Artikel

Politik

Emte

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

the witness, saksi mata. berpikir dengan mata telanjang. dipandu dengan kesadaran. karena itu never block blogs, because in the country of the blind, the one-eyed man is king. kesaksian adalah testimoni akhir yang perlu didengar. agar kita bijak menekuri realitas. belajar dari kesalahan masa lalu. walau kesaksian tidak selalu benar dalam perspektifnya. kata para bijak, "those who can not remember the past are condemned to repeat it!". - salam twitter@emteaedhir -

BIN Monitor Twitter & Facebook


OPINI | 22 March 2011 | 23:49 Dibaca: 142   Komentar: 2   Nihil

1300807962541525249

what are they doing, what are they talking about and who is spying on them?

tahun lalu iran bergolak, semua menganggap twitter dan facebook sebagai trigger. kini tunisia, mesir, libya, yaman, bahrain dan mungkin syria. kegelisahan demokrasi menjalar begitu deras. seperti tsunami yang menghantam balok demi balok ego kekuasaan. inilah imbas digital age. tak seorangpun yang meragukan. semua karena faktor it.

di indonesia, kepala bin, sutanto memutuskan untuk memonitor twitter dan facebook. langkah itu tak keliru. knowing sifat sosial media yang sangat terbuka. sama halnya dengan dunia internet. kita punya tanggung jawab untuk memastikan instrumen it seperti itu tidak berdampak buruk dalam kehidupan sosial politik kita.

masalahnya, keinginan monitoring tersebut datang dari mulut seorang kepala intelijen. pada saat bersamaan, pergolakan politik di berbagai kawasan disebut banyak diakibatkan oleh akses publik yang sangat terbuka pada informasi. perubahan dan sense politik menjadi sesuatu yang sangat mudah mengalir dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. dengan segala imbas politisnya, twitter dan facebook seolah menjadi corong yang dipakai untuk meneriakkan perubahan ataupun pergantian rejim.

indonesia tidak perlu gerah dengan kecenderungan tersebut. saya justeru melihatnya sebagai kesempatan bagi pemerintah dan publik untuk membangun kultur sosial politik yang tidak alergi pada setiap pebedaan maupun benturan-benturan sikap politik satu sama lain. sehingga keinginan bin memonitor twitter atau facebook sebaiknya diserahkan kembali kepada publik. namanya juga urusan masyarakat, biarlah itu menjadi eksesais publik dalam menyortir apa yang terbaik dan terburuk bagi demokrasi kita.

pemerintah jangan terlalu sensitif pada multifaceted sosial media. biarlah masyarakat menjadi filternya sendiri. itu akan melatih publik dan mainstream masyarakat sipil memperkuat kedewasaan dan conciousness dalam berdemokrasi. sekaligus menghindarkan pemerintah dari segala prasangka buruk tentang tudingan untuk mematikan sikap kritis masyarakat kita. bagaimanapun, memonitor pergerakan kedua instrumen sosial media seperti itu dapat diartikan “memata-matai” gerakan sipil yang baru tumbuh subur dalam masyarakat kita. jangan sampai model demokrasi kita yang kini mulai menuai banyak pujian lantas terpuruk hanya karena sikap paranoid di kalangan segelintir elit kekuasaan kita. semoga ini bisa jadi pertimbangan. (twitter@emteaedhir).

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: