Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Upil

OPINI | 08 April 2011 | 22:49 Dibaca: 70   Komentar: 0   0

Entah kenapa setelah sekian lama tidak menulis lagi , timbul keinginan keras dihati saat ini untuk menulis.  Topik yang sangat ingin saya tulis tidak tanggung tanggung. Adalah : tentang upil. Ya ! upil, Maaf kalau terasa jorok. Seperti wanita hamil ngidam, enggak tau kenapa , sangat terasa mendesak sekali keinginan menulis topik ini tanpa tau alasannya.

Untuk menulis tentang upil tentu saya harus mempelajari detailnya. Takutnya ntar ada yang nanya saya malah tidak bisa menjawabnya . Setelah nanya sana sini ke pak Gugel, diperoleh artikata Upil dari artikata.com . upil artinya adalah kotoran di hidung sedangkan mengupil berarti membersihkan kotoran dihidung. Kalau menurut tololpedia.com, Upil adalah nama sejenis merchandise yang bisa anda dapatkan apabila berhasil melakukan sebuah ekspedisi dihidung Berbentuk seperti kristal padat berwarna agak keabu-abuan, sebutir upil biasanya memiliki komposisi berupa debu, ingus yang telah mengeras, dan bulu hidung. Jika kita beruntung, terkadang pada upil yang berhasil dikeruk dari dalam hidung mengandung sedikit ingus yang masih kental.

Banyak juga cerita lucu tentang upil di internet . antara lain saya copas ya ;

Karakter Orang berdasarkan cara mengupilnya ;

Orang yang mencintai kebersihan:orang yang sehabis ngupil langsung mencuci tangannya.

Orang murah hati:orang yang rela ngambilin upil orang lain.

Orang tolol:Orang yang tidak tahu caranya mengupil.

Orang bijaksana:Orang yang tahu kapan dia harus mengupil.

Orang kasar:Orang yang kalau mengupil seluruh jari telunjuknya masuk semua.

Dst dst …..

Aneh. Saya masih tetap penasaran sendiri juga ya kenapa malam malam ini saya jadi pengen menulis tentang upil. Saya paksa juga pikiran saya mengingat-ngigat apa saja pengalaman saya dengan upil. Pikiran saya melambung jauh kebeberapa masa yang silam. Tapi apa daya dan upaya , saya masih tidak bisa mengingat mengapa saya mau memulis tentang ini.

Aneh tapi nyata , setelah saya mencoba menempatkan diri saya dimasa silam , saya tetap tidak bisa mengingat, malah   kapan pertama kalinya saya bisa mengupil sendiri pun tidak bisa ingat. Tidak mungkin sejak  bayi karena tentu saja pasti bukna saya yang melakukannya.  Saya hanya ingat pertama kali mendengar  suatu cerita lucu  tentang upil dikedai kopi dikampung halaman waktu saya SMP.

Cerita upil yang pertama saya dengar dari seorang bapak bapak yang suka sekali bercerita dan minum kopi dari sehitam hitamnya gelas karena kopi, seiring juga dengan lamanya rentang waktu dia bercerita dan tanpa disadari pemilik warung, bapak itu sudah mendapatkan dua gelas kopi untuk pembayaran segelas kopi . Beli satu dapat dua . caranya sangat halus, setelah dalam jeda waktu setengah jam beliau menyeruput kopinya setengah gelas , dan kemudian beliau minta tambah kopi karena rasa kopinya tidak terasa, sepeminuman teh kemudian  beliau meminta tambah gula karena kepahitan dan sepenanakan nasi kemudian beliau meminta tambah air karena terasa terlalu kental.. Kemudian setelah minum kopi hasil tambahan itu beliau meminta tambah air sampai warna gelas itu menjadi putih kembali setelah berkali kali ditambah air, dan dijeda waktu itulah saya pertama kali mendengar cerita tentang upil

Kemudian Bapak itu bercerita , begini ceritanya …..(ini gaya gaya presenter cerita hantu di TV)

“Ada seorang  Bapak bapak naik Bus dari Jakarta – Padang, Di Gunung Medan ternyata sopirnya mengantuk, dan mobil pun kehilangan kendali meluncur ke pinggir jalan dan masuk kedalam semak semak (untung bukan jurang) . Setelah bis itu berhenti,  penduduk sekitar berdatangan, dan kemudian paramedis kerja cepat langsung mengevakuasi para korban . Aneh bin ajaib, dari sopir 1 , sopir 2 dan kondektur nya beserta seluruh penumpang bis selamat tidak kurang suatu apapun kecuali seorang bapak bapak yang duduk paling belakang. Hidungnya bolong kecil dan dilingkaran yang bolong itu terlihat darah kering.

Paramedis bertanya ;

”pak,  semua penumpang tidak ada yang luka kecuali Bapak. Emangnya Bapak tadi saat mobil keluar jalan sedang ngapain?

Bapak yang Luka Hidungnya ;

” Ooo tadi waktu sopirnya ngantuk dia tidak bilang saya, kalau tadi dia bilang saya , saya tentu tidak akan mengupil”

Jujur saja, melihat gaya si bapak peminum kopi ”2 gelas bayar 1 gelas ” itu bercerita , saya tertawa terbahak bahak .

Saya terus memaksa pikiran saya mengingat ngigat alasan kenapa saya pengen sekali menulis tentang upil.

Langsung saya tanpa kesulitan teringat pada cerita upil yang kedua . Ttentang seorang Bapak yang bercerita kepada anaknya bahwa dia makan upil. Anak nya sangat takjub melihat sang bapak sangat pemberani memasukkan jari kelingking sehabis mengupil. Padahal setelah mengupil dengan jari kelingking , jari kelingking tersebut “seolah olah dimasukkan kedalam mulut” , padahal yang masuk itu jari manis . Hmm Nice Old Trick

Berturut turut saya jadi bisa mengingat terus . Cerita Upil yang ketiga, Oh ya ….tebakan dari salah seorang boss teman saya. “Kenapa orang sehabis ngupil jari jempol dan jari kelingking digesek gesekan?”  Jawabannya adalah karena upil itu  ………….(tentu anda sudah tau juga jawabannya).

Cerita upil yang keempat;  cerita yang saya baca dari blog keponakan yang suka menulis.  Dalam cerita itu Si tokoh wanita dalam cerita itu sangat suka ngupil dan kebetulan sedang naksir seorang cowok cakep disekolahnya . Terkait kebiasaannya ngupil, dia mengeekpresikan cinta nya dengan mengirimkan gambar “Love” kepada cowok idamannya dengan bahan baku upil yang dikumpulkan berbulan bulan . Hahahaha…..saya ngakak terus setiap baca itu walau sudah berulang ulang

Halahhh , kok ngelantur kemana mana? saya mencoba terus flachback ke masa lalu.  Saya berusaha sekuat tenaga terus mengingat ingat penyebab mengapa saya pengen sekali menulis tentang upil ini.

Oh !!!!!! ……akhirnya saya ingat !!!!! Kenapa saya pengen nulis tentang upil . Yap . terjawab sudah.

Sebagaimana seluruh manusia dimuka bumi ini pasti suka mengupil diwaktu waktu tertentu, saya juga suka mengupil diwaktu waktu tertentu. Waktu waktu mengupil tertentu saya adalah saat sambil baca koran pagi. Nah setiap ada berita yang mau bikin saya muntah karena jijiknya, maka saya mengupil dan meletakkan upil saya tepat persis dijudulnya beritanya sebagai ekpressi kejijikan saya . Tadi pagi saya tempelin upil yang ada sedikit lendir yang berhasil dicongkel dengan baik di judul berita pagi kemaren di salah satu Harian Untuk Umum. Judul beritanya   “ Kontrovesi Gedung DPR terus berlanjut.

Selamat Pagi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Heritage Kereta Api, Memadukan Bisnis …

Akhmad Sujadi | | 20 August 2014 | 08:31

Kabar Gembira, Kini KPK Ada TVnya! …

Asri Alfa | | 20 August 2014 | 11:16

Kesadaran Berdaulat Berbuah Ketahanan dan …

Kusuma Wicitra | | 20 August 2014 | 12:38

Saonek Mondi Sebuah Sudut Taman Laut Raja …

Dhanang Dhave | | 20 August 2014 | 12:13

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 8 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 9 jam lalu

Massa ke MK, Dukungan atau Tekanan Politis? …

Herulono Murtopo | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: