
Dibaca: 547
Komentar: 25
2 dari 3 Kompasianer menilai menarik
Betapa membanggakannya menjadi juara di ajang kompetisi antar bangsa. Betapa tidak, bagi mereka yang kurang punya prestasi, ajang apapun setidaknya bisa ditulis dalam curiculum vitae sebagai sebuah prestasi bertaraf internasional. Prinsipnya, apapun lombanya, setidaknya pernah jadi juara. Bahkan dalam Olimpiade Tolol Sedunia. Apa salahnya? Bukankah kita juga sepatutnya melihat “Peringkat Negara Terkorup Di Dunia” sebagai sebuah kesempatan berprestasi? Membuktikan kemampuan kita? Sebagai yang ter-?
Tapi seandainya betul-betul ada Olimpiade Tolol Sedunia, apakah juaranya akan ditahbiskan sebagai Orang Paling Tolol Sedunia? Ini sebetulnya jebakan alur logika yang salah.
Siapakah Juara Olimpiade Tolol Sedunia?
Orang paling tolol di dunia?
Salah! Sama sekali lagi bukan!
Mengapa demikian?
Orang paling tolol di dunia tidak bisa menjadi juara Olimpiade Tolol Sedunia. Sehebat-hebatnya, orang paling tolol sedunia hanya bisa jadi juara II. Mengapa? Karena orang paling tolol sedunia itu sedemikian tololnya sehingga ikut dalam Olimpiade Tolol sekalipun ia kalah.
Lalu siapakah juara dunia Olimpiade Tolol? Tentunya orang paling jenius di dunia. Mengapa demikian?
Taruh kata panitia menguji ketololan seseorang dengan sejumlah pertanyaan pilihan ganda (multiple choice). Juara tolol tentunya adalah yang mendapat skor nol alias salah semua. Tapi Anda perlu tahu jawaban mana yang salah untuk bisa mendapatkan skor tolol sempurna 0. Kalau pertanyaan pilihan ganda dijawab dengan acak saja (diawur), tentunya sesuai dengan probabilitas statistik, akan ada saja jawaban yang ndilalah(kebetulan)nya benar, sehingga skor 0 tidak bisa tercapai dengan mudah dan dengan ngawur. Untuk bisa menghindari pilihan jawaban benar, maka peserta lomba haruslah tahu jawaban mana yang benar dan oleh karenanya harus dihindari. Ini perlu kecerdasan.
Sebagai contoh, pertanyaan seperti:
Di manakah Revolusi Perancis terjadi?
a. Perancis
b. Ciamis
c. Depok
d. Inggris
Untuk bisa menjawab dengan salah, Anda harus menghindari pilihan A. Tapi bagaimana Anda tahu bahwa A harus dihindari? Dibutuhkan kecerdasan dan keluasan pengetahuan untuk mengetahui bahwa Revolusi Perancis terjadi di Perancis. Dengan kata lain, walaupun orang dengan mudah mengetahui bahwa Kentucky Fried Chicken berasal dari negara bagian Kentucky, tapi, toh, tetap dibutuhkan kecerdasan untuk mengetahui bahwa Ayam Goreng Ny. Suharti tidak berasal dari Propinsi Ny. Suharti. Untuk menjadi yang paling tolol sedunia kita harus tahu bahwa Ny. Suharti bukanlah propinsi. Pengetahuan, sekecil dan sesederhana apapun, adalah bagian dari kecerdasan.
Bagaimana kalau panitia menyediakan soal berupa esai–membutuhkan jawaban berupa penjelasan–atau mengisi titik-titik? Sama saja. Orang tolol tidak tidak bisa mengalahkan orang paling jenius. Kenapa? Karena hanya orang paling jenius sajalah yang bisa mengarang jawaban yang sedemikian tololnya sedemikian rupa sehingga bahkan orang paling tolol sedunia pun tidak sampai terpikir ke sana.
Jelaslah sudah bahwa Olimpiade Tolol hanya bisa dimenangkan oleh orang paling cerdas di dunia. Hanya para jenius bisa menjadi juara. Bahkan pada lomba yang bertujuan mencari orang paling tolol sedunia.
Seperti pepatah kuno, “Kalau kau mencari A, maka kau takkan menemukan A.” Kalau kita mencari orang paling tolol sedunia, kita malah mendapatkan orang paling cerdas sedunia. Paradoksal memang. Tapi begitulah dunia.
Juga negeri kita.
Apalagi ketika kita berusaha mendapatkan wakil kita di (lomba bernama) pemilihan umum. Tentunya, saat itu kita tidak berusaha mencari yang paling tolol.
Barangkali, daripada kita susah-susah mencari orang paling tepat untuk mewakili kita, perlu kita adakan pemilihan orang paling tolol sebagai wakil. Siapa tahu yang terpilih malah justru yang paling cerdas.
Ini, maksudnya, setidaknya, untuk menghindari rasa frustasi. Kalaupun ternyata yang terpilih benar-benar brengsek dan tolol, minimal target tujuan diadakannya pemilihan sudah tercapai.
Hasil pemilihan yang biasanya muncul. Dia lagi, dia lagi. Nggak ada kemajuan, ah.