
smart, creative, & highly motivated. pengin jd jenderal yg tegas, cerdas, & taktis. juga ngeblog di smipresidenku.wordpress.com, mahfudsrimulyani.wordpress.com & Ganyangmalingshit.wordpress.com. Buat jaga2 klo postingan di kompasiana diapus sama admin :-)
Dibaca: 1059
Komentar: 30
Nihil
Aksi kelompok Bendera yang melempar kotoran ke kedutaan Malaysia beberapa waktu lalu sempat disesalkan oleh mantan Wapres Jusuf Kalla. “Bagaimana kalau kedutaan kita di Kualumpur juga dilempar seperti itu?” tanya Jusuf Kalla (vivanews.com).
Untuk pertanyaan Pak JK ini saya punya jawaban tegas. Kalau Kedubes RI di Malaysia dilempari sebongkah batu, kita akan balas lempari Kedubes Malaysia di Jakarta dengan 1000 batu. Kalau Kedubes RI di Malaysia dilempari kotoran, kita akan balas seribu kali lebih banyak.
Ini sikap yang sederhana dan tidak pandang takut. Kesabaran ada batasnya. Malaysia sudah sering membuat heboh Indonesia dengan perilakuknya yang sombong, tidak sopan, melecehkan, dan sama sekali tidak menunjukkan gelagat untuk menjadi tetangga yang baik. Jadi, kalau diplomasi gagal menjawab persoalan itu, dan pemerintah tidak menunjukkan sikap yang membuat Malaysia jera, jelas jawabnya adalah kreativitas masyarakat dalam bersikap.
Insiden pelemparan tai ke Kedubes Malaysia di Jakarta itu wujud kegeraman masyarakat terhadap Malaysia sekaligus simbol kekecewaan terhadap pemerintah RI sendiri. Dan ternyata insiden pelemparan tai itu ditanggapi luas di Malaysia sana (http://fokus.vivanews.com/news/read/173330-ekspresi-nasionalisme-yang-tidak-simpatik). Malaysia seperti tersentak dan mulai bereaksi lebih serius terhadap kekecewaan publik Indonesia.
Itu artinya, aksi semacam itulah yang lebih mendapat perhatian Malaysia. Kalau yang bicara Menlu atau Menkopolkam, rasanya dianggap angin lalu saja. Sebab nadanya juga begitu-begitu saja. Tetapi begitu “Diplomasi Tahi” yang bicara, gegerlah mereka. Panas juga mereka dan mulai coba menyerang balik.
Buat saya, “Diplomasi Tahi” atau diplomasi-diplomasi alternatif lainnya (baca Proposal 9: http://politik.kompasiana.com/2010/08/25/proposal-9-perang-sipil-gokil-ganyang-malingsia/) mungkin lebih efektif dan harus dilanjutkan dengan skala yang lebih besar. Untuk apa? Ini bukan saja bahasa yang paling bisa menarik perhatian media dan memancing perhatian Malaysia, tetapi sekaligus juga untuk membangunkan pemerintah yang sekarang. Bahwa, kalau diplomasi sopan tidak digubris, saatnya diplomasi alternatif dimajukan.[bersambung]