
mengkampanyekan kampanye yang tidak dikampanyekan | #timhoreee
Dibaca: 2233
Komentar: 34
1 dari 2 Kompasianer menilai Aktual
ini bukan soal ukuran, tapi soal nomor. ya, nomor yang menyita perhatian saya di tengah perjalanan yogyakarta-pacitan 11/1/11 lalu. tanggal yang bagus. apalagi, di akhir perjalanan kembali ke yogyakarta dari pacitan, armand maulana bersama gigi menyanyikan lagu berjudul tanggal itu: 11 januari. perjalanan yang nyaris sempurna.
di samping tanggal yang bagus 11/1/11 itu, ada nomor yang meskipun kurang begitu bagus namun lebih menyita perhatian saya. nomornya 49b. nomor itu saya jumpai di tembok depan taman makam pahlawan nasional bunga bangsa, pacitan. nomor itu menyita perhatian saya karena merupakan satu-satunya nomor yang membuat hadirnya abjad di belakang angka. tentu, nomor itu tidak sendiri. ada nomor 49a di atasnya untuk kepentingan lurusnya logika.
saya mampir ke makam itu hanya ingin memastikan saja apakah pak soekotjo yang rumah tinggalnya saya kunjungi sebelumnya di punung, pacitan dimakamkan di taman makam pahlawan nasional. saya selintas sudah mendengar kabar makam pak soekotjo di taman makam pahlawan nasional bunga bangsa, pacitan. namun, saya ingin membuktikannya sendiri. keragu-raguan membimbing saya mampir ke makam itu.
di antara semua nama pahlawan yang dipahat di tembok marmer, pak soekotjo adalah pahlawan terakhir yang dimakamkan di sana. untuk anda yang tidak tahu siapa pak soekotjo, tentara berpangkat peltu ini adalah ayah kandung pak beye. oleh pak seokotjo, pak beye selalu dipanggilnya dengan sebutan sus.
pak soekotjo (nrp 122153) yang tercatat sebagai anggota legiun veteran republik indonesia di dinding marmer itu dimakamkan 4 agustus 2001. pahlawan terakhir yang dimakamkan di taman makam pahlawan nasional bunga bangsa sebelum pak soekotjo adalah pak sunardi berpangkat peltu (nrp 340082), 12 maret 1995.
saya tidak sempat mencari konfirmasi atas posisi nomor itu. namun, saya menduga, nomor 49 dipecah menjadi a dan b karena nomor 50 hingga nomor terakhir 95 sudah terlanjur dipakai untuk pahlawan dari unsur polri dan lain sebagainya. saya juga tidak tahu mengapa pak soekotjo tidak ditempatkan di nomor 96. saya hanya menduga, tentara memang pahlawan istimewa sehingga harus diberi kategori khusus dan tidak dicampur dengan kategori lainnya.
lagi pula, bukankah taman makam pahlawan nasional kita penuh dengan tentara dan umumnya angkatan darat juga? terima kasih tentunya perlu kita sampaikan kepada para tentara dan para pembangun taman makam pahlawan nasional untuk mereka. lupakan sejenak gambaran pahlawan lain di luar tentara yang ada di benak kita. sejarah dan juga klaim pahlawan memang milik para pemenangnya.
kembali soal makam pak soekotjo. meskipun paling baru dan paling terkenal lantaran ayah dari pak beye, tidak mudah mencari posisi makamnya. tiga tukang yang tengah membongkar lantai untuk upacara penempatan bunga di hari pahlawan hanya geleng kepala ketika saya bertanya. siapa pak soekotjo pun bagi mereka masih gelap. dengan bekal mata yang terpicing karena teriknya siang, saya lihat satu per satu pusara.
tidak sampai dua baris, saya dapati makam yang saya maksud dengan tulisan r soekotjo di baris terdepan. dengan kamera yang tergantung di leher, saya abadikan makam itu untuk saya bagikan kepada anda. kalau tidak berterima, silahkan abaikan saja. di depan pusara itu, pak beye berziarah. ziarah terakhir yang saya tahu adalah saat pulang kampung pertama setelah terpilih sebagai presiden, april 2005. di pendapa rumah budenya bernama watini (86), foto pak beye menziarahi makam ayahnya terpasang dalam ukuran besar.
soal budenya pak beye bernama watini, kisahnya saya bagikan lain kali saja. untuk mengetahui hubungan darahnya dengan pak beye, bu watini adalah kakak pak soekotjo. dari 14 bersaudara, pak seokotjo adalah anak ke-9 sementara bu watini anak ke-8. di rumah budenya itu, pak beye yang ditinggal cerai kedua orang tuanya tinggal dan menata mimpinya untuk menjadi orang dengan meninggalkan pacitan.
soal pak soekotjo yang berbelar raden di depan namanya, bu watini bercerita. meskipun tinggal bersama isteri barunya di punung, pacitan, ketika sakit dan kemudian meninggal, pak soekotjo kembali kepadanya. apalagi, isteri barunya meninggal lebih dahulu. saat meninggal, upacara sebelum pemakaman juga dilakukan di rumah yang ditinggali pak beye saat masih dipanggil si sus ketika remaja.
soal gelar raden yang melekat pada diri pak soekotjo, di buku sby sang demokrat yang ditulis usamah hisyam dkk dijelaskan. gelar itu merupakan turunan dari gelar raden imam badjuri ayahnya. raden imam badjuri adalah putra kedua kasanpuro atau naib arjosari ii (keturunan bawono keling yang berasal dari majapahit) dengan rm kustilah (keturunan rma yudoningrat dan gusti bendoro ayu, putri sultan hamengkubuwono iii).
namun, di rumahnya di punung, gelar raden itu tidak ada. mungkin termakan usia. saya yang hendak bertanya dengan mengetuk pintu depan rumah itu tidak mendapat jawaban. tidak ada orang dewasa di rumah itu. hanya seorang balita saya dapati di dalamnya sedang bermain dengan asyiknya. selain balita, saya dapat juga foto-foto pak seokotjo di ruang tamunya. kalau bertemu dengan pemilik rumah atau yang meninggalinya, pasti lebih banyak ceritanya.
lain kali, kalau sempat, saya akan main ke pacitan pastinya. kemarin saya belum sempat mendapatkan makanan khas pacitan untuk menghibur lidah saya.
salam 11/1/11
nomor 49b untuk pak soekotjo di taman makam pahlawan nasional bunga bangsa, pacitan. pak soekotjo adalah pahlawan terakhir yang dimakamkan di pusat kota pacitan itu. (2011.wisnunugroho)
pak beye menziarahi makam ayahnya di taman makam pahlawan nasional bunga bangsa, pacitan. foto saya repro dari foto yang terpajang di rumah budenya pak beye di ploso, pacitan (2011.wisnunugroho)
rumah pak soekotjo di punung, pacitan. hilang huruf r yang ada di depan namanya. mungkin termakan usia. (2011.wisnunugroho)