
Nama :Drs H Muhammad Jusuf Kalla Lahir :Watampone, 15 Mei 1942 Agama :Islam Jabatan Kenegaraan: Wakil Presiden RI (2004-2009) Menko KESRA Kabinet Gotong Royong (2001-2004) MENPERINDAG Kabinet Persatuan Nasional (1999-2000) Pendidikan : Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967 The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977) Organisasi 2010 - Sekarang : Chairman Centrist Asia Pacific Democrats International (CAPDI) 2009 - Sekarang : Ketua Umum PMI 2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat 1985 - 1998 : Ketua Umum...
Dibaca: 906
Komentar: 11
1 dari 1 Kompasianer menilai bermanfaat
Mesir, mempunyai sejarah panjang dengan peradaban yang tinggi sebanding Cina di Asia Timur, sangat bangga pada masa lalunya. Orang datang ke Mesir pada dewasa ini umumnya ingin melihat masa lalu itu, pyramid, sphinx dan lain2, sehingga sering orang mengatakan bahwa Mesir masih dihidupi oleh Firaun yang membuat piramida2 itu.
Begitu juga pendidikan, terkenal Al-Azhar yang merupakan Universitas yang tertua di dunia menjadi kebanggan dan menerangi dunia Islam sampai sekarang. Pendapatan per kapita Mesir hampir sama dengan Indonesia, yaitu US $ 3000 per tahun.
Mesir dengan penduduk sekitar 83 juta orang dengan Sungai Nil yang memanjang, sebenarnya negeri yang subur khususnya sepanjang aliran sungai yang sering banjir, apalagi dengan Bendungan Aswan yang dibangun tahun 1950-an oleh Rusia yang memberi air untuk lahan pertanian yang luas. Sampai tahun 1990-an masih swasembada gandum dan beras malah bahan pangan pokok diekspor untuk negara-negara Timur Tengah, kita pernah mengimpor beras dan gandum dari Mesir pada tahun 1980-an.
Mesir juga mempunyai minyak, walaupun tidak sebanyak Saudi atau Kuwait. Produksi tertinggi dicapai tahun 1996 dengan 900.000 barel per hari. Sejalan dengan menaiknya harga minyak setelah tahun 1970-an hasil minyak tersebut dipakai mensubsidi harga pangan untuk rakyat yang cukup besar. Akibatnya rakyat juga tidak terdorong meningkatkan produksi pangan, sehingga produksi pangan terus menurun dan sekarang Mesir sangat tergantung dari impor gandum dari Amerika dan Australia serta beras dari Thailand dan Vietnam.
Dilain pihak produksi minyak yang mencapai puncak pada tahun 2006, menurun sampai 600.000 barelperhari tahun lalu yang tidak mencukup untuk kebutuhan dalam negeri sehingga subsidi BBM pun meningkat dengan tajam.
Situasi yang berat muncul pada saat yang bersamaan yaitu harga pangan dunia yang naik bersamaan dengan produksi minyak yang menurun dengan harga tinggi. Pemerintah dihadapkan pada dobel subsidi pangan dan minyak yang tinggi dengan akibat lanjut defisit sebesar 8% GDP (Indonesia 1,5%).
Kalau Amerika dapat menutup anggaran dengan mencetak terus US $ dan menjual ke Cina, siapa yang mau membeli Pound Mesir?. Akibatnya tahun 2010 inflasi 13,4% dan turunnya kemampuan keuangan negara, untuk reformasi ekonomi.
Karena 40% pangan diimpor, Mesir sangat rentan pada harga pangan dunia, pada krisis pangan 2008 sebenarnya sudah mulai gejolak di Mesir. Karena kenaikan harga roti, tetapi dapat diselesaikan dengan keras. Namun akibat dari keadaan itu pengangguran dan kemiskinan juga bertambah yang menyebabkan masalah2 sosial mudah timbul.
Revolusi Tunisia awal tahun ini yang menurunkan Presiden Ben Ali setelah berkuasa 30 tahun juga dengan sebab yang sama : pangan. Harga pangan yang tinggi dengan tingkat penganguran yang tinggi dibawah pemerintah otoriter yang korup menyulut gerakan masa dengan cepat untuk marah. Dalam waktu 5 hari Ben Ali melarikan diri.
Revolusi Tunisia ini menyulut Mesir dengan cepat karena situasi sosial masyarakat memang sudah membara dengan kekecewaan selama ini tanpa daya, karena otoriternya Presiden Mubarak. Kemajuan teknologi informasi telah merubah cara ber-revolusi dewasa ini. Kalau dulu setiap revolusi dimulai dengan menduduki stasiun radio atau televisi karena ada sentral informasi dan dibutuhkan pemimpin untuk mempersatukan, seperti Imam Khomeini di Iran. Sekarang dengan sosial media, internet dan sms tidak dibutuhkan lagi pemimpin besar dan merebut stasiun radio. Karena orang saling memimpin dan berhubungan langsung dengan waktu detik. Pemimpin dicari kemudian seperti El-Baredai di Mesir.
Apakah Mubarak akan jatuh atau tidak, kita tunggu, tetapi kalau ditanya apakah bisa bertahan, saya yakin Mubarak sulit untuk bertahan dalam kondisi ini. Karena disamping otoriter, Mubarak juga dinilai membangun dinasti yang korup.
Selama ini Mesir cukup stabil karena Mubarak sangat dekat dengan Amerika dan Israel, walaupun Mesir tidak demokratis (US menyerang Irak dengan alasan demokrasi). Dengan kedekatan US membantu milyaran dolar per tahun, Mubarak menjamin keamanan Terusan Suez untuk pengangkutan minyak dari Timur Tengah ke Amerika dan Eropa yang setiap harinya dilalui tanker2 yang memuat ± 3 juta barel.
Amerika, Israel dan juga negara2 kaya di Timur Tengah takut apabila Mesir dikuasai oleh pemerintah garis keras seperti Ihwanul Muslimin yang sejalan dengan Hamas dan Hisbullah di Libanon yang dapat mengontrol lebih ketat Terusan Suez dengan cara membatasi atau menaikkan bea lewat maka jalur minyak terganggu atau mahal.
Ini wajar saja karena kalau Mubarak turun, maka bantuan US pasti menurun dan pemerintah baru ingin cepat memperbaiki ekonomi, maka yang paling mungkin pendapatan dari Terusan Suez dinaikkan. Dan ini akan berakibat naiknya harga minyak dunia yang mempunyai implementasi yang panjang, termasuk akibatnya ke Mesir sendiri dan negara2 lain seperti Indonesia.
Apa yang harus dipelajari ?
Apa yang perlu dipelajari dari keadaan yang kacau di Mesir dan Tunisia, agar jangan terjadi di Indonesia ? Kondisi dan gerakan massa dapat terjadi dimana saja, apabila mengalami krisis yang sama.Sebenarnya kondisi Mubarak sekarang sama dengan kondisi Soeharto yang jatuh 13 tahun yang lalu karena otoriter, KKN, krisis pangan dan pengangguran yang mudah menyulut perlawanan rakyat.Pemerintah otoriter atau dinasti tentunya harus dihindari dan dicegah.
Kita bersyukur bahwa Indonesia negara demokratis, walaupun sering dengan ongkos yang mahal, sehingga cenderung menjadi investasi yang harus kembali, artinya peluang korupsi. Kita negara dengan KKN skala yang tinggi, karena itu kita harus mengatasi dengan segala cara, baik di eksekutif, legislative dan judikatif, termasuk polisi, jaksa dan KPK yang efektif.
Karena pemicu dari hampir semua perlawanan dari gerakan rakyat adalah harga pangan yang tinggi, maka peningkatan produksi pangan agar swasembada harus dijalankan dan kita mampu untuk itu. Tahun 2008 dan tahun 2009, Indonesia sudah swasembada beras, namun tahun 2010 kita kekurangan lagi artinya produksi menurun yang akibatnya impor beras lagi, harga2 dan inflasi naik. Dan semua itu dalam kerangka kebijakan ekonomi yang memihak pada produksi dalam negeri untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan serta lapangan kerja secara bersamaan, termasuk evaluasi subsidi yang tepat untuk pangan dan BBM. Kebijakan ekonomi yang adil sehingga gap antara yang kaya dan miskin harus dikurangi.
Pengalaman perjalanan bangsa sendiri dan bangsa2 lain harus menjadi perhatian untuk menjalankan pemerintahan yang baik dan aman oleh pemimpin bangsa.
Telah dimuat pada Harian Kompas Edisi Jumat Tanggal 04 Februari 2011