Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Hanya 1 Polisi Yang Jadi Pahlawan, Itupun Kebetulan

OPINI | 12 August 2010 | 08:20 Dibaca: 650   Komentar: 16   6

sembadaputra.blogspot

source: sembadaputra.blogspot

Yah, memang begitulah adanya. Di negeri sebesar ini yang namanya pahlawan itu tentu sangat banyak, beragam gelarnya. Mulai dari Pahlawan Perintis Kemerdekaan, Pahlawan Kemerdekaan, Pahlawan Nasional, Pahlawan Revolusi hingga Pahlawan Reformasi. Berbagai macam profesi orang-orang hebat itu ada disana, meski didominasi oleh politikus dan tentara. Namun hanya ada satu polisi yang terdaftar jadi pahlawan dan itupun hanya kebetulan. Hah, kenapa hanya ada satu polisi yang jadi pahlawan? Tidak layakkah polisi yang ikut serta berjuang setelah kemerdekaan mendapat gelar pahlawan. Entahlah.

Dulu di masa kecil, aku selalu terpesona kagum melihat polisi-polisi itu memakai seragam coklat mereka, betapa mereka sangat gagah perwira di mataku.  Aku tergila-gila dengan sosok polisi, bagiku mereka adalah pahlawan, idolaku dan aku ingin seperti mereka.

Oh, pasti semua bandit-bandit takut pada pak polisi, penjahat-penjahat habis dibasmi, pikirku ketika itu. Sungguh aku terpesona dengan kharisma mereka, sampai-sampai aku sempat bercita-cita ingin menjadi polisi meski tak pernah terwujud karena ternyata aku lebih mencintai dunia jurnalistik.

Kadang aku bersyukur juga dulu tidak ngotot ingin menjadi polisi, apalagi kondisi orang tuaku tidak punya cukup uang untuk membayar segala “administrasi” ketika akan masuk pendidikan polisi, entah itu tingkat SPN atau Akpol. Selain itu, aku juga yakin bahwa aku tidak akan pernah diterima juga dengan modal kepala yang isi otaknya sedikit ini. Tapi aku lebih bersyukur lagi ketika mengetahui kenyataan bahwa hanya satu polisi yang dijadikan pahlawan di negri ini, itupun kebetulan.

Padahal cita-citaku yang lain adalah aku ingin namaku nanti terpatri menjadi nama jalan setelah diabadikan sebagai pahlawan bangsa. Tentu jika aku jadi polisi cita-cita itu sulit tercapai, buktinya sampai saat ini hanya satu polisi yang jadi pahlawan dan itupun kebetulan. Tentu kita masih ingat pada Aiptu.Karel Sasuit Tubun, dia gugur setelah diculik oleh pasukan cakrabirawa dini hari 1 Oktober 1965 ketika kebetulan sedang berjaga di rumah Waperdam Johannes Leimena. Dia kebetulan sedang berjaga disana ketika para penculik itu hendak menyantroni rumah Menko Hankam AH Nasution. Dikarenakan dia adalah korban Gerakan 30 September, maka oleh Orde Baru dia diangkat menjadi Pahlawan Revolusi.

Nah bagaimana dengan polisi-polisi yang lain? Penasaran juga aku untuk mencari informasi tentang pahlawan-pahlawan dari kepolisian, lewat mesin pencari internet dan buku-buku ensiklopedia, tapi hasilnya nihil.

Awalnya aku berpikir, mungkin memang belum ada polisi yang menjadi pahlawan karena dulu mereka masih berada di bawah bayang-bayang TNI, saudara tuanya itu. Meski orang-orang seperti Soekanto Tjokrodiatmodjo atau Jenderal Hoegeng sangat layak mendapat gelar tersebut.

Ketika reformasi bergulir dan teriakan-teriakan anti militeristik menggema ke seantero negri, polisi melepaskan diri dari kakaknya. Berjalan sendiri tanpa adanya intervensi dari TNI lagi. Polri meski statusnya sama dengan TNI (sama-sama di bawah Presiden) tetapi untuk kebijakan anggaran Polri memiliki otoritas pengelolaan anggaran sendiri. Malah terasa lebih “bebas” dibanding saudara tuanya yang legowo berada dalam otoritas politik sebuah Kementerian.

Aha, inilah kesempatan polisi untuk menjadi pahlawan, pikirku. Inilah masanya polisi menunjukan kegagah-perwiraannya dengan penegakan hukum yang tak pandang bulu. Lakukan sekarang pak polisi, hajar para pelanggar hukum itu, tentu nanti kerjamu tak sia-sia, 10 atau 20 tahun lagi kerja kerasmu akan ditimpal dengan gelar pahlwan, dan itu bukan sebuah kebetulan. Tapi itu pikiranku yang dulu, beberapa tahun lalu ketika polisi mendapat kesempatan berpisah dari tentara.

Kalau sekarang apa masih ada polisi yang layak diberi gelar pahlawan 10 atau 20 tahun lagi..? Aku tak yakin akan ada, sama sekali tidak yakin ketika cerita cicak-buaya menjejali kuping, kisah Susno yang terpenjara sepi di markas Brimob sana, main-mainnya si Gayus dengan aparat hukum, rekening-rekening gendut para perwiramu yang tak pernah dijelaskan detail. Oh iya, yang terbaru ini lagu-lagu lama tentang kriminalisasi KPK, “Hei mana rekaman Ari Muladi dan Ade Raharja itu pak polisi ?” ternyata hanya isapan jempol.

Untung aku tidak jadi polisi di masa ini, karena aku bercita-cita menjadi pahlawan yang tercatat di lembaran negara.(**)

12 Agustus 2010

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: