Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Defri Mardinsyah

indonesia asli, dibesarkan di Ibu kota, hidup ditengah udara politik busuk yang mencemari dunia.

Tv One Menyebabkan Elly Risman Terjebak dalam Komentar Bodoh

OPINI | 25 January 2011 | 08:58 Dibaca: 8431   Komentar: 21   2

Penampilan kembali Indiarto pada Apa Kabar Indonesia pagi (25 Januari 2011) menemani Indy Rahmawati, setelah digantikan beberapa kesempatan lalu, menimbulkan sebuah nuansa yang berbeda. Dalam pembicaraan kali ini, nampaknya Indiarto lebih dominan dan lebih banyak  bicara dibandingkan rekannya.  Entah karena memang sedang kurang enak hati sehingga kurang berkicau atau mungkin memang mempertimbangkan teguran yang diberikan KPI kepada TV One beberapa hari lalu.

Pada awalnya memang terlihat berimbang, dan menempatkan porsi yang sesuai untuk beberapa narasumber yang hadir, seperti menghadirkan perwakilan dari partai PPP dan perwakilan dari Partai Demokrat yang merupakan partai yang berseberangan dengan Partai yang diketuai oleh Aburizal Bakrie. Bahkan di salah satu kesempatan perwakilan dari partai Golkar yang dihubungi melalui telepon gagal berbicara karena gangguan komunikasi.

Tetapi tidak berapa lama kemudian, Indiarto mewawancarai beberapa mahasiswa yang membawa beberapa toples uang recehan yang katanya akan disumbangkan kepada Presiden SBY, karena SBY curhat tentang gajinya beberapa saat. Disini terlihat bahwa TV One masih menjadi agen dari Partai Golkar dengan agenda melakukan black campaign terhadap SBY dan partai Demokrat. Tentu saja hal ini sah-sah saja dalam politik, dimana sebuah partai politik melakukan gerakan untuk mencemari citra yang dimiliki oleh lawan politiknya, dengan harapan, setelah citra lawannya tercoreng moreng, rakyat akan berpikir bahwa merekalah yang paling bersih dan merekalah yang paling benar.

Persoalannya adalah TV One sebagai sebuah media publik, memiliki tanggung jawab moral untuk mendidik masyarakat, memberikan informasi yang benar, sesuai dengan semboyannya “ Terdepan mengabarkan”. Karena TV One juga memiliki tanggung jawab sosial sebagai sebuah televisi swasta yang dibiayai oleh iklan, walaupun pemirsa tidak membayar untuk menontonnya, tetapi dengan adanya iklan, para penonton secara tidak langsung telah mengeluarkan biaya yang sangat besar, dalam bentuk sikap konsumtif dan termakan oleh “positioning” produk yang dijual melalui iklan tersebut.

Oleh karena itu, sangatlah disayangkan bila TV One terus menerus “mengoreng” isu yang sebenarnya sangat tidak berbobot, yaitu bahwa SBY curhat tentang gaji. Padahal jika kita sebagai rakyat Indonesia yang sudah pintar dan sudah melek teknologi, yang sudah terbiasa cermat dalam menerima segala Informasi sangat paham bahwa SBY menyampaikan bahwa gajinya tidak pernah naik selama 7 tahun merupakan salah satu cara untuk memotivasi bawahannya dalam hal ini jajaran TNI Polri.

Seharusnya TV One tidak terjebak dalam masalah yang tidak penting, yang tidak bemanfaat, masih banyak hal-hal lain yang bisa dikritisi dari seorang SBY, tentu saja kritik yang lebih berbobot, lebih memiliki nilai manfaat bagi khalayak ramai. Dan lebih lucu lagi, Indi Rahmawati mewawancarai Elly Risman yang disebut sebagai seorang psikolog, dimana Indy meminta pendapat Si Ibu ini tentang masalah Gaji yang sedang di goreng oleh politisi golkar. Dan ternyata, si Ibu ini apakah memang kurang kritis atau terjebak dalam wawancara yang sudah disetting, sehingga ikut-ikutan memberi komentar yang tidak sesuai dengan konstek. Disini jelas TV One melakukan 2 kesalahan, sudah menjebak Ibu Elly Risman agar mengomentari sesuatu masalah yang tidak penting, selain kesalahan yang sudah dipaparkan diatas.

Mudah-mudahan rekan ibu Elly Risman yang juga Blogger (tattyelmir) menyadari jebakan yang dilakukan oleh TV One terhadap rekannya… dan Mudah-mudahan  beliau juga memberikan somasi seperti yang dilakukan terhadap acara kick Andy. Jangan sampai seorang Elly Risman yang terkenal sebagai seorang tokoh  dari  Yayasan Kita dan Buah Hati, yang lebih fokus pada pendidikan anak, dibawa kedalam “gorengan” politik murahan yang salah kaprah seperti yang dilakukan oleh TV One.

Inti dari semua yang dijabarkan diatas adalah bahwa TV One dan Partai Golkar harus lebih cermat dalam menggunakan sarana publik untuk memenangkan keinginannya untuk berkuasa. Semua tingkah polah yang ditampilkan, baik melalui pembawa acara, ataupun dari cara-cara lain yang dapat dilakukan oleh TV One, berada dalam pengawasan publik. Tidak semua rakyat Indonesia dapat dikadali dan ditipu dengan cara-cara yang dilakukan oleh TV One dan Partai Golkar. Justru langkah-langkah yang tidak profesional ini dapat menurunkan citra TV One, Aburizal Bakrie dan Partai Golkar. Bersainglah dengan gentlement, angkatlah isu-isu yang berbobot dengan data dan informasi yang benar dan tepat.

Dan satu hal lagi yang paling penting, sebaiknya TV One melepaskan kepentingan politik pemiliknya dan kembali menjadi televisi yang profesional dan melayani masyarakat luas. Kasihan Indiarto, kasihan indi rahmawati yang harus merusak keprofesinalitasannya diatas kepentingan Aburizal Bakri dan partai Golkar.

Untuk Rakyat Indonesia, mari kita lebih kritis dan lebih pintar dalam membaca seluruh informasi yang disampaikan oleh media, jangan tenggelam dan terjerumus dalam media yang tidak netral dan kepentingan partai-partai tertentu yang bertarung untuk kekuasaan.  Kebodohan menyuburkan pembodohan, Pembodohan menyebabkan Kebodohan yang berakhir dalam bentuk kemiskinan, miskin rasa kebersamaan, miskin keinginan untuk berjuang. Semoga kita terlepas dari hal-hal bodoh ini.

Sumber asli

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Tips Ibu Jepang Menyiasati Anak yang Susah …

Weedy Koshino | | 22 October 2014 | 08:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Ketika Rintik Hujan Itu Turun di Kampung …

Asep Rizal | | 21 October 2014 | 22:56

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 2 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 2 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 3 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 3 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | 7 jam lalu

Filosofi Kodok …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Mirip Penyambutan Raja yang Dicintai …

Dr. Nugroho, Msi Sb... | 7 jam lalu

Cara Wanita Cerdas Memilih Calon Suami …

Nelvianti Virgo | 7 jam lalu

Fenomena Rokok pada Anak Usia Dini …

Dian Wisnu Al Afdho... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: