Artikel

Politik

Iskandar Zulkarnaen

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Di rumah, saya dipanggil Dar. Di sekolah, saya dipanggil Dor. Di kampus, ada yang memanggil saya Day. Di Kompasiana, teman-teman memanggil saya Isjet (alias Iskandarjet, artinya Iskandar Z, kepanjangannya Iskandar Zulkarnaen). Temukan iskandarjet di About.me, Slideshare.net, Twitter, Facebook dan LinkedIn!

Kapolri Karbitan, Pilihan Politik Paling Lucu


HL | 05 October 2010 | 11:51 Dibaca: 1584   Komentar: 70   4 dari 4 Kompasianer menilai Aktual

Kapolda Metro Jaya Irjen Timur Pradopo, mengikuti upacara serah terima jabatan (sertijab) di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Senin (4/10/2010). Dalam Sertijab ini terjadi kenaikan pangkat pada Irjen Timur Pradopo menjadi bintang tiga (KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN)

Kapolda Metro Jaya Irjen Timur Pradopo, mengikuti upacara serah terima jabatan (sertijab) di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Senin (4/10/2010). Dalam Sertijab ini terjadi kenaikan pangkat pada Irjen Timur Pradopo menjadi bintang tiga (KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN)

Di Twitter dan Facebook, saya menulis, pencarian Kapolri yang berujung kepada Komjen Timur Pradopo mirip lagu grup band Wali berjudul “Cari Jodoh”: Timur Ke Barat Selatan Ke Utara//Tak Juga aku Berjumpa//Dari Musim Duren Hingga Musim Rambutan//Tak Kunjung aku Dapatkan.

Status itu memang terbaca seperti lelucon. Tapi bagi saya, pencarian sosok Kapolri saat ini tak ubahnya lelucon yang jauh lebih lucu (untuk menghindari istilah tidak masuk akal).

Bayangkan. Hanya dalam hitungan jam, dua nama yang sebelumnya diajukan Kapolri dan Komisi Kepolisian Nasional, yaitu Komjen Imam Sudjarwo dan Komjen Nanan Soekarna, hilang ditiup angin kepentingan; kepentingan politik dan kepentingan angkatan. Padahal keduanya sudah melalui proses seleksi internal dan lebih terjamin bebas kepentingan politik

Lalu secara mengejutkan, muncul dua nama baru yang sama sekali tidak pernah muncul dalam perbincangan sebelumnya, baik di kalangan media, pakar maupun politisi. Bahkan Jubir presiden sekalipun mengaku tidak pernah mendengarnya. Kedua nama baru tersebut adalah Kabareskrim Komjen Ito Sumardi dan Kapolda Metro Jaya Irjen Timur Pradopo.

Nama Ito mencuat pertama kali lewat kicauan Ketua Umum Anas Urbaningrum. Lewat akun Twitternya (@anasurbaningrum), Anas menulis, “Nama-nama calon Kapolri yang beredar tidak ‘diasuransikan’. Yang akan jadi adalah ‘yang tidak banyak’ diperbincangkan. Yang penting adalah yang terbaik!” Lalu Wakil Ketua DPR Pramono Anung menimpalinya dengan membeberkan ciri-ciri orang ketiga yang semuanya menjurus ke sosok Ito Sumadi.

Tapi rumor tersebut hanya berlaku sekian jam, yaitu sejak Senin pagi hingga Senin sore. Saat Kapolda Metro Jaya Irjen Timur Pradopo dipromosikan sebagai Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri dan dinaikkan pangkatnya menjadi Komjen, keanehan mulai menyeruak. Semua orang terkejut dan mengernyitkan dahi. Termasuk Timur sendiri yang mengaku terkejut jadi Komjen dadakan.

Spekulasi bahwa Timur akan menjadi calon Kapolri beredar cepat. Dan akhirnya, surat Presiden mengenai calon kapolri baru pun dibacakan oleh Ketua DPR Marzuki Alie, Senin (4/10) malam, pukul 19.20. Di surat itu hanya tertulis satu nama: Timur Pandopo.

Saya tidak peduli apa kepentingan dan pertimbangan presiden dalam menetapkan seorang Irjen sebagai Kapolri dengan cara mengangkatnya sebagai Kabaharkam agar pangkatnya naik menjadi Komjen secara instan. Walaupun sebelumnya Kapolri Bambang Hendarso Danuri sempat membantah kenaikan pangkat itu dalam rangka penetapan Timur sebagai Kapolri, semua orang mafhum sedang terjadi pengarbitan dalam proses aneh ini. Dan semuanya berlangsung secepat kilat, karena tenggat waktu presiden untuk mengajukan nama calon ke DPR memang sudah habis.

Kalau ditarik ke belakang, sepanjang 2010 ini, perjalanan karir Timur Pradopo bergulir sangat cepat. Baru menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya selama empat bulan, dia diangkat menjadi Kabaharkam Polri. Dan empat jam setelah itu, namanya sudah diterima oleh DPR sebagai calon tunggal Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

Saat ini, bola panas berada di tangan DPR yang mendapat tugas untuk menguji calon yang diajukan presiden. Artinya, lelucon berikutnya hinggap di Senayan. Bagaimana tidak lucu kalau ada ujian yang pesertanya hanya satu orang. Serendah apapun nilainya, kalau si penguji suka, maka luluslah dia. Begitu juga sebaliknya. Tidak ada kompetisi, tidak ada calon pembanding. Yang ada hanya terima atau tolak.

Mungkin banyak dari kita bertanya, mengapa presiden tidak mengajukan dua atau tiga atau empat nama sekalian? Semakin banyak nama yang diajukan semakin baik, karena kompetisi jadi semakin ketat. Tapi kalau itu terjadi, prosesnya tidak bisa selucu sekarang ini.

Nah, apakah Timur akan melanggeng bebas dalam ujian nanti? Kalau presiden tidak sedang bermain cantik, nampaknya semua kekuatan politiknya akan didorong untuk meluluskan sang calon tunggal, dan itu tidak sulit sama sekali. Tapi kalau ada agenda lain dibalik rentetan kejutan tadi, maka setelah ini akan ada lebih banyak kejutan baru–yang mudah-mudahan lebih lucu dari sekarang.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: