Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Muhammad Khotim

sekrang merantau di jogja, kulia fakultas ISIPOL jurusan Ilmu Komunikasi UGM. aktif Sebagai anggota DPM selengkapnya

Apakah President Keenam Indonesia Gila “Nama Baik”?

OPINI | 25 January 2011 | 03:10 Dibaca: 295   Komentar: 8   0

Iseng-iseng dalam lamunan saya, teringat guyonan ala mantan president Gus Dur. Ketika beliau ditanya dalam suatu wawancara tentang terpilihnya beliau menjadi president beliau menjawab dengan unik khas gaya Gus Dur. Beliau menjelaskan bahwa dalam sejarah Indonesia dari president yang pertama sampai keempat itu penuh dengan kegilaan. President pertama gila wanita, president kedua gila harta, president ketiga gila teknologi, president keempat rakyatnya yang gila.

Dalam lamunan kemudian saya berfikir sekiranya julukan apa yang akan Gus Dur berikan kepada president kelima Indonesia. Patut disayangkan Gus Dur terlebih dahulu pulang kehadirat Tuhan sebelum beliau memberikan julukan “guyon” kepada president kelima Indonesia. Tapi saya mengambil hikmahnya bahwa mungkin Gus Dur sengaja tidak mengeluarkan julukan itu tapi memberikan tugas itu kepada rakyat Indonesia.

Pepatah bilang orang mati itu dikenang karena jasanya bukan hartanya. Ungkapan itu sepatutnya menjadi bahan renungan bagi kita semua. Khususnya bagi para orang yang diberi amanah memegang kekuasaan. Bukankah kita semua pemimpin. Dan setiap pemimpin pasti akan dikenang baik oleh kelurganya (rumah tangga) atau oleh rakyat (negara). Namun pertanyaannya adalah mau dikenang sebagai pemimpin seperti apa? Mengutip dari film “My Name Is Khan” tokoh utamnya khan diajari ibunya bahwa di dunia hanya ada dua jenis orang yaitu orang baik dan buruk. Jadi cuma ada dua pilihan dikenang sebagai pemimpin yang baik atau buruk? Silahkan pilih!

Kalau pak SBY itu pemimpin jenis yang mana? Kalau pertanyaan itu bisa kita jawab mungkin kita bisa memberikan julukan “guyon” yang tepat sebagaimana yang Gus Dur inginkan. Paling tidak kita punya ukuran untuk menilai pak SBY. Pertama, mengenai penegakan HUKUM, kedua mengenai kesejahteraan sosial, dan ketiga pemerintahan.

Pertama Hukum, Dari awal masa kepresidenan pak SBY terutama program seratus hari. Ekspektasi rakyat sangat luar biasa. President dengan tegas akan menegakkan supremasi hukum. Hukum akan ditegakkan pada siapapun dari tingkat bawah sampai atas. Langkah realnya beliau kemudian mengupayakan agar peran Jaksa agung, polri, dan KPK bisa bersinergi. Lembaga-lembaga ini nantinya menjadi unjung tombak penegakan HUKUM.

Tapi ibarat panggang jauh dari api. Justru lembaga penegak HUKUM menjadi mainan para mafia HUKUM. Kasus penyuapan terhadap Jaksa Agung muda urip menampar kejaksaan begitu telak. KPK yang diharapkan bisa menjaring koruptor menjadi mainan para koruptor. Kasus yang menimpa Chandra dan Bibit sebagai ketua KPK menjadi bulan-bulan di media. Bahkan pemimpin utamanya Antasari Azhar terlibat kasus pembunuhan berencana. Hal itu menyebabkan KPK vakum cukup lama. Tidak jauh berbeda dengan nasib dua lembaga penegak Hukum tersebut, Polri justru terlibat berbagai kasu yang lebih rumit, kasus Susno Duaji, rekening para pejabat polri yang menggelembung. Bahkan yang terbaru, bagaimana polri bisa kecolongan dengan kaburnya gayus dari tahanan. Bisakah kita mengandalkan lembaga kita? Silakan menjawab dengan argument masing-masing.

Kedua Kesejahteraan sosial, Pasti kita ingat dari tahun ketahun, pemerintah selalau mengklaim bahwa angka kemiskinan menurun. Padahal angka penurunannya sangat kecil, tapi pemerintah membesar-membesarkan. Kalau kita semua mengikuti berita di media, pasti ingat ada sebuah berita yang mengagetkan, salah satu rakyat di Indonesia meninggal gara-gara keracunan makan singkong. Rakyat semakin bingung lantaran harga kebutuhan pokok makin hari makin mahal. Lombok yang tadinya sekilo harganya 15 ribu menjadi samapi 100ribu, uniknya petani yang menanam tidak menikamati mahalnya harga cabe tapi para tengkulak. Kita juga masih belum pernah dengan kalau para petani sejahtera adanya adalah petani mengeluhkan murahnya harga gabah, mahalnya harga pupuk dan peptisida. Dalam hal usaha rakyat masih kesulitan dalam memperoleh modal karena rumitnya persaratan di bank. Apakah ini bisa dikatakatan sejahtera?

Ketiga Pemerintahan. Dari awal president SBY mengatakan akan menciptakan pemerintahan yang bersih. Bersih dari apa? Justru yang ada adalah pemerintahan yang korup. Pemerintahan Daerah dari Aceh sampai Papua tersandra Korupsi (kompas,24/1). Bahkan beberapa kepala daerah yang terpilih justru terlibat kasus korupsi. Bahkan lembaga sekalas DPR tidak luput dari kasus Korupsi. Bahkan yang terbaru DPR sering melakukan pelesiran keluar negeri, yang itu menurut logika tidak bermanfaat. Bahkan tidak ada transparansi mengenai anggaran. Bisakah itu dikatakan pemerintahan yang bersih?

Tapi ditengah kemelut ketidak beresan di Negara ini, presiden dengan santai dan diplomatis selalau memerikan jawaban yang normative. Sesungguhnya ditengah kemelut tersebut president adalah kunci membongkar ketidak beresan dan membereskannya. Solusinya bukan dengan mengajak dialog dengan tokoh agama. Bukan dengan inturuksi kepada satgas. Sudah saatnya pemerintah meninggalkan pencitraan. Permasalahn tidak selesai dengan pencitraan. Tapi tindakan. Bukannya pak SBY menangis dan Curhat!

Kalau Almarhum Gus Dur sudah memberikan pendapat president dari awal samapi empat, maka boleh saya katakana pak SBY adalah president yang gila “Nama Baik” setujukah anda? Terserah anda saya yakin masing-masing punya penilaian. Paling tidak saya sudah memberikan beberapa argumen.

12958778031617303615

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen …

Prayitno Ramelan | | 24 October 2014 | 06:00

Petualangan 13 Hari Menjelajahi Daratan …

Harris Maulana | | 24 October 2014 | 11:53

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Sedekah Berita ala Jurnalis Warga …

Siwi Sang | | 24 October 2014 | 15:34

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 5 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 6 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 8 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: