
the witness, saksi mata. berpikir dengan mata telanjang. dipandu dengan kesadaran. karena itu never block blogs, because in the country of the blind, the one-eyed man is king. kesaksian adalah testimoni akhir yang perlu didengar. agar kita bijak menekuri realitas. belajar dari kesalahan masa lalu. walau kesaksian tidak selalu benar dalam perspektifnya. kata para bijak, "those who can not remember the past are condemned to repeat it!". - salam twitter@emteaedhir -
Dibaca: 100
Komentar: 2
Nihil
saya tak pernah berhenti menatap layout gambar gedung terbaru dpr yang ngotot mereka bangun. jangan bayangkan biaya pembangunan yang akan tersedot. di luar akal sehat. satu triliun rupiah lebih. kalaupun anda terbiasa menghitung nol di belakang angka satu itu, pastikan anda tidak kelelahan.
untuk profesi yang lebih banyak menghabiskan waktunya kongkow-kongkow, mojok di hotel, ngitung-ngitung chance jadi menteri, studi banding seperti srimulat yang habis pentas dan pengen plesiran, ngadirin rapat pepesan kosong, dan lain-lain, rasanya biaya itu memang berlebihan. membangun gedung semegah itu di kompleks dpr terasa seperti menyaksikan kaum “aad” di masa nabi luth membangun kemegahan ego-megalitikum mereka.
para politisi kita mungkin lagi ngarapin gedung megah dpr itu kelak mencerminkan puncak keberhasilan politisi indonesia. malah, jangan-jangan mereka tergoda semakin meninggikan bangunan itu agar tidak tersaingin ama bangunan lain di sekitarnya nanti. persis mencontoh fir’aun yang memerintahkan perdana menterinya, haman membangun gedung tertinggi hanya untuk mengolok-ngolok dan menengok tuhan nabi musa as di langit.
saya tak habis pikir dari mana ide kaitan kemegahan bangunan dengan membaiknya cara pikir dan kinerja anggota parlemen kita. harus diakui, ada beberapa yang layak. sayangnya, mayoritas perilaku yang ditunjukkan tidak memperlihatkan jika mereka patut disebut ”wakil rakyat”. mungkin ”wakil partai”, iya. selebihnya para politisi itu menjadi selebriti dengan dunianya sendiri. autisme akut.
tak disadari, gedung megah dpr bisa menjadi ”penjara” bagi para anggotanya. mereka risih keluar, menengok kemiskinan. menyaksikan rakyatnya yang sebagian masih menarik gerobak dengan langkah-langkah tertatih. mungkin saking menahan lapar. belum menemukan makanan seharian. sementara di balik kemegahan gedung dpr kita, para anggotanya mungkin sedang menikmati spa, kolam renang, ruang kantor moderen dengan segala fasilitas mutakhirnya, atau lagi browsing internet ngobok-ngobok site tertentu atau meng- up date status facebook. siapa tahu?.
rakyat di luar gedung itu harus bergulat menghidupi diri dan keluarga mereka. rakyatnya pun akhirnya malu berkunjung. merasa tak pantas menginjak lantai marmer dengan sandal jepit mereka. tapi saya yakin, di luar gambaran kemegahan itu, anda bisa bertaruh memastikan toiletnya yang tidak terurus. lihat aja!.
satu lagi. coba perhatikan pagar gedung parlemen kita. buat perbandingan, gedung-gedung parlemen di negara-negara yang demokrasinya maju sebagian besar tidak pakai pagar. tirai besi itu sendiri sudah menjadi simbol. bahwa sejak awal, wakil rakyat dan konstituennya adalah dua hal yang berbeda atau saling memunggungi. teralienasi oleh sekat-sekat “the broken promises“. pendek kata, politisi indonesia dan rakyatnya seperti mata coin. saling membelakangi, but stay together. sayangnya dalam keadaan seperti ini, pemilu terasa lama dinanti. kalaupun pemilunya cepat, sebagian dari kita juga cepat lupa dengan segala ironi dunia politik kita. jadilah rasa frustasi terhadap anomali politik indonesia seperti lingkaran tak berujung pangkal.