
Di rumah, saya dipanggil Dar. Di sekolah, saya dipanggil Dor. Di kampus, ada yang memanggil saya Day. Di Kompasiana, teman-teman memanggil saya Isjet (alias Iskandarjet, artinya Iskandar Z, kepanjangannya Iskandar Zulkarnaen). Temukan iskandarjet di About.me, Slideshare.net, Twitter, Facebook dan LinkedIn!
Dibaca: 358
Komentar: 17
3 dari 4 Kompasianer menilai Aktual

Di mata saya, Gayus adalah manusia biasa yang diberi anugerah lulus ujian CPNS Depkeu (nama lama yang sekarang berubah jadi Kemenkeu) dan ditempatkan di Ditjen Pajak, di posisi yang paling basah pula, yaitu di bagian Penelaah Keberatan Direktorat Jenderal Pajak! Dia punya istri dan tiga orang anak. Juga punya orang tua dan mertua dan para sahabat yang mengenalnya dengan baik. Mungkin juga mengenalnya sebagai dermawan sejak menjadi pegawai negeri.
Lalu sebuah godaan menimpa Gayus. Mungkin godaan klasik untuk orang dengan tugas dan jabatan yang sama. Klien yang dihadapi Gayus kebetulan kelas kakap–dengan nominal kewajiban pajak yang maha besar. Maka ketika dia ditawari uang uang tunai puluhan milyar, mata hatinya pun tertutup timbunan harta.
Dia memilih untuk terus bermain dengan korupsi dan mengikuti setiap bisikan setan yang membuatnya lebih kaya dalam waktu singkat. Walhasil, di rekeningnya tersimpan uang panas sedikitnya Rp 25 milyar yang kemudian menjadi awal bergulirnya kasus mafia pajak sejak Susno Duadji buka-bukaan soal praktek makelar kasus (markus) di tubuh kepolisian.
Karena dia orang biasa, jalan hidup Gayus berjalan layaknya orang biasa yang mencintai keluarganya. Maka kaburlah dia membawa istri dan anaknya ke Singapura. Setelah mendapat jaminan keamanan untuk dirinya dan keluarga, dia bersedia balik bersama anggota Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana dan Mas Achmad Santosa yang datang ke Singapura untuk menjemputnya.
Kalau dia bukan orang biasa, mungkin Gayus akan mengikuti jejak Edi Tansil, kabur dan bersembunyi selamanya di entah di mana membawa dosa korupsi senilai 1,5 triliun rupiah!
Setelah ditangkap, Gayus memenuhi komitmennya mengungkap nama-nama wajib pajak yang menyuapnya bermilyar rupiah. Dalam persidangan, terungkap tiga perusahaan milik Ketua Umum Partai Golkar Abu Rizal Bakrie yang ikut menyuapinya seperti anak bayi. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Bumi Recources, PT Arutmin, dan PT Kaltim Prima Coal.
KOMPAS.com melaporkan, tiga perusahaan Bakrie Grup itu memberi Gayus 7 juta dollar AS terkait penanganan masalah pajak. Gayus lalu membagi uang itu ke Alif Kuncoro, Imam Cahyo Maliki, Maruli Pandapotan Manurung, dan pejabat-pejabat di Ditjen Pajak lain. “Saya terima tiga juta dollar AS,” kata Gayus. Di luar ketiga perusahaan tadi, ada beberapa perusahaan lain yang terlibat, dengan jumlah sogokan yang lebih kecil.
Selama bersidangan, satu per satu misteri seputar Gayus mulai terungkap. Masyarakat yang menyaksikan persidangan ini dari hari ke hari mulai mendapat harapan bahwa semua yang terlibat dalam mafia pajak, baik yang disuap apalagi yang menyuap, mendapat hukuman yang setimpal. Namun harapan itu mudah sirna bersamaan dengan munculnya bantahan dan klarifikasi–namun persidangan tetap menjadi satu-satunya harapan.
Sampai akhirnya, Gayus tertangkap kamera KOMPAS.com sedang berada di Bali selama beberapa hari. Setelah membantah dengan seksama, akhirnya Gayus mengakui keberadaannya di pulau Dewata. Bukan karena orang berbondong-bondong mengenakan wig yang sama, tapi karena dia hanya orang biasa yang sangat mencintai keluarga.
Nah, setelah ini, masyarakat menantikan pengakuan Gayus berikutnya. Saya lebih senang menyebut masyarakat sebagai pihak yang berkepentingan, karena dalam kasus ini banyak sekali penegak hukum yang terlibat (sehinga membentuk asumsi di otak saya bahwa para aparat ini tidak punya kepentingan terhadap pengakuan gayus berikutnya).
Banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Gayus sebagai konsekuensi dari pengakuannya berada di Bali selama beberapa hari:
Dan masih banyak pertanyaan lain, yang semakin membuat kita, masyarakat pembayar pajak, geram dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Kalau pertanyaan-pertanyaan di atas diabaikan dan dianggap angin lalu oleh Gayus dan orang-orang yang menangani kasusnya, maka tidak ada lagi harapan untuk menumbuhkan kepercayaan pembayar pajak seperti kita.
Tapi saya tetap yakin, Gayus adalah orang biasa. Dia akan membuat pengakuan demi pengakuan berikutnya. Tinggal menunggu waktu saja. Mudah-mudahan pengakuannya tidak diembargo oleh para penegak hukum atau penguasa di atas sana….