Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ronaldy

Masa Depan Sungguh Ada dan Harapanmu Tidak Akan Hilang

Mertua SBY Penentu Restu

OPINI | 12 October 2010 | 09:58 Dibaca: 1267   Komentar: 4   0

Restu di jaman reformasi ini  bagi kebanyakan orang, mungkin tak bakalan laku., dan sudah tidak zamannya lagi. Benar, jika restu itu langsung  diminta dari  sang pengambil keputusan dan kebijakan. Namun, bila restu itu ada dalam  lingkaran keluarga yang lebih senior dan sepuh. Seperti mertua SBY, Ibu Ageng. Percaya dan tidak percaya. Ternyata menghasikan sesuatu yang berarti.  Anas dan Timur  pun telah menuainya.

Masih ingat Kongres II Partai Demokrat (PD) di Bandung, 20 - 21 Mei 2010. Hasilnya, Anas Urbaningrum (AU),    terpilih menjadi Ketua Umum PD dengan 2 putaran mengalahkan rivalnya Andi Malarangeng dan Marzuki Alie. Kabar beredar sangat kencang, bahwa sebenarnya AU tak direstui SBY. Pertanyaannya,  mengapa AU yang jadi. Sumber yang dekat dengan Cikeas membocorkan bahwa Yudhoyono tak bisa berbuat apa2 setelah Sunarti Sri Hadiyah, biasa dipanggil  Ibu Ageng, mertua SBY senang dengan AU, yang kalem, dan tak meledak-ledak. Rupanya, AU  dalam setiap kesempatan selalu mengunjungi Ibu Ageng  dikawasan Cijantung. Sesibuk apapun AU,  hukumnya selalu wajib untuk tetap mengunjungi mertua SBY menjadi hal yang tak boleh dilewatkan.  Hasilnya,  kita ketahui bersama, kongres itu berakhir dengan manis tanpa ada pihak yang menggugat nama AU.

Mendekati 5 bulan kurang 2 minggu terhitung dari bulan Mei tahun ini.   Timur Pradopo (TP) melakukan hal yang sama, yaitu bertandang ke Ibu Ageng, dalam setiap kesempatan.  Sumber di kepolisian mengatakan TP  pun kerap mengunjungi Bu Ageng,  di kediamannya, Cijantung, Jakarta Timur. Ia datang untuk sekadar menanyakan kabar kesehatan ibu mertua Yudhoyono itu. Lepas dari pembawaan Timur yang rendah hati dan tidak suka meledak-ledak, dan juga  lepas  tipe TP  yang disukai Yudhoyono.

Padahal Mabes Polri sudah mengajukan dua nama  calon Kapolri, Komjen Nanan Soekarna (NS)dan Komjen Imam Soejarwo.   Sumber di PD menyatakan Nanan tak disukai SBY karena  NS yang lebih condong ke PDIP, sedangkan  Imam yang dijagokan SBY, ternyata  tak mendapat tempat di senayan, artinya bakal gagal jadi Kapolri. Tak mau kehilangan  kewibawaan, buru-buru SBY memanggil Kapolri, Jendral Bambang Hendarso Danuri, dan Kompolnas. Terbetiklah nama Irjen TP yang hanya dalam 3, 5 jam naik pangkat menjadi Komjen dengan jabatan  Kepala Pemeliharaan dan Keamanan Mabes Polri, yaitu sebagai syrat diajukan calon Kapolri yang harus bintang 3. Lagi-lagi  usulan Mabes Polri yang mengajukan dua nama dimentahkan pihak istana  negara.  Walaupun , pernyataan Mabes Polri melalui kapolri cukup  memebuat tenang korps bayhangkara, riak-riak kecil  sempat terjadi di Mabes Polri, serasa  tak percaya dengan keputusan istana memilih TP. Bahkan, jau-jauh hari sebelum nama TP dimunculkan,   Kapolda Sumut,  Irjen Pol Oegroseno  dalam pernyataan pers setelah penangkapan teroris, sepakat dengan pengajuan NS sebagai calon Kapolri, karena sama-sama  angkatan 78.

Jika dalam hitungan tahun ini saja mertua SBY telah merestui 2 orang putra terbaik bangsa sebagai  Ketua Umum PD dan Kapolri. Padahal masih ada 3 - 4 tahun  lagi masa kepemimpinan Yudhoyono, dan  setiap bulan atau 3 bulan banyak pejabat militer, Polri dan pejabat yang harus mendapat persetujuan DPR. Bisa dibayangkan, berapa banyak lagi SBY akan memilih calon tunggal, tentu tak usah repot-repot lagi  SBY memanggil staf ahli dan orang yang dianggap kompeten, cahnelnya sudah ada yaitu Ibu Ageng. Bersiaplah, para pejabat yang diajukan ke DPR untuk segera bertandang dan berkunjung ke mertua SBY,  tentu tidak serta merta karena ada persoalan mau dipilih. Track record berupa rekam jejak juga ternyata sudah ada pada Ibu Ageng. Sekali lagi restu mertua  SBY masih jadi pilihan Yudhoyono.

Ternyata  mertua SBY telah menjadi magnet penentu  AU dan TP melanggeng sebagai Ketum PD dan Kapolri.

Tags: add new tag

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Cara Cerdas Meredam Gejolak Warga Atas …

Kang Miftah | | 21 November 2014 | 15:37

Spritualisme di Balik Pelantikan Ahok …

Daniel H.t. | | 21 November 2014 | 11:25

Anak Jokowi ke Toko Buku Pakai Masker …

Niken Satyawati | | 21 November 2014 | 13:12

Ini Dia Nama Maskot Kompasiana! …

Kompasiana | | 17 November 2014 | 20:50


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 4 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 7 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 7 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 9 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: