru di DPR, bertanggungjawab dan mundur dari keanggotaan DPR karena perbuatannya sendiri.

“Semoga ini menjadi pelajaran penting bagi anggota DPR lainnya. Jangankan korupsi, nonton video porno saja mundur, apalagi yang melakukan pembohongan. Jadi bagi
orang-orang yang masih ‘tersisa’ sebaiknya mengikuti langkah Arifinto,” kata
Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia, Ray Rangkuti, pada detikcom, Senin (11/4/2011).

“Menyambung pengunduran diri Pak Arifinto atas inisiatif sendiri, kasus Arifinto sebagai contoh kasus komitmen anggota DPR. Banyak kasus-kasus moral lain yang masih dibiarkan,” ujar Ketua DPP PKS, Mahfudz Siddik, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (12/4/2011).

Namun PKS melupakan kadernya yang sudah divonis pengadilan karena terbelit kasus Century.. Kalau demi citra PKS kemudian meminta Arifinto mundur, hal serupa tidak dilakukan pada Misbakhun. Bahkan, Dewan Syariah PKS tidak sampai menyidangkan Misbakhun. Mukhammad Misbakhun adalah anggota FPKS yang sudah beberapa bulan mendekam di penjara karena kasus LC Bank Century. Namun hingga kini Misbakhun masih merupakan anggota DPR yang sah.

Menyikapi PEMILU 2014 PKS

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) optimis justru akan mendulang suara terbanyak di Pemilu 2014 mendatang.

Kasus kadernya Arifinto diprediksi tidak akan mempengaruhi elektabilitas PKS, justru karena sikap gentelmen kadernya itu perolehan suara PKS bakal melonjak.

“Saya yakin apa yang dilakukan Arifinto akan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi PKS di 2014 mendatang,” tutur Sekjen PKS, Anis Matta, saat ditemui di gedung DPR, Jakarta, Selasa (12/4).

Menurut Anis, hal tersebut sangat diyakini karena masyarakat menyaksikan dua hal atas kejadian Arifinto. Pertama sistem orang PKS bekerja dengan sangat efektif. Kedua, tanggung jawab moral yang tinggi dipegang tokoh-tokoh PKS.

“Saya percaya momentum ini justru akan memberikan mailstone penting bagi peningkatan suara PKS di 2014,” pungkasnya

Kekuatan Politik PKS pada pemilu mendatang memang hanya bisa perkirakan dan tidak bisa diukur secara pasti. Tetapi satu hal yang harus kita ingat RAKYAT SUDAH MULAI PINTAR dalam menentukan pilihan….

Dari : Berbagai sumber…………..

By. Muktar Helmi Ketua Umum HMI Cab. Padangsidimpuan 2004-2005

Bukan Kader………………………

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 11 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 13 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 15 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 17 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: