Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Wijaya Kusumah

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta selengkapnya

Seharusnya Kita Bangga Kepada Ibu Megawati, Bukan Mencaci Makinya.

HL | 25 January 2011 | 15:17 Dibaca: 2543   Komentar: 191   1

12959208897455772

Membaca komentar teman-teman ditulisan saya terdahulu yang berjudul “Megawati Calon Presiden yang akan Memang di 2014, membuat saya terinspirasi membuat sebuah postingan baru. Bukan karena saya ingin mengkampanyekan ibu Megawati sebagai presiden kembali di 2014, tetapi kita hendaknya memahami cara berpikir seorang negarawan seperti ibu Megawati Soekarnoputri. Kalau kita memahaminya, maka kita akan bangga kepada ibu Megawati, Calon Presiden di 2014.

Beliau adalah seorang Srikandi Indonesia yang berani mencalonkan kembali dirinya menjadi presiden 2014. Seadangkan yang lain? Belum ada yang seberani beliau. Seharusnya kita bangga kepada beliau, bukan justru mencaci makinya. Sebab sampai saat ini beluam ada satu orang pun selain beliau yang berani mencalonkan diri sebagai presiden di tahun 2014.

Terlepas dari kekurangan beliau menjadi pemimpin, kita tentu tahu bahwa kepemimpinan beliau penuh dengan pro dan kontra.

Menurut Prof. Dr. Imam Suprayogo dalam Blognya, seorang pemimpin itu harus punya modal. Modal itulah yang membuat dia berhasil atau gagal dalam memimpin.

Seorang tatkala sedang menjadi pemimpin menginginkan agar kepemimpinannya berhasil. Namun ternyata tidak semua pemimpin berhasil meraihnya. Ada saja pemimpin yang gagal, walaupun yang bersangkutan tidak menghendakinya. Seorang pemimpin dikatakan berhasil, manakala semua atau sebagian besar yang dipimpin merasa senang atas kemajuan yang diraih secara bersama-sama.

Sedikitnya ada empat modal yang harus dimiliki hingga seorang pemimpin berhasil atas kepemimpinannya. Pertama, seorang pemimpin harus benar dan dipercaya oleh mereka yang dipimpinnya. Kepercayaan itu tumbuh oleh karena ketulusan seorang pemimpin. Seorang pemimpin akan diikuti bukan hanya karena kata-kata yang diucapkannya, melainkan adanya kesesuaian antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukannya.

Semakin dipercaya, seorang pimpinan akan semakin mudah menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya. Berbekalkan kepercayaan itu akan lahir loyalitas, integritas, dan kerelaan semua pihak untuk menjalankan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Seringkali orang mengira bahwa loyalitas akan tumbuih manakala imbalan yang diterimanya mencukupi. Pada kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak orang mau bekerja jika yang diikuti menunjukkan ketulusan, diberlakukan secara adil, dan apa yang dikerjakan mendapatkan apresiasi dari orang lain.

Tidak sedikit orang yang mendapatkan imbalan cukup, dan bahkan berlebih, akan tetapi tetap saja tidak memiliki etos kerja yang memadai. Bahkan, mereka bekerja hanya tatkala diberi imbalan tambahan, atau insentif. Jika tidak, maka mereka juga tidak bekerja maksimal. Pemimpin yang tulus akan diikuti oleh para bawahannya melebihi pemimpin yang hanya sanggup memberi sesuatu berupa material.

Kedua, adalah memiliki kemampuan merumuskan dan sekaligus menjelaskan tentang gambaran ideal yang akan diraih bersama. Gambaran itu adalah terkait dengan hal-hal yang bersifat ideal, mulia, dan memberi manfaat bagi banyak orang. Tujuan jangka pendek dan hanya menguntungkan sebagian dari semua yang dipimpin, tidak akan melahirkan semangat, kerja keras, dan kebersamaan.

Dalam managemen modern, rumusan itu disebut visi dan misi. Seorang pemimpin harus memiliki visi yang jelas yang ingin diwujudkan. Rumusan visi yang jelas akan menjadi kekuatan untuk mempersatukan dan sekaligus menggerakkan semua pihak yang dipimpinnya. Namun ternyata tidak semua pemimpin berhasil merumuskan visi itu. Ia hanya bercita-cita duduk di kursi pimpinan, akan tetapi tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Orang seperti itu adalah pemimpin yang tidak memiliki visi ke depan.

Ketiga, adalah semangat atau etos yang kuat. Pemimpin harus memiliki semangat yang kuat untuk meraih keberhasilan. Semangat itu harus dibagi-bagi kepada semua pihak yang dipimpinnya. Oleh karena itu, pemimpin harus pandai berkomunikasi untuk membakar semangat bagi semua yang dipimpin. Semangat seorang pemimpin akan melahirkan etos, kepercayaan, dan loyalitas. Jika iklim seperti itu sudah terbentuk, maka institusi yang dipimpin akan semakin kokoh, dinamis dan berkembang.

Keempat, kesediaan berkorban. Tidak pernah ada pemimpin sukses tanpa ada kesediaan berkorban.Pemimpin harus mau berkorban. Keberhasilan seorang pemimp[in bukan diukur dari pertambahan gaji atau kekayaannya, melainkan bukti adanya kesanggupan dalam melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan positif itulah yang dijadikan ukuran keberhasilan seorang pemimpin.

Masih banyak modal lainnya yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin sukses yang belum disebutkan dalam tulisan ini. Tetapi setidaknya empat hal tersebut harus dimiliki. Pemimpin yang tidak memiliki modal tersebut, maka kepemimpinannya tidak akan berhasil. Pemimpin tidak cukup hanya berbekalkan uang, dukungan politik, dan atau semangat menjadi pemimpin.

Pemimpin yang hanya bermodalkan semangat, tanpa bermodal kepercayaan dari banyak pihak, visi dan misi yang jelas, dan kemauan berkorban hanya akan menghasilkan kekecewaan yang berkepanjangan. Akhirnya, tatkala orang berkeinginan menjadi pemimpin, maka harus pandai membaca dirinya sendiri, apakah bekal-bekal dimaksud sudah ada padanya. Keinginan memang perlu dimiliki, tetapi modal lainnya sebagaimana disebutkan di muka, perlu dilihat kembali dan dipertimbangkan oleh yang bersangkutan.

Berikut ini saya salinkan komentar teman-teman dalam postingan saya terdahulu, dan marilah kita ambil sisi positif dari komentar teman-teman itu. Berbeda pendapat itu biasa dalam alam demokrasi, tetapi silahturahim harus tetap terjaga walaupun kita berbeda pendapat.

Kine Risty
21 January 2011 08:12:10
kita tunggu pemilu yang akan datang, om jay
apakah perkiraan om jay benar
selamat pg dan selamat hari jumatWijaya Kusumah
21 January 2011 08:45:58
saya yakin perkiraan saya akan menjadi nyata bila Megawati mampu memainkan perannya sebagai oposisi dengan baik dan jujur.

salam
Omjay

Wijaya Kusumah
21 January 2011 09:10:38
0

rasanya untuk calon baru agak susah ya mas, karena “gizinya” belum cukup. Bukan karena tidak mampu.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Sutan Pangeran
21 January 2011 09:11:07
0

Bila kita mengatakan SBY gagal, maka bukan berarti Megawati sebagai pilihannya kembali.
Yang baru lah, cari yang belum pernah gagal…
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Rosiy
21 January 2011 08:20:39
0

Nope beliau akan sulit untuk menang.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 08:46:43
0

justru saya kebalikannya, Megawati akan menang, asalkan strategi yg dimainkannya benar dan menyenangkan hati rakyat.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Inge
21 January 2011 09:03:12
0

Soal menang-kalah, itu semua bisa diatur, Omjay.

Kalaupun Mega menang, Indonesia belum akan mampu memperbaiki keadaan, krn Megapun tidak lebih baik dari SBY.

Yang dibutuhkan Indonesia adalah pemimpin berwawasan kebangsaan, bukan berwawasan partai. Dibutuhkan seorang negarawan, bukan politikus semata.

Kalau memang Mega berpihak pada wong cilik, tentunya kasus 27 Juli akan menjadi agenda utamanya saat itu. Nyatanya tidak kan
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 09:03:49
0

saya rasa ibu Megawati telah menyadari kesalahannya, dan banyak belajar untuk menjadi lebih arif dan bijaksana.
Dulu waktu saya belum mengenal beliau secara langsung, saya juga sepikiran dengan anda, tetapi saya rasa ibu megawati akan menjadi pemimpin berwawasan kebangsaan, bukan hanya berwawasan partai.

Dibutuhkan seorang negarawan, bukan politikus semata, dan saya yakin Ibu Megawati sdh menyadari akan hal ini.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Inge
21 January 2011 09:11:12
0

Kalau saya masih belum yakin, Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 09:32:41
0

mbak inge, awalnya saya belum yakin tetapi setelah saya amati peta politik kita, maka saya yakin megawati akan terpilih asalakan mengerjakan apa yg saya tuliskan di atas.

salam
omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Inge
21 January 2011 09:49:07
1

Omjay, spt yg saya bilang sebelumnya, soal menang-kalah itu soal biasa, dan bisa saja diatur.

Yg jadi persoalan adalah Megawati tidak lebih baik dari SBY. Megawati bukan seseorang yg berwawasan kebangsaan dan bukan seorang negarawan. atau mungkin iya, tp dia terlalu dipelintir oleh suaminya?

Buktinya saja dalam partainya sendiri. Kalau memang Mega berwawasan kebangsaan, maka dia tidak akan mencalonkan diri tetapi lebih memilih/legowo memberi kesempatan kepada yg lebih muda. Dari sini saja kita bisa lihat bahwa dia tdk menjalankan kaderisasi. Lalu apakah dengan demikian bisa dikatakan sbg seorang negarawan?

Sekarang tinggal duit yg berbicara kalau dikalangan masyarakat ‘kecil’. Makanya saya bilang semua bisa diatur. Tp ingat, masyarakat ‘kecil’ jg sekarang pintar.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:03:33
0

betul mbak, kita harus ingat bahwa ibu megawati masih mencalonkan diri karena karakternya masih kuat sebagai pemimpin khusunya di partainya. dari para kader yg hadir sepakat memilihnya kembali menjadi ketua umum.

kalau masalah kenegarawan dan kebangsaan, saya tak pernah meragukan integritas seorang ibu megawati sebab beliau adalah salah satu putri proklamator kita.

Hati-hati, kita terkadang mendapatkan informasi dari media yag dipelintir sehingga kehebatan ibu Megawati sering tak diekspos media, karena itu saya usulkan ibu mega bersahabat dengan media. Tidak cemberut ketika diwancara, dan merubah sedikit sikapnya. Begitu ya mbak Inge.
Seharusnya kita bangga memiliki ibu megawati yg berani melawean laki-laki di negeri ini. Ayo kaum perempuan bangkitlah, dan percayakan kepemimpinan kepada ibu megawati di tahun 2o14, kok saya jadi kampanye yah, hehhehehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Inge
21 January 2011 10:16:45
0

Saya dulu mengagumi Mega, Omjay..tp tdk sekarang

Para kader sepakat memilihnya kembali itu menandakan Mega gagal sebagai pemimpin. Pemimpin yg baik dia tdk akan menjadikan dirinya sebagai sebuah ketergantungan. Jadi kalau para kader masih memilih dia, berarti kadernya juga gak punya mental berani tampil. Itu artinya salah dua2xnya

Kalau soal kenegarawanan hanya diandalkan krn dia seorang putri proklamator, kayaknya bias, Omjay.

Sebagai perempuan, saya senang kalau ada yg maju tentunya, tp tentunya dia bukan org yg suka ngambekan dan tak berjiwa besar.

Masih banyak perempuan2x lain yg mungkin jauh lebih baik dari beliau dan masih gress, contohnya SMI. Sejauh ini saya lebih melihat dia adalah pribadi yg punya sikap, punya integritas dibanding seorang Megawati.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:24:03
0

dulu saya malah tak suka megawati. saya lebih suka pak JK, tetapi setelah saya melihat ada perubahan sikap beliau, perlahan namun pasti citra beliau naik lagi. Hal ini nampak jelas dari banyaknya undangan yg dihadairi oleh ibu megawati. Saya kira bila ibu mega sanggup untuk meminimalisasi keurangan dia akan disambut hangat oleh rakyat.

Dalam partai berbeda dengan oragnaisasi sosial, kita bisa lihat amin rais melepas pan, tapi masih punya pengaruh, kita juga bisa lihat gusdur mrlapas pkb tapi ada pengaruh, lalu sby ada demokart dan ketua masih dipegang kendalinya oleh sby.

Lebih bagus ibu mega yang masih konsisten dan memiliki komitmen yg tinggi untuk membesarkan partai di saat orang lain meninggalkannya.

saya buka orang partai, dan saya melihatnya secara jernih bahwa ibu megawati harus merubah strategi politiknya bila ingin menduduki RI-1. Begitu ya mbak inge, semoga tidak puas, hehehhehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Beny Akumo
21 January 2011 10:28:51
0

kok saya setuju dengan pendapat Mbak Inge ini .. :yes:
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:33:22
0

bagus mas, pnamnya juga pendapat bisa sama, bisa juga beda. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. makanya saya yakin, bila ibu mega menjalankan apa yg saya tuliskan di atas, dia akan kembali menjadi presiden ri.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Inge
21 January 2011 10:41:44
0

Saya memang tidak puas, Omjay
Apakah hanya krn banyaknya undangan yg dihadiri itu sdh bisa dijadikan indikasi? bukannya itu strategi Mega sendiri utk menggalang kekuatan? dan krn Omjay menyinggung soal ‘GIZI’, mk artinya kekuatan itu hanya berdasarkan duit bukan kemampuan. Itukah yg disebut perubahan dari seorang Megawati? hehehehehehe…bagi saya sama saja. Dia terlalu kemaruk utk masih tetap bertampuk pada pucuk pimpinannya. Tak ada bedanya organisasi parpol maupun sosial. Bottom linenya sama, pemimpin yg baik akan memberi kesempatan kepada yg lain utk berkembang.

kita koq masih mau kembali kepada yg lama yg udah ada buktinya GAGAL? Negara bukan sesuatu utk dicoba2. Ada jutaan nyawa yg dipertaruhkan.

@Beny: hehehehehehe..makasih, mas. Saya gak asal milih perempuan, hahahahahahaahahahahahahahhaaahahahahaha
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:51:46
0

hehhe, bank inge yg omjay kagumi.
duit memang bisa membeli apa saja, tetapi duit tak bisa membeli seorang pemimpin yg jujur.

Saya rasa ibu mega tak kemaruk seperti apa yg anda sangka. saya kok malah melihat beliau semakin menua semakin arif bijaksana, makanya peran media untuk di dijadikan sahabat sangat penting untuk memperbaiki citranya yg buruk di masa lalau, begitu ya mbak inge, hehehehe.

Orang yg hebat tdk akan gagal utk yg kedua kalinya. saya melihat ibu megawati akan memperbaiki dirinya menjadi menjadi lebih baik. Mari kita tunggu saja perubahannya.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Inge
21 January 2011 10:59:55
0

Omjay, dalam hal ini jelas kita berbeda pandangan, dan itu sah2x saja.

Bagi saya pribadi dan dari apa yg saya diajarkan, pemimpin yg baik adalah yg memberi kesempatan kpd org lain utk maju, mendorong yg lain utk tampil ke depan. Itulah ciri2x pemimpin yg sukses, bukan seseorang yg membuat org2x sekitarnya menjadi tergantung kepadanya. Kalau misalkan dia meninggal ditengah jalan, gimana? Apakah keadaannya tdk seperti pepatah bagai anak ayam kehilangan induknya?

Kalau benar dia tidak kemaruk, mengapa Mega masih bertahan sampai sekarang? Apa bedanya dia dgn Suharto alm. yg terus bertahan sampai 32 thn? Ingin menjadi pemimpin abadi? hehehehee….

Mudah2xan benar dia semakin arif dan bijaksana, bukan krn mau dekat pemilu maka dia ‘kelihatan’ spt itu, Omjay

Namanya juga dekat pemilu, org2x pada ramai memperbaiki citra
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:25:35
0

hehhe, mbak Inge yg omjay banggakan. Dulu pemikiran omjay seperi mbak Inge, bahkan lebih menyakitkan lagi. Namun seiring dengan perjalanan waktu saya melihat karakter kuat dibalik kepemimpinan ibu megawati.

kalau beliau sanggup menciptakan kader atau SDM yg unggul saya rasa berliau pasti akan meninggalkan partainya. kita tahu kalau PDIP itu selalu diobok-obok partai pemerintah karena memang PDIP itu partai besar, kalau tidak besar mana mungkin berani menjadi partai opisisi dan bertani menatang dan mengawasi kebijakan pemerintah. Ini yg saya lihat, kehebatan srikandi Indonesia ini beluam tiada duanya. Mari kita mengenalnya lebih dekat. tak kenal maka tak sayang, begitu ya mbak inge. senag sekali berdiskusi panjang dengan mbak Inge.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Araha
21 January 2011 14:49:33
0

saya milih mbak inge…he he he…maksudnya setuju pendapat mbak inge…salam kenal
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 14:55:59
0

sip, hidup mbak inge…semoga bisa menjadi calon presiden wanita yg akan datang.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Agung Penatih
21 January 2011 09:30:25
0

paparannya jitu bgt OM…..tapi apa berlaku juga ya dimata masyarakat yang sudah menganggap Megawati pernah GAGAL……….karena menurut saya yang cuman masyarakat biasa Megawati sudah sangat2 Expired untuk menjadi presiden lagi………
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 09:40:46
0

jangan pernah menyepelekan ibu Megawati. Di mata rakyat kecil, terutama di desa-desa popularitasnya masih bagus, dan tinggal ibu megawati pandai-pandai menjaga citra.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Pandega
21 January 2011 09:44:26
0

Ada dua tokoh yang kuat yaitu Megawati dan Prabowo. Megawati memang pernah gagal, orang yang pernah gagal cenderung memperbaiki kegagalannya, diharapkan seperti itu.

“Mengapa saya merasa bahwa ibu Megawati akan memimpin Indonesia kembali setelah pak SBY? Jawabannya sederhana saja. Ibu Megawati direstui oleh Amerika. Pada saat pertemuan makan malam dengan presiden Obama nampak jelas, keberpihakan Amerika terhadap tokoh PDIP ini.”

Pertanyaan saya Om, apakah harus restu dari amerika? Saya selalu risih dengan kalimat itu. Kalo elit politik masih memakai kalimat seperti itu dalam kepemimpinan negeri ini, tak ubahnya kita seperti negara terjajah.

Kalau Prabowo saya kira jelas, dia dibenci oleh amerika karena kasus Timor-Timur. Saya berharap Presiden mendatang mampu melepaskan cengkraman amerika di negeri ini.

Bagaimana peluang Prabowo, Om?
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 09:44:58
0

jujur mas, bayang-bayang amerika masih ada di negeri ini. Siapapun tahu amerika masih berpengaruh di Indonesia, dan setiap pergantian ada peran amerika di situ. Lihat saja kedatangan presiden AS ke negri ini, selalu dielukan oleh pemimpin yg terpilih.Jadi restu amerika sdh jelas banget terlihat.
kalau pa prabowo, nampaknyamasih belum deh. Dulu anaknya pak prabowo adalah murid saya. track record beliau di masa lalu belum sekarismatik ibu megawati.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Mochamad Syafei
21 January 2011 09:52:58
0

Ogah, Om. Masa 4 L (Lu Lagi Lu Lagi)
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:09:19
0

anda bisa saja bilang ogah, tapi kalau amsih banyak rakyat yg memilihnya kita harus legowo menerimanya. Kita tahu bahwa pemilu kemarin tak semuanya jujur, bila ditelusuri secara benar pasti akan ketahuan kecurangannya. Maaf saya tak menuduh. hanya hati nurani saja yg bicara. Begitu ya mas Syafei yg ganteng, hehhehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Djuhartono
21 January 2011 09:55:22
0

Berarti pengalaman SBY mubazir ya Om Jay. Terutama Pengalaman jadi presiden.
Eh, yang sebelumnya presidennya siapa ya Om Jay ?
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:07:03
0

tidak mubazir mas, hanya saja politik pencitraan akhirnya ketahuan kebohongannya. kalau mas baca buku mas inu di sana akan terlihat sisi lain SBY.
Ibu megawati memang pernah jadi presiden kita, tapi ingat beliau menggantikan posisi gusdur, jadi tak sepenuhnya itu kesalhan ibu megawati.

Pak SBY hadir dalam moment yg tepat, dan terpilihlah beliau menjadi presiden kita selama 2kali. saya kira apa yg saya paparkan di atas akan membuat ibu mega naik kembali ke permukaan asalkan usulan yang saya tulsikan dijalankan, hehhehe. Kok saya kayak pengamat politik benaran ya, hehehheehe :d

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Agung Penatih
21 January 2011 10:01:23
0

menurut pendapat saya megawati cuman pandai mengkritik tapi g boleh dikritik,biarpun ada campur tangan Amerika tapi yang memilih kan tetep rakyat om,sedangkan pemilihen presiden masih dilakukan secara langsung,mungkin klu presiden dipilh DPR kemungkinan Mega menang baru sangat besar,sekali lagi ini cuman pendapat saya aja OM……

salam juga OM….
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:07:42
0

saya kurang sependapat dengan anda. Ibu Megawati itu pemimpin yg tegas. Dia berani berkata tidak di saat orang lain berkata ya. Banyak lelaki yg pengecut, tapi ibu Mega adalah wanita yg hebat.
Saya rasa ibu mega sdh biasa dikritik kok mas, hanya media saja yg belum bersahabat dengannya.

saya yakin kita berkata seperti ini karena pengaruh media yg begitu besar meneggalamkan sosok hebat kartini Indonesia. Seharusnya kita bangga meiliki ibu Megawati.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Agung Penatih
21 January 2011 10:22:50
0

ya semoga aja pendapat yg OM utarakan tentang bu mega itu benar…Mega g diem seperti dulu saat menjadi presiden.
BTW Om g sedang berkampanye ini kan?
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:26:34
0

gak mas agung, tak ada yg membayar saya. Hanya pamggilan hatui nurani saja yag mengatakan demikian. Sebagai seorang pendidik saya melihat karakter kuat ibu megawati masih bisa diandalkan untuk menjadi pemimpin kita. Pengaruh media yg begitu besar yg memojokkannya membuat sianr kepemimpinan ibu mega belum terlihat.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Bimo Tejo
21 January 2011 14:32:06
0

“karakter kuat ibu megawati”?? –> hahahahaha. banyak bibit2 pelawak di kompasiana rupanya
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 17:53:19
0

hehhehe, mari kita mentertawakan diri sendiri sebelum mentertawakan orang lain, hahahaha

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Iwan Armita
21 January 2011 10:06:54
0

Wajah baru dan semangat baru dong……. yang lama sudahlah….
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:04:52
0

kita sih kepengennya begitu mas, tapi banyak calon pemimpin yg bagus, tapi “gizinya belum kuat mas. Jadi mohon bersabar setelah 2014, hehhehehe
Untuk ukuran “GIZI” Ibu Megawati memilikinya.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Madeteling
21 January 2011 10:23:21
0

Pak Palo berpasangan dgn HB pasti bisa menang, sebab “NASIONAL D EM O K R A T ” sudah membidik capres-2014. .

menganai capres dari partai Demokrat Ibu Ani,..lebih buruk dari sby,..sebab dia akan dikendalikan oleh sby dan petinggi demokrat.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:27:30
0

betul mas, saya masih belum melihat calon dari demokart yg lebih unggul dari ibu megawati.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Beny Akumo
21 January 2011 10:26:31
0

Maaf Om, saya kurang setuju dengan “pendapat” Om … ya, kalaupun apa yang Om bilang itu terwujud ya tentu saja bagi masyarakat yang tidak memilih beliau harus legowo (termasuk saya) … yang pasti baru akan muncul nama-nama baru calon presiden di tahun 2012 pertengahan, tidak sekarang, di saat itu baru kita bisa tahu siapa yang berpeluang dan bisa memprediksikannya … walaupun sebagian partai biru langit sudah mulai memberikan nama (Ibu Ani), itu hanya testing the water saja … jagoan mereka pun bukan itu … belum dari partai2 besar lain, termasuk PDI-P itu sendiri, belum tentu mereka tetap akan mengusung Bu Mega seperti yang Om tuliskan.

Salam
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Beny Akumo
21 January 2011 10:45:06
0

Suaminya sendiri saja sudah mengatakan bahwa “…saat di tahun 2014 itu Bu Mega sudah tua…” begitu kata Pak Taufik, apakah itu suatu tanda? wallahualam bilsawab … tapi seenggak2nya Pak Taufik sudah paham “kekuatan” Bu Mega itu seberapa jika tetap maju di 2014….
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
22 January 2011 02:53:27
0

ok, makasih informasinya

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Inge
21 January 2011 10:28:32
0

Omjay, kalau yg Omjay maksudkan sbg ‘GIZI’ itu adalah uang, artinya Omjay menghalalkan politik uang dong? Seperti saya bilang tadi, soal kalah menang itu bisa diatur..krn uang juga berperan disana.
Berarti Omjay lebih mementingkan ‘GIZI’ daripada kemampuan seseorang? Nah kalau sudah begitu, apa Mega bisa dibilang berwawasan kebangsaan kalau dia mengesampingkan soal kemampuan? hehehehehehehehee
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:36:31
0

mbak inge yg hebat, gizi yg say maksud bukan hanya uang tetapi power dan karakter kuat untuk memimpin bangsa.
Ibu megawti jauh-jauh hari sdh mengatakan siap menjadi seorang pemimpin bangsa ini, sedang yg lain masih pengecut. masih wait and see.

Karakter pemberani seperti ini yg harus dimiliki pemimpin bangsa ini, dan ibu megawati berani mengkritik siapa saja, tak terkecuali sby. Inilah yg saya maksud gizi dan bukan politik uang semata. Begitu ya mbak inge, senang sekali bisa berdiskusi dengan anda yg luas wawasan berpikirnya. Kok saya jadi pengamat politik ya? hehehheeh

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Inge
21 January 2011 10:42:53
0

Mega berani mengkritik siapa saja kalau dia berada diluar sistem, Omjay. Dan dia juga alergi kritik.

Power dari segi apa? satu2xnya dulu yg membuat beliau naik krn ‘penindasan’ dari rejim Suharto. Tp setelah dia naik, sami mawon.

Apakah kalau masih wait and see itu artinya pengecut? Atau jangan2x Megawati yg kePDan atau terlalu kemaruk dan tak sadar diri?

DIa mengkritik SBY apa benar kritik yg membangun atau krn sakit hati? Makanya saya bilang dia tak lebih baik dari SBY alias 11 12

Saya bukan orang yg hebat, Omjay. Dan juga wawasan berpikir saya tak luas apalagi utk membahas masalah politik.

Saya hanya mencoba mengemukakan pendapat dan pemikiran saya, itu saja. Kalau kita tak sependapat, itulah dinamikanya, Omjay

Makasih juga atas diskusinya

Salam
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:57:44
0

senang sekali berdiskusi dengan mbak inge.
Dalam tulisan di atas, ibu megawati akan menjadi pemimpin bila beliau mampu memanfaatkan kesempatan emas yang ada di depan mata. Melakukan konsolidasi ke dalam partai dan membuatnya solid. Seperti kemenangannya di tahun 2000.
Rasnya saya tak sampai hati bila mengatakan bahwa ibu mega tak sebaik pak sby. mari hormati para pemimpin kita. Ibu mega menjadi presiden setelah gusdur digulingkan dan perlu konsolidasi yg kuat untuk melihat siapa kawan dan siapa lawan politiknya. Nampak ibu mega sekarang lebih matang lagi.
Saya sangat mengapresiasi pemikiran mbak inge yg luas. Beda pendapat itu biasa dalam alam demokrasi. heheheh

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Inge
21 January 2011 11:05:14
0

Saya bukan tidak menghargai Mega maupun pemimpin yang lain, Omjay.

Tapi saya hanya berharap Mega lebih arif dalam memotivasi yg muda2x untuk maju. Itu akan lebih baik untuknya daripada dia maju untuk mencalonkan diri meskipun memang itu adalah hak dia utk maju mencalonkan diri.

Pertanyaannya adalah apakah tak ada orang lain selain dia?
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:29:39
0

Saya rasa ibu mega telah memberikan kesempatn yg seluas-luasnya untuk para genarasi muda muncul. hanya saja, beran media yg sdh terlanjur membencinya membuat kitapun menjadi ikutan membencinya.
Maaf mbak Inge, untuk saat ini saya belum melihat ada pemimpin lain selain ibu mega yg mampu memimpin rakyat yg sdh berjumlah 220 juta ini. Entah kalau ada yg mengajukan yg lainnya. tapi menurut saya “gizi” ibu mega yg masih kuat dan masih banyaknya rakyat kecil di pedesaan yg mengaguminya membuat saya masih menaruh perhatian lebih kepada wanita hebat ini.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Ndoty Aja
21 January 2011 10:32:12
0

saya mencalonkan Anas Ubaningrum & Fadel Muhammad sbg capres & cawapres 2014 nanti. keduanya kombinasi yg baik dari segi (kendaraan) politik, usia (regenerasi sdh hrs dimulai menyongsong tantangan yg lbh berat) & pengalaman.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:40:59
0

kedua calon sangat bagus, namun mapak harus bersabar setelah 2014 ya mas, heheheh Karakter ibu Mega jauh di atas mereka. Coba pahami apa yg saya tuliskan di tas.

Org muda kita bukan tdk mampu, tapi masih belum saatnya. masih harus sabar dan berguru pada yg tua. begitu ya mas.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Moona.f Gahtani
21 January 2011 10:39:40
0

kali ini boleh yah saya gak setuju dg omjay ehehhe megawati rasanya jauh dari kata negarawan, suka mengkritik tapi gak mau di kiritk, suka ngambek hanya karena hal hal sepele, ambisinya hanya ingin jadi pemimpin ,jauh sekali dari sosok sukarno
megawati tidak lebih baik dari SBY, semoga akan ada wajah baru untuk calon pemimpin di negri ini, seorang pemimpin yg mau berjuang demi rakyat dan bukan demi kepentingan partai dan golongannya

postingan omjay kali ini bernada kampanye?
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:01:57
0

saya rasa apa yg disampaikan mbak Moona hampir sama dengan pendapat org banyak. pengaruh media begitu besar di negeri ini, termasuk media televisi.
Dulu pak SBY disayang media, tetapi sekarang? Bisa jadi ibu Mega yg disayang mega kali ini. Asalkan beliau mampu bermain politik yg cantik dan benar-benar berjuang untuk rakyat. untuk wong cilik, bukan wong licik, hehhhe
mari kita buka lagi pikiran kita.

dalam postingan saya yg dulu saya termasuk org yg tdk mernyuklai ibu mega, tetapi saya justru berpandangan sebaliknya.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Kiki Muntako
21 January 2011 10:40:49
0

paparan yang menarik mas Jay, politik kalau di hitung2 pasti selalu mengasilkan kemenagan,itu kalau di hitung2 namun pada kondisi kenyataan akan berbicara lain walau hanya sehelai kain sebagai pembantasnya….
salam Mas JAy
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:31:11
0

ya itulah politik mas, sulit kita bisa memprediksinya, namun rasanya feeling saya kali ini benar. Ibu mega akan memenangkan pertarungan presiden di 2014 bila usulan saya itu dikerjakannya dengan baik.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Widianto.h Didiet
21 January 2011 10:41:10
0

kalaupun mega menang.. pasti bukan karena aku yang milih…

*baru mau milh mega kalau udah cerai sama Taufik …
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 10:47:46
0

hehhee, mas diiet bisa aja, hahhaha

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

I.p Kamis
21 January 2011 10:46:44
1

ha..ha..ha..ha analisis yang lucu, Omjay sekarang mencoba berubah dari pendidik menjadi pengamat politik rupanya. Maaf om kalo saya enggak yakin (ini enggak ada analisis apa-apa) kalau megawati bisa memenangkan 2014, alasan saya sederhana saja (1) dukungan Amerika bisa berubah dalam 4 tahun mendatang (2) dalam empat tahun akan muncul kuda hitam, tokoh muda yang pintar, berkharisma yang saat ini belum kita kenal (ini bukan anas), (3) Megawati sudah pernah jadi presiden (4) megawati kurang pintar, dan tidak luwes berpolitik, cenderung kaku serta mengandalkan kharisma bung Karno (5) Faktor suaminya taufik kiemas, yang terlalu terlihat sangat ambisius (6) megawati pemelihara budaya trah, PDIP kalau bisa jangan lari dari rengkuhan tangan keturunan bung Karno, budaya ini yang tidak cocok di iklim demokrasi sejati. demikian,salam hangat omjay lebih kurangnya mohon maaf.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:16:14
0

heheh, iya nih mas lagi nyoba jadi pengamat politik. kayaknya asyik juga diskusinya.
saya sependapat dengan apa yang anda tuliskan, ityulah makanya dalam tulisan saya dia tasa ibu mega harus memperbaiki citranya termasuk apa yg dituliskan oleh mas kamis.

kalau beliau masih sama seperti periode yg lalu, agak sulit bagi beliau memangkan pemilu di 2014, karena itu beliau akan menang bila usulan saya di atas dijalankan.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Aly Imron Dj
21 January 2011 10:47:08
0

Aku berharap malah ada tokoh muda dan baru yang menjadi Presiden. Tokoh2 lama dan tua sudah ketahuan track record-nya dan sulit dipercaya sehingga tidak terlalu layak untuk dipercaya, pinternya cuma mempertahankan status quo dan memperkuat nepotisme. . Marimelalui dunia maya kita dorong orang-orang muda yang berani dan bersih untuk maju dan mempersiapkan diri dari sekarang.

sam Bos jay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:23:27
0

saya juga kepengenya sih begitu mas, tapi nampaknya belum ada dari tokoh muda yang karakternya kuat seperti ibu megawati. marin kita lihat dulu gebrakan ibu mega menuju 2014, semoga beliau sehat dan berumur panjang.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Dpo Sanyoto
21 January 2011 10:48:31
0

MSP koq belum bisa jd Negarawan yg lengkap,karakter,kepintaran,kecerdikan,diplomatis dsb,nama dibelakangnya saja yg “dipergunakan” parpol yg dipimpinnya,selebihnya tidak,maaf nih Om Jay,salam !!!
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:19:02
0

iya mas dipo, anda bioleh saja bicara seperti itu, namun bila sampai tahun 2014 ibu mega dapat meningkatkan kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin, saya yakin kursi RI-1 dapat beliau rebut kembali.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Bimo Tejo
21 January 2011 11:04:52
0

saya kasihan sama indonesia. miskin harta dan miskin kader pemimpin. pemimpin bekas terpaksa dipakai lagi, padahal kualitasnya gitu-gitu aja.

bangsa ini memang bangsa pas-pasan. selalu memilih pemimpin dengan kualitas pas-pasan. gus dur dipilih bukan karena mumpuni, tapi karena tidak mau presiden perempuan. megawati jadi pemimpin bukan karena cerdas, tapi karena nasib membawanya jadi anak biologis sukarno. SBY terpilih bukan karena dia jenderal yang berprestasi, tapi karena berhasil membentuk citra sebagai pihak yang teraniaya oleh megawati.

jangan heran jika nanti aburizal bakrie yang tangannya berlumur dosa lumpur lapindo akan terpilih jadi presiden/wapres. karena bangsa ini memang ditakdirkan untuk tidak memilih orang yang terbaik.

orang2 terbaik bangsa ini tidak akan pernah jadi pemimpin. kasihanilah indonesia.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Inge
21 January 2011 11:07:41
0

setuju!
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:40:23
0

kita tak boleh pesimis mas, kita harus optimis ke depan, dan kita mulai itu dari diri kita sendiri. Pemimpin kita sekarang ini dipilih langsung oleh rakyat. waktu pak JK tak terpilih saya sakit banget karena jagoan saya tak terpilih. tapi karena ini adalah demokrasi, maka kita dukung pak SBY sampai 2014.
hanya saya melihat, ibu megawati masih memiliki kesempatan di tahun 2014 bila citranya yg buruk segera diperbaiki, dan semua itu sdh saya tuliskan di artikel saya di atas. begitu ya mas, hehehheeh
wah banyak juga ternyata yg komen, hehheheehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Bimo Tejo
21 January 2011 11:45:51
0

saya bukan pesimis omjay, tapi FAKTA menunjukkan bangsa kita memang selalu memilih pemimpin yang “mediocre”. bukan hanya medicre, bahkan barang bekas pun mau didaur-ulang sebagai pemimpin. kasihan.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 14:16:54
0

itulah tuga kita agar bangsa ini menjadi cerdas, buka begitu mas? sdh mimi cucu beleum?, hehhehehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Bimo Tejo
21 January 2011 14:28:47
0

udah omjay, minum langsung dari sumbernya, hahahaha. bangsa ini bangsa yang cerdas? begitukah omjay? kalo bangsa kayak gini dikatakan bangsa cerdas, berarti guru2 kita sudah gagal total. katanya cerdas kok pemimpin saja pake daur-ulang.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 17:56:35
0

hehehe, kita lihat dulu apakah ibu mega sampai 2014 bisa memperbaiki dirinya? Bila bisa dia akan menjadi presiden kembali. Kalau di mata rakyat ternyata jelek, ya pastilah gak kepilih jadi presiden. Namun kemungkinan itu nampaknya kecil, kecuali kalau ada poros tengah seperti jaman amin rais dulu, hehhehehe (Waha omjay kayak pakar politik beneran nih, jangan2 ada org TVone nih yg mau ngundang omjay, hahhahaha )

salam humor
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Adam Kusumaatmaja
21 January 2011 11:05:01
0

Sudahlah Om Jay enggak usah ikut-ikutan membuat analisis politik. Megawati itu masa lalu, enggak usah berusaha ditampilkan lagi. Toh ketika beliau memimpin pun juga tidak memperlihatkan keberhasilan. Berikan kesempatan kepada yang lain yang lebih mampu. Untuk ikut memperbaiki bangsa ini bu Mega enggak harus menjadi presiden lagi kan?
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:37:15
0

mas adam yang baik, anda salah menilai ibu megawati. dulu juga saya begitu. Namun setelah melihat sepak terjang ibu mega selama ini dan berani menjadi partai oposisi, maka sikap saya terhadap ibu megawa berunah. saya justru berharap Indonesia menjadi lebih baik dari pemimpin yg berani seperti ibu megawati.
Kita jangan hanya melihat sisi negatifnya saja, tapi lihat juga sisi positifnya, begitu ya mas, hehehhhe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Adam Kusumaatmaja
21 January 2011 14:19:12
0

pakai parameter apa om jay bilang saya salah menilai megawati? apa karena beda dengan pendapat om jay kemudian saya dinilai hanya melihat sisi negatif megawati?

please deh om, yang realistis aja. sebagai pendidik dan tidak memiliki latar belakang ilmu politik, sebaiknya om jay pikirkan masak2 jika ingin jadi pengamat politik. berpendapat soal politik2 boleh-boleh dan sah-sah saja karena itu hak setiap warga negara, tapi untuk menjudge pendapat orang lain salah bukanlah pada tempatnya.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:00:01
0

wow keren mas adam. saya masih menganggap anda salah bila Megawati itu masa lalu, enggak usah berusaha ditampilkan lagi. Toh ketika beliau memimpin pun juga tidak memperlihatkan keberhasilan.
Menurut saya, kalau beliau bisa memperbaiki kesalahan itu dan bisa meyakinkan rakyat melalui kampanyenya, maka kursi RI-1 bisa kembali ke tangannya.hhehehehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Adam Kusumaatmaja
21 January 2011 18:08:50
0

Pertanyaan saya belum dijawab, parameter apa yang digunakan untuk melihat saya salah menilai tentang megawati?
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
22 January 2011 02:50:16
0

Sudahlah Om Jay enggak usah ikut-ikutan membuat analisis politik. Megawati itu masa lalu, enggak usah berusaha ditampilkan lagi. Toh ketika beliau memimpin pun juga tidak memperlihatkan keberhasilan. Berikan kesempatan kepada yang lain yang lebih mampu. Untuk ikut memperbaiki bangsa ini bu Mega enggak harus menjadi presiden lagi kan?
itu parameternya mas adam yg hebat, hehhehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Adam Kusumaatmaja
23 January 2011 09:51:25
0

Om Jay sudah cocok nih jadi politik daripada guru. dikasih pertanyaan jawabnya muter-muter dan ngeles gak jelas. saya dukung deh kalau om Jay mau jadi politikus dadakan dan gak bermutu, melengkapi kelucuan di negeri ini.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 10:52:26
0

mas adam yg lucu, mari kita mentertawakan diri sendiri dulu. Nampaknya anda belum cerdasdalam mebaca, hehhehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Elite Anson
21 January 2011 11:07:22
0

Jangan sampai dech Indonesia di pimpin lagi sama megawati AMIN
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:43:37
0

waduk kayaknya sdh benci mati nih sama ibu megawati, hehehhee

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Arif Sugiarto
21 January 2011 11:13:22
0

hehehe… yakinnya masih bersyarat om… ^^
berarti belum 100% yakin ni..

salam juang dari arif..^^
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:45:00
0

coba anda membaca dengan cerdas artikel saya di atas, maka keyakinan saya baru 90 % itu puh bila ibu mega melakukan apa yg saya usulkan, hehehhe.
(KOK mau yah ibu mega disuruh-suruh sama guru, hehehhehe) :d

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Arif Sugiarto
21 January 2011 11:58:36
0

nah itu maksud saya, keyakinan om emang belum 100% karena masih ada kata ‘kalau’, ‘itupun’, ‘jika’, gak cuma di artikel tapi di banyak reply komennya om sendiri. gimana klo bu mega ga nurut sama om?
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 14:23:28
0

ya gak bakaan kepilih lagi lah, hehhehehe
Gitu aja kok pusing, hehhehehee

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Arif Sugiarto
23 January 2011 11:20:21
0

saya pusing karena judulnya…
“Megawati Calon Presiden yang Akan Menang di 2014″

coba kalo judulnya gini:
“Megawati Calon Presiden yang Akan Menang di 2014 Kalau…..” ato gini “Megawati Calon Presiden yang Akan Menang di 2014 Kalau Nurut Omjay”
kira2 bikin pusing gak ya?

hahahahaha…
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Umar Dhani
21 January 2011 11:20:20
0

Om Jay Masyarakat yang punya hak pilih nanti di 2014 adalah orang2 yang sama pada saat Ibu Megawati jadi presiden serta tambahan dari putra2 putri kita yang saat ini minimal baru SMP kelas 3…Nah pemilih yang lama masih ingat bagaimana rasanya Birokrasi serta Korupsi pada saat itu serta adik2 kita saat ini tentunya belum paham betul dengan iklim Politik kita…So Om Jay analisa saya Megawati hanya bisa meramaikan busrsa pemilihan Presiden bukan untuk menjadi RI 1

Wassalam
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:46:34
0

kita lihat saja nanti, kan saya hanya mengestimasi saja. Itupuin bila ibu mega mampu melaksanakan kesempatan emas yag ada dihadapan mata. dalam politik segalanya bisa berubah mas, apalagi bila calon itu bersahabat dengan media.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Roland Pasaribu
21 January 2011 11:26:31
0

Untuk kondisi saat, saya setuju bila pada 2014 Megawati akan menjadi pemenang karena lawan2nya hanya sekelas Bakrie, Prabowo, dan Wiranto. Sedangkan JK belum tentu akan maju. Tapi nama-nama lain belum diketahui. Hanya saja jika saya berpikir tentang Megawati, ada yang kurang tentang kapabilitasnya. Mengapa ? Karena dia satu-satunya orang yang masih menggunakan nama Ayahnya untuk mendapatkan suara. Apakah orang yang selalu menggunakan nama Ayahnya, layak menjadi seorang Pemimpin sejati? Sedangkan nama-nama lain murni berjuang dengan kemampuan sendiri dan partai pendukungnya.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:48:33
0

tak semua naka sukarno sperti ibu megawati. darah kepemimpinan ayahnya memang terasa sekali mengalir ke tubuh ibu megawati. Ini bukan hanya persoalan keturunan tetapi persoalan karakter kuat kepemimpinan beliay yg berani berkata tidak di saat org lain berkata tidak.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Sudramono Manihuruk
21 January 2011 11:38:15
0

selama masih ada bu sri Mulyani kemungkinan Mega menang akan semakin kecil….
tapi klo ga ada bu Sri bisa jadi….
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 11:52:28
0

Saya masih melihat kalau ibu SM masih kalah kuat karakternya dengan ibu SM. lagi pula ibu SM masih belum berpolitik. Sulit rasanya menjadi presiden di negeri ini tanpa ikut berpolitik. Kita belum tahu, gerbong politik mana yang akan dipakai ibu SM.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 10:48:30
0

betulmas, makanya ibu SMI harus sehal mencalonkan diri dari sekarang kalau mau menang karena Indonesia ini luas mas, dan perlu sosialisasi dan publikasi ke tiap daerah dan buka hana pulau jawa saja.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Sutatosa
21 January 2011 12:02:07
0

ada apa dgn om jay nih >? tidak konsisten,.. dulu waktu pemilu 2009,… omjay merupakan antek dan fans berat nya sby,….

selamat kembali ke jalan yg benar,…

tapi kalo pilihannya kembali ke megawati,… saya menyesal anda telah menjadi pendidik,… nanti bisa memberikan analisa yang keliru kepada anak didik nya,…

masih banyak yg lebih hebat dari tokoh veteran veteran itu,…. tolong buka wawasan lagi,.. kalo hitungannya hanya ke populeran saja,.. anda jangan bikin analisis gitu deh,…

salam sukses mulia
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 14:28:55
0

hehehhe, aduh mas, anda kayaknya harus membaca kembali deh artikel-artikel yg pernah saya buat. Ketika SBY mencalonkan diri, saya memilih pak JK mas, bukan SBY. Sayangnya jago saya itu kalah, hehehhhe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Sudargi Osman
21 January 2011 12:10:51
0

Mega mungkin jujur dalam memimpin di term yg lalu, tapi banyak juga negatif poin nya. Salah satunya TK, suaminya. Tapi jadi seorang “pemimpin” kan bukan hanya modal jujur. Harus juga pintar pilih pembantunya yang bisa dan berani, bukan tawar menawar dengan partai politik. Saya kira kemungkinan Mega naik, cukup besar bila dilihat saat sekarang. Karena tokoh lain yang punya “kendaraan” dan “gizi” belum setara Mega. Cukup fair juga beri kesempatan 1 term penuh (karena sebelumnya tidak full, hanya melanjutkan Gusdur). Tapi kalau SMI ikut naik arena, saya kira bagus untuk negeri ini. Asal di bantu media yang memang menginginkan perbaikan lebih cepat buat negara ini. Sayang, banyak media juga sudah milik petinggi parpol. Saya setuju Om Jay, kalau Mega mau naik, harus banyak perbaikan.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 14:30:02
0

sip, akhirnya ada yang satu pemikiran dengan omjay.
Terima kasih mas sudargi

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Dian Kaizen Jatikusuma
21 January 2011 12:20:59
0

wah.. kali ini saya ga sepaham ama om jay..
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 14:30:42
0

gak papa mas, namanya pendapat bisa saja kita berbeda cara pandang. makasih mas sdh mampir.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Sahrudin Alfasah
21 January 2011 13:11:12
0

Dulu saya sangat membenci PDI-P dan Ibu Meganya.. namun lambat laun hingga kini saya seperti tertarik akan keberanian dan ke teguhan sesosok ibu negarawan yang berani mengatakan “TIDAK” disaat yang lainnya “manut” terhadap si penguasa negri.

Kita tahu zaman dulu kepemimpinannya banyak kekecewaan yang dirasa, namun sebagai manusia yang ber-iman .. kita harus yakin kesalahan masa lalu harus menjadi pelajaran berharga buat kita memperbaiki ke depannya… MAJU TERUS IBU ku Tercinta.
jangan terbuai bisik rayu penguasa saat ini melalui MAS Taufiq mu. yakin lah .. 25% rakyat wong cilik masih dan akan terus mendukungmu dan akan bertambah dari rakyat mu yang “sadar” dari janji-2 manis “palsu” yang memabukan dari pesaingmu kemarin , Doa kami agar IBU tetap ISTIQOMAH memperjuangkan kemakmuran negri ini… AMIN

Salam Wong Cilik
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:07:43
0

wah pendukung berat ibu megawati rupanya. hehhehehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Amalludin
21 January 2011 13:17:54
0

MIMPI KALI YE…
Yang penting bukan presidenya siapa ,tapi ,RAKYAT SEJAHTERA….bukan apa yang diucapkanya tapi apa TINDAKANYA……..
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:08:37
0

sip ini yg harus dilakukan oleh ibu megawati kalau mau menjadi RI 1 kembali.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Sahrudin Alfasah
21 January 2011 13:24:11
0

Bukannya negri kita sudah terbawa mimpi me-mabukan selama 6thn terakhir ini oleh janji-janji manis… !!!!!

sudah saatnya hati nurani berkata… jangan terpesona oleh Ganteng nya , Cakap bicaranya, and Jago ber-nyanyi nya saja .

Mari satukan tekad satukan niat.. PILIH Presiden yang bikin RAKYAT bener-2 SEJAHTERA dan bukan cuman buat Keluarganya / Besannya / ataw siapalah .. SETUJUUUU …
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:09:19
0

setujuuuuuuuuu……

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Achsin El-qudsy
21 January 2011 13:26:05
0

megawati sudah ngak jamannya lagi om….aku milih om jay aja deh
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Sahrudin Alfasah
21 January 2011 13:26:21
0

nah setuju juga nih .. OM jay Pilihan alternatif .
gimana oom bersedia kan ? ^_^
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 15:49:25
0

gak mas, soalnya enakan jadi guru, hehhehee

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Bayu Kirana
21 January 2011 13:29:40
0

Ibu Sri Mulyani dan Arifin Panigoro pilihanku.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:04:19
0

wah bagus tuh, cuman sayangnya ereka belum berani mencalonkan diri jadi presiden, hehhehehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Satriwan
21 January 2011 13:39:43
0

Waduh……..!!! Om Jay…kok begini analisianya???
Untuk hal ini sy sngat ndak sepakat dg analisanya Om jay….
Tp ndak apa-apa…sy mengajarkan kpd siswa dlam pelajarn Kn, bahwa berbeda itu adalh ciri orang hidup dan itulah demokrasi.
Oya, ini kan prediksi guru, bukan analis politik bahkan Lembaga Survei….hehehehe

Om Jay udah berpindah ke lain hati yaaa……hahahaha
Mantap Om Jay…Lebih Cepat Lebih Baik
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 15:56:32
0

iya mas, lagi nyoba belajar menganalisis peta politik, kayaknya seru juga dijadikan bahan diskusi, walaupun saya bukan pakarnya.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Tata Marceli
21 January 2011 13:43:43
0

kalau megawatie dianggap dekat dg amerika saya pikir nggak lah…mega sbg anak bung karno yg dikenal anti amerika dan politiknya dulu waktu menjadi presiden tidak condong ke amerika..satu contoh masalah penjualan gas yg diberikan ke cina tidak amerika…

tapi bagus jg kalau mega jadi presiden lagi..biar sby dan demokratnya gantian diobok-obok boroknya…hehehehehe…salam omjay..
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:05:28
0

waduh politik balas dendam dong, hehhehhhe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Adipati Rozi
21 January 2011 13:44:24
0

kalau saya sih lebih senang kalau ada wajah2 baru.. kalo megawati mencalonkan lagi, rasanya dia sudah terlalu terobsesi untuk menjadi pemimpin dan rasanya itu kurang baik..
negeri ini harusnya bisa berdiri dengan 90% kekuatan SDA dan SDM-nya.. bukan cuma kedekatan dengan amerika atau cina atau negara besar lainnya..
negara yang besar adalah negara yang menghargai budaya dan bahasanya.. bukan karna kedekatan dengan negara lain..
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:13:37
0

aya setuju dengan anda, namun sejarah tak bisa kita pungkiri bahwa para pemimpi Indonesia setelah soekarno sangat dekat dengan amerika, bila menjauh atau frontal, bisa jadikekuasaannya tak akan lama. Mungkin ini hanya analisis bodoh saya saja, hehhehhehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

I.p Kamis
21 January 2011 13:48:40
0

He..he..he..he kita semua termasuk admin berhasil dijebak omjay dengan tulisannya yang “bombastis” ini. Tampaknya omjay sukses mempelajari cara membuat judul yang bakal sukses (belajar dari postingan Eriyanto Anas) dan cara membuat tulisan yang menggelitik (belajar dari postingannya Harry Pribadi). Salut untuk omjay. old soldier never die. Salam hangat omjay. postingan yang menggelitik,kontroversial,lucu, dan menarik sampai enggak tahan untuk mengomentarinya.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 16:00:53
0

hhehehe, makasih mas, saya ingin melihat pembaca mana yg cerda dan mana yg tidak. Terima kasih mas, anda memang org hebat,hehhehehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Arya Bima
21 January 2011 14:47:02
0

Waktu Megawati jadi presiden RI, dia yang paling banyak ngejualin aset2 negara. Bener ga?
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:08:44
0

gak semuanya benar mas, makanya ibu megawati harus mendekat kepada media sehingga bisa klarifiksi berita ini.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Graal Taliawo
21 January 2011 14:54:22
0

OmJay, Mega, ya? Ehhhmmm. Dari potensi kemangan mungkin sekali. Hari ini, dengan kondisi buruk, nama pemrintah buruk, posisi opisisi memungut emas, alias popularitas. Ini sudah pasti. Hanya saja, kalau Mega naik lagi, saya sedikit bergeberatan. Sudah tua,d an mestinya beliau tak perlu lagi, walau ada kesempatan, untuk menunjukan bahwa beliau tak rakus kekuasaan. Dan kalau beliau berani mendukung figur muda dari PDIP, dan bukan beliau, maka itu sikap negarawan yang harus diberi jempol. Tapi kalau beliau lagi, maka itu tak akan elok dan etis dari sisi moral berpolitik. Udah tua, dan tempat yang tepat bagi beliau adalah pengarah, dan pemberi nasehat kepada yang muda dalam berkiprah. Aku pikir inilah yang mestinya menjadi wacana, dan bukan mendorong ibu Mega untuk RI 1, kasihan OmJay.

Walau begitu, ini ulasan yang baik, maka kuberi nilai “bermanfaat”. Makasih OmJay. Salam perubahan dari yang tua kepada yang muda. Salam KoDe!
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:09:47
0

terima ksih atas tanggapannya mas, dan nilai manfatanya

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Anto-w
21 January 2011 15:12:57
0

Setahu saya Bu Mega pernah membuat statement tidak akan maju lagi ke Pilpres berikut. Namun statement politisi mana ada yg bisa kita pegang.

Dari pada pro dan kontra dan menjadikan penasaran, ada baiknya kita tanyakan ke salah satu lembaga survey apakah ada survey yg pernah dilakukan untuk melihat peluang Bu Mega masih populer apa tidak untuk dipilih sebagai Presiden di 2014.

Kalau saya dapat info itu akan saya masukkan ke comment di artikel Oom Jay ini.

Salam.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:10:48
0

kalau ada boleh tuh mas, sehingga kita bicara berdasarkan data. Semoga hasil surveynya bukan berdasarkan pesanan pihak tertentu.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Joseph Chen
21 January 2011 15:13:25
0

Ikut nimbrung ah. Salam kenal dulu sebelumnya.

Sepetinya Mega tidak akan punya kesempatan lagi. Pertimbangan saya:

Pertama, usia yang sudah expired dan kadaluarsa.

Kedua, sikap kekanak-kanakan yang sering ditunjukkannya. Kalah nesunan, ngamukan.

Ketiga, si TK sang suami yang “reputasi”nya cukup lumayan (jelek)

Keempat, bibit awal korupsi dimulai dari kemenangan 1999. Saya masih ingat betul, karena euphoria kemenangan mutlak 1999, semua lini pemerintahan, dari RT sampai menteri dikuasai partainya, dan akibatnya, korupsi berjamaah. Yang kemudian menjadi titik tolak dan percontohan periode-periode selanjutnya.

Kalau jaman Soeharto bisa dibilang managed and structurized corruption, kalau di jaman Mega adalah ngawur corruption dan sekarang ini brutal corruption.

Kelima, rakyat tidak bodoh dan buta. Jika ada setitik saja kesempatan untuk Mega, dia tidak mungkin kalah terus menerus dan telak lagi kalahnya. Karena pengikut setia dia akan tetap memilihnya. Yang terjadi, perolehan suara partainya setelah Pemilu 1999 tidak pernah pulih lagi, bahkan untuk jadi “mendingan” sekalipun.

Keenam, terlalu mengedepankan bayang-bayang bapaknya. Dengan segala hormat, Mega masih tidak bisa sama sekali dibandingkan dengan Soekarno, kalau saya boleh bilang, justru saya bilang kalau istilah Jawa “ora sumbut” sama kebesaran nama bapaknya.

Ketujuh, dia jadi presiden BUKAN KARENA pilihan dia sanggup jadi presiden. Memang 1999 dia dijegal Poros Tengah. Setelah itu dia jadi presiden karena “ketiban pulung” menggantikan Gus Dur. Itupun juga ulah Poros Tengah yang menyesal menaikkan Gus Dur yang kemudian mengobrak-abrik seluruh tatanan pemerintahan sehingga bikin banyak kalangan resah.

Kedelapan, saya rasa masih banyak sosok lain yang jauh lebih layak dibanding Mega. Saya setuju dengan salah satu komentar di atas, Sri Mulyani bisa jadi merupakan pilihan…

Terima kasih.
JC
baltyra.com
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:17:58
0

wah lengkap sekali mas anda beberkan kekurangan ibu megawati, semoga dibaca beliau atau staf beliau agar bisa mengkarifikasi komentar anda.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

G
21 January 2011 15:19:57
0

Megawati? Saya tidak akan memilihnya lagi. Cukup sudah. Bagi saya, sejauh ini masih tetap SMI.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 10:55:14
0

semoga ibu SMI mencalonkan diri ya, kalau bu SMI tdk mencalonkan diri, bagaimana?

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Frans Purba
21 January 2011 15:32:08
0

Men.pengamatan saya semua tak terkecuali pentolan2 partai yg ada sekarang -baik opposisi atau koalisi atau yg masuk pemerintahan atau tidak…tak satupun yg layak jadi presiden- semua rata2 air dgn SBY- hanya memikirkan kuasa-kelompok dan kepentingan sesaat.-bagian besar adalah hasil vitamin ORBA.Lihat saja model UU Parpol dan UU Pemilu hasil ciptaan mereka- tak memberi jalan bagi poffessional karir-independen.
Megawati sudah kadaluwarsa -ketika pernah menghianati wong cilik.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 11:02:28
0

hehhe,maksih atas tanggapannya mas, semoga saja ibu Megawati da[at memperbaiki dirinya sampai tahun 2014

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Christopher Andios
21 January 2011 15:40:48
0

“Apapun makanannya, teh Sosro minumannya…” Siapapun presidennya, keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat kuncinya. Saya rasa siapapun presiden yang berdiri di Republik Indonesia ini harus benar-benar berpikir bagaimana mensejahterakan seluruh rakyat, dan bukan hanya “sebagian kecil” rakyat yang sejahtera. Ini tidak mudah, jauh lebih dalam dari sekedar politik pencitraan, “darah biru” pendiri Republik negeri ini, dll. The next president harus benar-benar seorang pemimpin yang berkepribadian, bernurani, dan berhasrat: dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Apakah Megawati, atau yang lainnya? Kita tunggu hasilnya, nice post Omjay.

Salam kenal, love life live love
http://www.andiosville.wordpress.com

Andios
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 10:57:30
0

sip mari kita tunggu hasilnya ya mas, hhehehehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Iyang Sri Jatmika
21 January 2011 15:45:22
0

yes hidup bu mega.. tapi sekarang beliau tak lebih dari TEH CELUP rasa SOEKARNO itu menurut mas Iman Brotoseno hehehe yang tulisan2nya saya suka.Walau tak jadi Presiden saya tetap menghormati beliau ….yes hidup bu mega..salam om Jay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 10:58:49
0

salam kembali mbak sri, semoga bu megawati bisa memperbaiki citra dirinya sebelum tahun 2014.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Amartiwi Sonya
21 January 2011 15:54:47
0

Semoga rakyat Indonesia sudah pandai membaca politik pencitraan yg selama ini memenangkan perpolitikan Indonesia.

Salam perbedaan.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 10:59:54
0

setuju, mari kita cerdas membaca bahwa politik pencitraan sdh terliaht kebohongannya

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Imam Wiguna
21 January 2011 15:55:41
0

Buat apa meyakini seseorang yang pernah gagal?Jika ia berhasil, kenapa kalah sama SBY? Klo menurut saya…ya dua2nya jgn jd presiden…wong keduanya gagal….
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 11:06:45
0

hidup gagal. sayangnya sampai saat ini belum ada yg berani mencalonkan diri sebagai presiden di negara ini.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 16:01:31
0

Teman-teman yg omjay kagumi dan banggakan,
saya mengucapkan terima kasih atas tanggapan teman-teman yg begitu mengalir deras seperti letusan merapi, hehehehe.

Nanti omjay jawab lagi satu persatu kalau sudah gak sibuk ya…. soalnya masih nyiapin materi dulu untuk guru-guru di Aceh. sampai nanti ..ya….

salam blogger persahabatan
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Mus Aceh
21 January 2011 16:13:56
0

Bisa jadi Bu Mega bisa memang mengingat prosentase pemilih 75% SD-SMP dan 25% SMA-PT.

Namun maunya 2014 adalah tahun fresh dengan tokoh-tokoh muda, baru, pinter dan berani. Smoga kita siap berubah..
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:33:29
0

semoga ada perubahan di tahun 2014.Mari kita lihat siapa yg berani mencalonkan preside untuk tahun 2014 setelah ibu megawati.hehhehe

salam
omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Mad Mizan
21 January 2011 16:24:56
0

Jangan salahkan Om Jay menuliskan ini. Semua bebas menulis tentang calon Presiden. Yang penting postingannya HL kan, Om…. Susah lho, Kompasiana Baru bisa nembus HL, SUMPAH!
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:19:28
0

iya mas mad Mizan, ini HL yg kedua bagi saya. Terima kasih ya tim admin. Anda baik sekali sama omjay, hehhehehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Mas_har
21 January 2011 17:05:47
0

1. Pak Jay apa Anda serius melawak di sini ? Nah di negeri kita ini kan cari kerjaan susah, walau lulusan S1, S2 ataupun S3, apa lagi kalau cuman jebolan SMA. Apa masih layak kalau 3 tahun lagi kita masih dipimpin nenek-nenek yang ijazahnya patut dipertanyakan ?
2. Apakah kira-kira rakyat melupakan pengampunan beliau kepada pengemplang BLBI semasa beliau berkuasa dulu ?
Juga Cut Mega ini menangis-nangis tanpa bisa berbuat apa-apa untuk Aceh kala itu?
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:20:29
0

kita serahkan saja pada rakyat yg akan memilihnya ya mas, hehhehehe :d

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Budisusilo
21 January 2011 17:21:04
0

wah, rame banget diskusi tentang bu mega disini… semoga ini bukan tulisan pesanan bu mega ya om jay… hehehe…

saya kira ramalan om jay bsa menjadi kenyataan. mengapa? karena bu mega tidak punya saingan berat karena pak beye sudah gak mungkin mencalonkan kembali. soal terpiihnya bu mega jadi presiden ri, terserah kembali kepada kita, apakah kita mau mempunyai pemimpin seperti bu mega? kalu tidak mau ya jangan dipilih!

salam merdeka!
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:22:04
0

iya mas budi, jadi rame nih. saya gak nyangka tulisan saya bisa serame ini. Semoga saja analisis saya yg sederhana ini bisa memicu ibu megawati memperbaiki citranya. tapi ini murni dari saya, dan bukan pesan loh, hhehehe. kalau dipesan boleh juga tuh, hahhahahaha

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Prast Setyo
21 January 2011 17:44:06
0

saya rasa sulit om jay, bukan tidak bisa tapi sulit. Sampai saat ini PDIP belum mencerminkan sebagai partai yang pro rakyat dan perubahan. Maruarar sirait (kalo saya gak salah) skrg sudah kehilangan sosoknya, padahal dia dulu ujung tombak kasus century. Belum lagi banyaknya kasus yang kayaknya mash belum diledakkan oleh lawan2 politiknya, salah satunya pemilihan miranda gultom.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:19:00
0

makanya saya tuiskan dalam artikel di atas. memang sulit kalau sdm PDIP belum baik. tapi ini akan menjadi nyata bila mereka pandai untuk memperbaiki diri dan meyakinkan rakyat untuk memilihnya.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Tante Paku
21 January 2011 17:53:49
0

Jangan-jangan yang dimaksud Omjay bukan MEGAWATI tapi MEGAKARTI? Nah, lho coba di chek lagi namanya di KTP, soalnya keduanya mirip.

Salam nunggu Ratu Adil.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:22:35
0

hehhehe, serupa tapi tak sama, hahhahaha Kocak

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Nuri Fitrianti
21 January 2011 17:55:21
0

satu hal yg pasti, saya akan golput untuk pemilu 2014, saya memilih untuk tidak memilih
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
21 January 2011 18:23:13
0

waduh sayang mas, jangan golput dulu, kan kita belum tahu siapa saingan ibu megawati, hehhehehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Damianus Gading
21 January 2011 18:16:01
0

Apa kabar Omjay? Semoga sehat selalu…
Satu-satunya realita yang kita hadapi saat ini adalah…”Tidak ada Pemimpin yang Sempurna”. MAsing-masing memiliki kelemahan dan keunggulannya sendiri.
Memang benar kritikan kawan-kawan…bahwa Ibu Mega tidak lebih baik dari seorang SBY. Tetapi SATU hal yang pasti….Seorang Megawati adalah seorang Pemimpin dalam arti yang sesungguhnya. Kemampuan untuk berani mengatakan “TIDAK’ disaat manusia-manusia Indonesia yg lain takut….adalah buah dari sebuah karakter kepemimpinan yang sesungguhnya.
Menjagokan seorang Megawati dalam sebuah prediksi adalah sesuatu yang menarik…..dan jika ada beberapa kawan kita di forum ini yang menghina Omjay sebagai seorang Pelawak…maka dengan senang hati saya pun akan mengidentifikasikan diri saya sebagai seorang Pelawak juga. Mengapa..? Karena seorang Pelawak mampu Mentertawakan dirinya sendiri….sebuah sikap refleksi yang sangat sarat dan kaya makna.
Yang mengkhawatirkan saya secara pribadi adalah karakteristik rakyat kita yang masih menggambarkan kepemimpinan dilihat dari sudut “Tampilan Luar/Kulit”. Bahwa Kekayaan, Ketampanan, Kecantikan, Kesopanan, Kepandaian Berbicara, Pendidikan Tinggi adalah hal-hal yang mutlak dimiliki seorang pemimpin. Inilah yg menyedihkan saya……
Ibu Megawati dan Almarhum Gus Dur jelas tidak memiliki semua itu sekaligus. “Tampilan Luar/Kulit” mereka sangat tidak menarik untuk dianggap sebagai seorang Pemimpin. Padahal sejarah mencatat bagaimana dua manusia Indonesia ini berani berkata “TIDAK” ketika manusia-manusia Indonesia yg lain takut mengatakannya…dan akhir-akhir ini malah menjadi pahlawan kesiangan.
Saya sampai detik ini meyakini bahwa Ibu Megawati sangat sadar bahwa dalam Pemilu 2009 lalu ia TIDAK AKAN MUNGKIN menang secara head to head melawan SBY. Tetapi ia tetap menjalankan perannya….bahkan ia berani mengatakan “TIDAK” kepada seorang Prabowo Subianto, walaupun mungkin kalkulasi politik bisa saja berubah pada waktu itu (jika Pemilu berlangsung Jurdil). Ketegasannya untuk berada diluar pemerintahan adalah sebuah pilihan yang penuh dengan resiko….tetapi ia tetap menjalankannya….tanpa ragu sedikitpun. Itulah kepemimpinan….sebuah keberanian mengambil resiko demi tujuan-tujuan yang jauh lebih mulia….daripada sekedar kekuasaan belaka.
Mungkin Ibu Mega tidak lebih baik dari SBY dalam hal pencitraan diri….Tetapi satu hal yang pasti….Seorang Megawati Soekarnoputri paham apa artinya menjadio seorang pemimpin.
Terima kasih
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 11:08:49
0

saya sangat setuju 2000 & dengan anda mas gading,

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Ali Mustahib Elyas
21 January 2011 18:36:10
0

Omjay.
Saya naksir baget tuh sama motor honda Megapro yg model terbaru. Tapi uangnya buat beli dari mana ya. O. ya. Sebaiknya saya nunggu kucuran dana dari Gayus saja
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 11:09:38
0

hehhehehe, kok mau ya uang dari gayus, kalau say mah ogah, wong duit hasil dari jalan haram, hehheheheh

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Bhtrg
21 January 2011 18:37:19
0

Nice posting, Indonesia membutuhkan orang pintar dan bermoral menjadi presiden mendatang. Tetapi dari pada pintar tapi tak bermoral lebih baik tidak pintar tapi memilki moral yang baik. Megawati mungkin tidak terlalu smart tapi masih lebih bermoral.
Jika jadi presiden pun Mega dapat membayar 1000 PhD untuk membantunya mensukseskan pembangunan Indonesia,. Namun jika seorang presiden yang tidak bermoral tidak akan berguna di bantu oleh 1000 PhD.
Salam
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 11:04:44
0

yes, anda benar, semoga harapannya begitu.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Andi Harianto
21 January 2011 18:40:16
0

saya dukung omjay saja
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 11:11:07
0

saya malah dukung bang andi jadi presiden, hehehehehe
saya mah jadi guru aja, hehhehehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Rob Roy
21 January 2011 19:03:04
0

Ikut nimbrung ya…..gatal juga tanganku…. Politik tdk seperti matematis 1+1=2…bisa jadi 9, 18 atau bahkan bisa minus 12, tergantung siapa yg memberi soal……Contoh simpel, secara survei, pilpres kemarin sangat bisa 2 putaran, ternyata cukup sekali…… Lagi, yg lagi hot saat ini, secara logika hukum, gayus divonis 20 tahun, ternyata cuman 7….Nah, yg diutarakan bung jay agak “masuk” secara matematis (banyak simpati dr wong cilik, termasuk saran2 yg bung sampaikan, dll.). Jadi saya anggap analisis bung jay bukanlah analisis politik, cuman sekedar ngobrol dan nongol….. Sebagai pembelajaran awal, okelah, mumpung belum ujian yg sesungguhnya. Masih banyak materi “tersirat” dlm politik yg belum bung pelajari. Mudah2an ada kompasioner yg PDIP ikut baca obrolan bung, siapa tahu bung direkrut jadi jurkam otodidak yg orisinil……Terima kasih bung, saya dpt materi dongeng sebelum tidur utk anak saya…… Salam kenal bung….
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 11:13:46
0

anda cerdas menangkap apa yag saya tuliskan mas roy. Selamat ya. anda layak dapat bintang

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Noviana
21 January 2011 19:41:07
0

Saya masih memimpikan kalau JK presiden RI th 2014…bolehkan? hehehe.
Really miss with Mr. JK…lebih cepat lebih baik!
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 11:08:58
0

boleh saja mas, kalaupak JK mencalonkan diri saya akan memilih beliau lahi, karena pak JK adalah idola saya. tapi kalau gak nyalonin ya saya pilih yg lain, hehhehehe

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Aria8
21 January 2011 19:56:34
0

Jika itu terjadi, menandakan Rakyat Indonesia pada dasarnya takut pembaharuaan. Berputar kesitu lagi, melangkah sedikit, mutar-mutar kayak Komidi Putar. Lihat pilkada Bupati, ada isteri Bupati nyalon dg gagah berani, dan aa yang jadi. Begitu juga pimpinan Parpol balik lagi- nbalik lagi dengan segala argumen pembenaran. Mana generasi muda yang brilyan?
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 11:09:56
0

mari kitatunggu generasi muda yg brilyan ya mas aria8

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Bejo Sugiharto
21 January 2011 20:00:19
0

Saya setuju dengan analisanya Om Jay. Menururt saya, Mega itu sesorang negarawan, lebih mementingkan Negara drpd Partai. Saya msh ingat waktu Mega Presiden dan mayoritas di DPR dan MPR adalah PDIP. Klo dia mementingkan PDIP saja tentu Mega bisa berbuat banyak. Tapi ternyata tidak, Mega tdk mau menghalalkan segala cara untuk fokus membesarkan PDIP, malah bersih2 di tubuh PDIP.
Kita ingat bahwa Mega lebih milih Sutiyoso drpd kadernya Roy BB Janis sbg Gubernur DKI, knp? Bisa kita bayangkan kalau Roy jadi DKI 1, tanpa pengalaman dan track rekord yg belum diketahui, DKI jadi seperti apa? Harga yg dibayar PDIP dan Mega adalah gembosan dukungan.
Di Jateng, knp Mega tdk mendukung kadernya Drs. … malah mendukung MayJen Mardiyanto, kenapa? Alasannya setali tiga uang dgn yg di DKI. Juga di Bali dan ada beberapa daerah lainnya.
Makanya saya kaget waktu Partai Demokrat menang, knp pak SBY merestui pelawak Komar jadi calon Bupati Indramayu, dan masih banyak lagi yg lucu2. Kesannya PD menghalalkan segala cara untuk membesarkan partai. Tdk salah sih, kenyataannya dari 5 % di 2004 menjadi 20 % di 2009.
Dulu thn 2004 banyak black campaign thd Mega : yg pendidikannya rendah kek, yg anti presiden wanita kek, yg lingkaran koruptor kek, yg banyak jual aset negara kek, waktu jadi RI 1 tidak memperhatikan wong cilik kek, dan tekek kek lainnya.
Pdhl waktu Mega jadi RI 1 itu kan sebenarnya Pemerintahan Kompromis, bagi2 kekuasaan dan kue yg direbut dari Gus Dur : Mega (PDIP) RI 1; Amin Rais (PAN) Ketua MPR; Akbar Tanjung GOLKAR) Ketua DPR; Hamzah Haz (PPP) RI2; Yuzril (PBB) kebagian Menteri ; Matori Abdul Jalili (PKB contra Gus Dur) kebagian Menteri; etc,etc. Jadinya Mega sulit untuk bertindak tegas. Kalau ada kader lain yg korupsi, tokoh di atasnya akan membela. Jadi, kue Gus Dur dipakai bancaan. Tapi celakanya, yg ikut bancaan malah menusuk dr belakang thd Mega. Kasihan Mega. Tapi ya sah2 saja wong politik itu kotor dan penuh intrik, partai agamapun ikut bermain licik.
Nah untuk 2014, kans Mega memang besar. Mega adalah iconnya PDIP. PDIP tanpa Mega adalah “nothing”. Tapi denger2, katanya Mega ada kesepakatan dgn Prabowo waktu 2009, bahwa untuk 2014 Mega dan PDIP akan mendukung Prabowo jadi RI 1.
Kita tunggu saja. Kita serahkan semuanya ke rakyat. Tapi jangan lupa membawa Mahfud MD dan atau Sri Mulyani, Sultan HB X.
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 11:11:47
0

makanya jangan pernah lupakan sejarah. Ibu Megawati banyak ditusuk dari belakang oleh org kepercayaannya sendiri. Karena itu sampai dengan tahun 2014 ibu Megawati harus panadai memilih siap yg layak dijadikan kawan utk membantunya naik ke ri-1 di tahun 2014.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Buanergis Muryono
21 January 2011 22:45:16
0

Sudahlah… siapa pun yang jadi pemimpin kita, dari RT sampai MPR harus ikhlas memimpin dan ikhlas dipimpin. Sanggup memimpin dan sanggup dipimpin, harus Rakyat Sejati, Manusia Sejati yang ‘mandegani’ negeri ini. Selama mengusung seseorang dengan uang… kita tidak hidup berbangsa dan bernegara, tapi di dalam kebon binatang. Akh, kita ngajar aja, Pak Guru
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
25 January 2011 07:44:13
0

makasih mas, kita ngajar anak bangsa saja biar mereka menjadi pemimpin negera.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Sis12
21 January 2011 23:11:41
0

Ha..ha..ha..ha.., catat baik-baik nih…
Presiden kita tahun 2014 adalah Sri Mulyani
Wakilnya: Susno Duadji
Tapi sebelum itu terjadi, akan lebih dahulu terjadi perang besar-besaran antara pendukung capres-wapres ini (sebagian besar rakyat) melawan gerombolan mafia koruptor + capres-wapres lain yang berusaha menjegalnya.
Situasi akan panas sekali, bersiap-siaplah!
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 11:12:26
0

hahahhaha, setuju mas sis 12, semoga itu tak terjadi ya, hahahhaha

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |

M Toha (토 하)
22 January 2011 09:28:07
0

bukan pemilih mega dan juga bukan pemilih aburizal bakri
+1
Hapus | Balas tanggapan |

Wijaya Kusumah
23 January 2011 11:05:55
0

sip, anda bagus sekali sdh menentukan sikap dari sekarang.

salam
Omjay
+1
Hapus | Balas tanggapan |
Tulis Tanggapan Anda

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Tunjangan Profesi Membunuh Hati Nurani …

Luluk Ismawati | | 01 August 2014 | 14:01

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

Menelusuri Budaya Toleransi di Komplek …

Arif L Hakim | | 01 August 2014 | 18:18

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 15 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 16 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: