
Laki-laki.Ayah(paknethole).Damai Mania. Menulis seperti "kutu loncat". Tak usah terlalu serius, semua tulisanku anggaplah obrolan sembari minum kopi,..srupuut.. follow : @CS_paknethole, parkir : paknethole.blogspot.com
Dibaca: 185
Komentar: 6
1 dari 1 Kompasianer menilai Aktual
Wikileaks,..situs jejaring pemberita yang menggemparkan
Wikileaks, situs “pemberita” yang dibuat oleh Julian Assange memunculkan sebuah gejala baru di dunia jurnalistik terutama jika dikaitkan dengan investigasi. Yang menjadi pergulatan di sini adalah apakah dunia pada saat ini benar-benar membutuhkan informasi-informasi yang masuk dalam kategori “rahasia negara/diplomatik”? Bagi penulis, sebuah media selayaknya memberikan efek yang mencerahkan bagi para penerimanya dan bersikap netral. Pengungkapan sebuah fakta terkadang memang diperlukan namun harus dilihat pula rentetan akibat dari pengungkapan sebuah fakta. Apakah dengan diungkapkannya sebuah fakta tersebut lebih banyak merugikan khalayak luas atau memberikan manfaat yang sebesar-besarnya atas sebuah informasi. Memang patut diacungi jempol atas keberanian situs ini mengungkapkan sesuatu jauh melebihi para jurnalis investigasi sekalipun, bahkan ada yang berpendapat situs ini merupakan “tamparan” bagi media-media yang selama ini hanya menjadi corong kekuatan tertentu. Namun menjadi sebuah dilema pada saat sebuah media pemberita “mengumbar” sesuatu yang seharusnya merupakan rahasia. Sebuah dokumen menjadi sebuah “rahasia negara” pasti dengan pertimbangan penuh bahwa jika masyarakat umum/dunia mengetahui maka akan terjadi keguncangan besar. Negara manapun itu, termasuk Indonesia pastilah memberikan batas-batas akan sesuatu yang sudah selayaknya dirahasiakan. Masih dalam kategori wajar jika sebuah media meski mempunyai data dan fakta yang akurat selayaknya tetap melakukan filter atas apa yang akan di informasikannya, alangkah baiknya jika apa yang disampaikannya digeser menjadi sebuah “opini” yang memberikan pendidikan dan pencerahan pada masyarakat. Terkecuali jika sangat dibutuhkan untuk kepentingan penegakan hukum/penyidikan.
Sebuah media informasi pastilah mempunyai etika dan idealisme yang pada garis besarnya memberikan pendidikan dan pencerahan pada khalayak bukan keresahan yang tidak seharusnya timbul. Akses terhadap sumber informasi pun sudah selayaknya dipertimbangkan. Alangkah elegan jika sebuah media memberikan informasi dari sumber terpercaya yang setuju untuk diberitakan. Bukanlah “memaksa” menyampaikan berita yang sumbernya sendiri tidak bersedia memberikannya, apalagi jika itu adalah rahasia negara. Apa yang dilakukan wikileaks ibarat sebuah “pencurian” data untuk sebuah sensasi. Itu pula yang menjadi masalah klasik jurnalisme saat ini di satu sisi ada yang terlanjur dikendalikan kekuatan kepentingan meninggalkan kaidah netralitas berdasarkan data,fakta dan narasumber, namun disisi lain ada yang “kebablasan” memaknai kebebasan pers, mengungkapkan sesuatu yang tidak sepantasnya terungkap apalagi jika tanpa opini apapun. Untuk saat ini memang lebih banyak negerinya sendiri yang dokumen rahasianya diobok-obok, tidak mustahil nantinya akan banyak “negara” lain kebakaran jenggot pula. Jika begini apa yang patut kita ratingkan pada situs pemberita ini, pujian kah? Mengingat unsur ekonomi sangat menggoda mungkin akan banyak pengikut jejak wikileaks apalagi jika nilai komersil sebuah informasi bagi yang berkentingan tidak ada batas limitnya.